Masjid Baitul ‘Ala Lil Mujahidin dan Teungku Daud Beureueh

Masjid Baitul A’la Lilmujahidin merupakan masjid yang terletak di pusat Kota Beuruenuen, Kecamatan Mutiara, Pidie. Masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Abu Beureueh ini masuk ke dalam salah satu daftar cagar budaya Indonesia yang harus dilindungi. Selain 2 (dua ) menara yang langsung berada melekat diatas bangunan masjid, saat ini telah dibangun sebuah menara besar di pojok sebelah Timur masjid.

Pada tahun 2004 masjid ini ditetapkan sebagai benda cagar budaya, situs atau kawasan yang harus dilindungi berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor KM.51/OT.007/MKP/2004. Dalam surat keputusan tersebut dituliskan, penetapan ini dilakukan oleh I Gede Ardika.

Masjid ini dibangun atas prakarsa Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tahun 1951 di atas lahan seluas 10.200 m2. Setelah dinding masjid seukuran 80 cm dan pondasi siap, pembangunan masjid sempat terhenti selama 10 tahun, karena Tengku Daud Beureueh memilih naik gunung untuk memimpin pemberontakan DI/TII di Aceh pada tahun 1953.

Teungku Muhammad Daud Beureueh

Sebelumnya, ketika Proklamasi terlambat diterima di Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureueh bersama Teungku Hasan Krueng Kalee, Teungku Jafar Siddik Lamjabat, dan Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri, pada 15 Oktober 1945, Daud menyeru dan memimpin rakyat Aceh berperang fisabilillah , membela Republik. Rakyat Aceh juga disuruhnya mendukung Presiden Soekarno sebagai pemimpin Indonesia karena “telah berdiri Repoeblik Indonesia”. Aceh waktu itu masih berperang melawan Belanda. Pada 1947 Daud ditunjuk sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo.

Pada waktu itu Dr. Tengku Mansur, di Medan, mengajak Aceh berpisah dengan RI. Tgk Daud Beureueh menolak. Dr. Mansur adalah Wali Negara Bagian Sumatera Timur, buatan Belanda.

Pada 1950, tanpa lagi berpredikat “militer”, Daud jadi gubernur Aceh pertama. Setelah tak gubernur, pada 21 September 1953, Teungku memimpin DI/TII. Peristiwa itu pecah karena Aceh dijadikan keresidenan, yang kemudian digabung dengan Provinsi Sumatera Utara. Setelah padam, 1959, berkat Misi Hardi yang waktu itu Wakil Perdana Menteri I, daerah di ujung Sumatera ini ditetapkan jadi Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Tapi di balik itu, rupanya, ada perpecahan di pucuk pimpinan DI/TII Aceh: perang diteruskan atau menerima ajakan turun gunung. Kendati sudah ada ikrar Lamteh, April 1957, Teungku belum mau turun. Ia bertahan dengan ideologi Islamnya. Karena belum dilihatnya ada kemauan RI memenuhi tujuan Dl.

Karena status provinsi dikembalikan untuk Aceh, dan Daud ngotot tak mau turun, terjadi kup oleh Dewan Revolusi yang digerakkan trio Hasan Saleh, Gani Usman, dan Teungku Amir Husin Al-Mujahid. Menteri Urusan Perang DI/TII, Hasan Saleh, melihat tak mungkin perang dilanjutkan. Kekuatan senjata sudah tak berimbang. Daud Beureueh ingin perang jalan terus. “Kalau berperang terus, penduduk Aceh juga bisa habis ” kata Mujahid. Ia diangkat sebagai “wali negara” mengantikan Beureueh.

Mereka turun gunung, 25 Mei 1959, dan berunding dengan Misi Mr. Hardi. Setelah pengikutnya berkurang, Teungku Beureueh, 9 Mei 1962, akhirnya turun gunung. Kolonel M. Yasin, waktu itu Panglima KDMA, sangat membantu Teungku agar kembali ke pangkuan pertiwi.

Berbeda dengan gerakan Kahar Muzakkar serta Kartosuwirjo. Dengan ketetapan Presiden RI No: 180/1959 Daud Beureueh bersama pengikutnya tak diuber-uber, tetapi mendapat amnesti dan abolisi. Pada 5 Oktober 1969 pangkatnya dinaikkan menjadi letnan jenderal (Tituler), sampai ia dipensiunkan.

Usai pemberontakan reda, Teungku Muhammad Daud Beureueh kembali mengajak masyarakat untuk melanjutkan pembangunan masjid Baitul A’la yang sempat tertunda itu. Pada tahun 1963, masyarakat Pidie dan luar Pidie mengumpulkan bantuan untuk pembangunan masjid tersebut.

