KAMI dan SEUDATI in GRIFFITH UNIVERSITY AUSIE

Saat saya kuliah S2 FKM Universitas Indonesia, kami mahasiswa S2 Aceh sumber dana dari BRR Aceh berkesempatan mengikuti International Capacity Building in Public Health tanggal 18-28 Februari 2008 di Kampus Griffith University, Brisbane.

Yang cukup menarik buat saya, bahwa kami disambut tanpa acara seremonial seperti kita di Indonesia. Kami berkumpul di sebuah Cafee seperti kantin di kampus Griffith University, lalu Dekan Fakultas Kesmas Griffith University, beberapa dosen dan juga dosen pendamping kami berdiri di depan menghadap barisan kumpulan kami. Dekan Griffith University tersebut minta izin maju sedikit kedepan langsung berbicara menyampaikan kata-kata sambutan ucapan Wellcome atau selamat datang kepada kami mahasiswa S2 UI.

Kemudian saat acara farewell party atau perpisahan, juga tidak jauh berbeda. Kami diajak makan minum di Cafee atau kantin yang digunakan saat pembukaan penerimaan kami, tanpa ada acara seremonial yang “wah” seperti layaknya kita di Indonesia. Setelah kata-kata perpisahan dari Dekan, lalu bertukar cinderamata berupa plakat, kaos Griffith University, acara ditutup dengan sedikit persembahan dari kami.

Pada malam perpisahan tersebut, kami menampilkan tarian Seudati dan Saman. Tarian Seudati dimainkan oleh mahasiswa laki-laki dan tarian Saman dimainkan oleh mahasiswa perempuan.

Penampilan tarian Seudati tersebut memang kami tampilkan “ala kadar”, karena memang rekan-rekan penarinya bukan penari Seudati profesional. Kami cuma latihan beberapa hari saat kami nginap di Gold Coast. Saya melatih kawan-kawan di trotoar jalan didepan Hotel tempat kami menginap di Gold Coast, sehingga saat itu menarik perhatian semua bule-bule Australia yang lalu lalang didepan Hotel kami nginap, mereka berhenti sejenak menonton kami latihan Seudati. Begitu juga halnya dengan rekan-rekan mahasiswa yang perempuan, mereka latihan di penginapan.

Pada malam perpisahan atau farewell party, kami tampil tidak menggunakan pakaian adat khusus seudati dan Saman, karena memang tidak kita siapkan saat di Depok sebelum berangkat. Saya sendiri pakai 2 lapis baju , diluarnya saya pakai baju kaos merah Griffith University yg dibagikan saat itu, sedangkan rekan-rekan yang lain baju yg ada di badan saat itu. Sedang kan mahasiswa perempuan, mereka lebih seragam dibandingkan kami yang laki-laki. Mereka semua memakai baju hitam, jilbab putih dan kain sarung sebagai pengganti kain songket. Oh ya…2 (dua) orang dosen pendamping kami,Bu Mieke dan Bu Ella, ikut juga dalam kelompok penari Saman tersebut….

Anda mau nonton cuplikannya, silakan klik link YouTube dan jangan lupa subscribe ya ☺️👇https://youtu.be/8eD5UHE_xkE

Leave a Reply

Your email address will not be published.