Juga pada 1963, Abu turun langsung, bahu-membahu, bersama ribuan masyarakat untuk mengerjakan proyek irigasi sepanjang 17 kilometer dengan lebar 2, 5 meter dan kedalamannya 1, 5 meter. “Satu sen pun pemerintah tidak mengeluarkan dana untuk proyek yang diperkirakan senilai Rp 100 juta ini (sekitar USD 100 ribu dengan kurs zaman tersebut),” demikian tulis Nezar dkk. “Selain membuat saluran irigasi, Abu juga bekerja bakti membuat jalan dari Lampoh Saka ke Langkawi (Kecamatan Kembang Tanjong) sepanjang 12 kilometer.”

Pada tahun 1964, tepat pada Hari Raya Idul Fitri tahun tersebut, 7000 jamaah memadati Masjid Baitul A’la Lilmujahidin, Beureunuen. Itu adalah tahun ketiga Teungku Muhammad Daud Beureueh menjadi imam dan khatib Salat Idul Fitri setelah ia turun gunung pada 1961.

“Tak ada yang bernilai dan yang baik dapat diperoleh tanpa perjuangan. Melalui perjuangan kita belajar dan oleh sebab itu kita mampu menguasai cita-cita kita,” kata Teungku Muhammad Daud Beureueh, sebagaimana dikutip dari The Rope of God.

James T Siegel, dalam The Rope of God, juga menuliskan, pada akhir khutbahnya, Teungku Muhammad Daud Beureueh berujar, “Ingat, Anda orang Aceh, negeri bangsawan yang mewarisi semangat Teungku Tjihk di Tiro. Jangan khianati bangsamu tapi berbaktilah.”

Pada Mei 1978, Abu Beureueh diasingkan ke Jakarta oleh Pemerintah Orde Baru, yang sebagaimana dikutip dari Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak, untuk mencegah karismanya menggelorakan perlawanan rakyat Aceh”, dua tahun setelah Hasan Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Gunung Halimon.

Sebelum mendeklarasikan kemerdekaan Aceh dengan nama gerakan ACEH MERDEKA, Hasan Tiro meminta restu dari Tgk Daud Beureueh. Lalu Kemerdekaan Aceh pun diproklamasikan pada 4 Desember 1976. Jakarta berang dan segera mengirim pasukan. Dalam sekejap pasukan Hasan Tiro terdesak, lalu bergerilya di gunung dan hutan. Namun para petinggi Republik paham betul, roh perlawanan Aceh yang sesungguhnya ada dalam diri Daud Beureueh.

Keputusan pun diambil. Legenda hidup itu harus diceraikan dari gemuruh pemberontakan Hasan Tiro. Sebuah tim khusus lalu dikirim ke Aceh untuk membawa Daud Beureueh ke Jakarta, pada 1 Mei 1978. Dipimpin oleh Sjafrie Sjamsoeddin-Kepala Dinas Penerangan TNI-para utusan tiba di kediaman Abu Daud tak lama seusai salat subuh.

Dikisahkan Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh, tim Sjafrie meminta kesediaan sang Teungku untuk ikut bersama mereka ke Jakarta. “Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding terlibat aksi Komando Jihad,” kata salah seorang anggota rombongan itu.

Peristiwa ini disaksikan langsung Teungku Nya’ Aisah, istri ketiga Daud Beureueh. Karena sudah tua, sakit-sakitan pula, Daud Beureueh berkeberatan dibawa ke ibu kota Republik.

Dengan santun ia menjawab, “Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja.” Tapi tim Sjafrie berkeras.

Masih menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan Daud Beureueh. Salah satunya sigap menyuntikkan obat bius. Tapi, karena sang Teungku keras memberontak, jarum suntik pun patah

“Darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud,” kata Nur. Daud Beureueh yang sudah terkulai lemas lalu dilarikan dengan jip menuju helikopter yang sudah disiagakan. Ia pun dibawa ke Medan, lalu ke Jakarta.

Menurut Nur Ibrahimy, alasan menjadi saksi dalam perkara Komando Jihad itu cuma dalih untuk membawa paksa Abu Daud keluar dari tanah Aceh. Sjafrie Sjamsoeddin mengakui memang dialah yang memimpin tim untuk “mengambil” Daud Beureueh.B“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujarnya. Tapi, menurut versi Sjafrie, ketika itu Abu Daud tak sempat melawan, juga tak ada kekerasan berarti, karena obat bius yang disuntikkan cepat bekerja.

Jenderal bekas Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan penjemputan pemimpin karismatik Aceh ini memang dilandasi kekhawatiran bahwa Daud Beureueh akan kembali naik gunung menyokong Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sedang sengit-sengitnya digelorakan Hasan Tiro.
Saat itu perlawanan gerilya Hasan Tiro memang telah merasuki sebagian rakyat Aceh. Dari hutan, mereka gencar menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dan perusahaan asing yang beroperasi di Aceh.

Tahun 1982, kembali ke Aceh setelah masa pengasingan di Jakarta, Hingga ajal menjemput, dia menempati sebuah bilik papan di samping Masjid A’la Lilmujahidin, Beureunuen Aceh, masjid yang dibangunnya pada tahun 1963,” tulis Nezar Patria dkk dalam buku Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak (2016).

Sejak 1972, suami 3 istri dan ayah 13 anak ini menderita diabetes dan paru-paru basah. Pada 1985 kakek 40 cucu ini jatuh dari tempat tidur. Engsel pinggulnya tergeser. Sembari berbaring di ranjang itu, Teungku menerima tamu-tamu penting.
Walau begitu, semangatnya tak pernah pudar. Dalam keadaan selalu terbaring di tempat tidur ia tetap menerima tamu dari berbagai kalangan: pejabat pemerintah, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau petani yang sekadar ingin mencium tangannya.

Sikap kritisnya terhadap pemerintah pusat pun tak lumer. Berkali-kali dia mengirim surat ke Presiden Soeharto, mengingatkan kian merebaknya kemerosotan moral di Serambi Mekah. Ia baru menyerah ketika ajal datang menjemput pada tanggal 10 Juni 1987.

Almarhum yang lebih dikenal dengan panggilan Abu (ayah) tersebut, me sekitar pukul 20.30 WIB Rabu, jenazahnya dibawa dari Banda Aceh ketempat kelahirannya di kawasan Beureunuen tersebut.

Dalam acara pemakaman tokoh yang paling berbobot di Aceh itu, bertempat dikomplek mesjid Baitul A’la Lilmujahidin Beureunuen yang dibangun almarhum dihadiri Wakil Gubernur Aceh H. Syah Asyik, Muspida tingkat I Aceh, Muspida tingkat II Pidie, tokoh masyarakat Aceh yang berdomisili di Medan dan Jakarta serta ribuan masyarakat Aceh menyaksikan acara pemakaman setelah dishalatkan di mesjid Baitul A’la Lilmujahidin tsb.

Almarhum meninggalkan beberapa orang anak dan sejumlah cucu yang saat ini tersebar di pulau Sumatera dan Jawa, bekerja diberbagai bidang usaha dan dipemerintahan.

Almarhum bekas gubernur propinsi Aceh pertama itu meninggal dunia di RSU Zainoel Abidin Banda Aceh, setelah mendapat perawatan yang intensif selama tiga hari. Wagub pada acara pemakaman menyatakan Almarhum semasa hayatnya, selalu menyumbangkan segala tenaga dan pikirannya tanpa pamrih demi kepentingan nusa bangsa dan agama.

Almarhum merupakan seorang pejuang yang cukup tangguh, tidak pernah kenal lelah dan pantang berputus asa, demi meningkatkan martabat dan harkat masyarakat Aceh dan umat Islam pada umumnya, ujar Wagub.

Dari Jakarta, Presiden Soeharto mengirim karangan bunga dan kawat khusus duka cita. Jasad Teungku Daud Beureueh, bersama segenap impiannya tentang masa depan Aceh, dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunuen, sebagaimana yang ia minta.

Teungku Muhammad Daud Beureueh lahir di Beureu’eh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, pada 23 September 1899. Ayahnya bernama Ahmad, dan ibunya bernama Aminah. Muhammad Daud tidak mengenyam pendidikan formal (sekolah) secara mutlak. Ia lebih banyak menempuh pendidikan di dayah (pesantren) tradisional. Namun, Muhammad Daud pernah menempuh pendidikan di Government Inlandsche School (setingkat Sekolah Dasar), Seulimuem, Aceh Besar. Kendati demikian, ia mampu memahami huruf latin dan membaca dengan baik. Bahkan, pada tahun 1931 ia mendirikan Madrasah Sa’adah Abadiah di Sigli, yang pada masa itu sangat tersohor di Aceh.

Pada makam Tengku Daud Beureueh dibelakang, arah kiblat masjid, terdapat batu nisan bertuliskan: Tgk. Muhammad Dawud Beureu’eh, Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 September 1899). Wafat Rabu 14 Zulqaidah 1407 (10 Juni 1987).

Makam Tgk Muhammad Daud Beureueh

Jejak Pemikiran Abu Beureueh

Abu Beureueh merupakan ulama progresif. Analisis sosial yang dimilikinya selama ia hidup tidak berangkat dari ruang kosong, tetapi dari buku-buku yang dikirimkan kakak dan pamannya yang bersekolah di perguruan tinggi di Mesir.

Abu tak bisa baca-tulis bahasa Indonesia, namun ia fasih baca-tulis bahasa Arab.

Di samping itu, adalah Teungku Abdul Hamid atau Ayah Hamid yang juga menjadi mentor politik bagi Abu Beureueh.

“Dia (Ayah Hamid-red) memang agak sosialis, antifeodalisme,” tutur menantu Abu Beureueh, El Ibrahimy, sebagaimana dikutip dari Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak (2016).

Abdul Hamid adalah anggota Syarikat Islam (SI), organisasi yang didirikan oleh Hos Cokroaminoto. Pada 1928, terjadi pemberontakan di Padang yang dipelopori Tan Malaka, yang memimpin SI Merah.

Akibatnya, semua orang SI dikejar, tidak peduli dia SI Merah atau SI Putih, termasuk Ayah Hamid yang mula-mula lari ke Malaysia lalu menetap di Arab.

“Dari Arab, Hamid menulis pemikiran-pemikirannya mengenai perlunya pembaruan pendidikan di Aceh. Dia menulis dengan bahasa Arab, diselipkan ke sela-sela surat kabar dari Arab. Lalu dia titipkan kepada Jemaah haji asal Aceh yang hendak pulang,” tulis Nezar Patria dkk.

Atas masukan-masukan Ayah Hamid, Abu lantas merombak sistem pesantren di Aceh. Pada 1930, ia mendirikan Madrasah Sa’dah Abadiah di Blang Paseh, madrasah dengan sistem pendidikan modern pertama di Aceh. Di sekolah ini kelak Hasan Tiro, sang deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), juga ikut mengenyam pendidikan dasar.

Dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Ikon Perlawanan Orang Aceh”, Otto Syamsuddin Ishak menuliskan, “Abu Beureueh sepenuhnya hasil pendidikan Aceh yang tradisional. Namun, ia menjadi seorang ulama yang memulai gerakan modernisasi dalam sistem pendidikan Agama. Apalagi, Abu Beureueh didampingi sejumlah kaum muda yang merupakan lulusan dari sekolah agama di Padang, yakni Sumatra Thawalib.”

Tgk Daud Beureueh bersama Bung Hatta

PUSA dan DI/TII

Gagasan-gagasan atau ide untuk
melakukan pembaharuan diawali dengan sepucuk surat yang dikirim Syekh Abdul Hamid Samalanga dari Mekkah kepada Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap yang isi suratnya seputar informasi kemajuan Ikhawnul Muslimindi Mesir dan ajakan memajukan pendidikan di Aceh.

Sehingga pada suatu hari Tgk. Abdurrahman suatu hari menghadiri sebuah acara kenduri di Blang Jruen Aceh Utara yang disambut oleh Tgk.Ismail Ya‟kub. Keduanya terlibat pembicaraan mengenai ide untuk mendirikan sebuah organisasi ulama sebagai wadah untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Aceh serta dapat mempersatukan pengurusan madrasah-madrasah yang ada.

Sepulang dari Blang Jruen, Teungku Abdurrahman menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Teungku Ismail Yakub kepada kawan-kawan dan pengikutnya di Matang Glumpang Dua, terdapat diantaranya adalah Tgk. Usman Azis (alumnus Thawalib Padang) yang juga merupakan seorang guru Madrasah Al-Muslim Peusangan.

Setelah mendengarkan hasil pembicaraan tersebut, mereka sepakat menyebarkan ide pembentukan organisasi Ulama tersebut ke seluruh daerah di Aceh.
Penyampaian ide tersebut diterima baik oleh Tgk. Muhammad Daud Beureu‟eh.

Setelah penyebaran berita mengenai pembentukan organisasi ulama telah dilakukan, Tgk. Abdurrahman mengundang Ulama yang terkemuka di Aceh untuk menghadiri musyawarah antar Ulama yang dilangsungkan pada tanggal 5 Mei 1939 di Matang Glumpang Dua sekaligus ditetapkan secara resmi
lahirnya PUSA.

Sebuah organisasi kedaerahan yang bernama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) didirikan di Aceh, sebagai hasil keputusan musyawarah ulama seluruh Aceh yang diadakan pada tanggal 5-8 Mei 1939 di kampus Madrasah Almuslim Peusangan, Matang Glumpang Dua, Bireuen.

Teungku Muhammad Daud Beureueh terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) dalam Musyawarah Besar Alim Ulama yang diadakan di Peusangan (Bireuen) tersebut.

Dari PUSA inilah selanjutnya tumbuh menjadi Majelis Ulama Aceh (MUlA) dan akhirnya berkembang menjadi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diadopsi oleh Pemerintah Indonesia.

Lahirnya PUSA telah merubah warna baru bagi masyarakat Aceh, yaitu kemajuan di berbagai bidang terutama dalam bidang pendidikan. Organisasi PUSA memandang bahwa ilmu agama dan umum kedua-duanya sama-sama penting bagi kemajuan umat manusia.Kalau lembaga pendidikan dayah lemah
dalam pengetahuan umum dan sekolah umum lemah dalam pengetahuan Agama, maka PUSA memandang perlu penggabungan (konvergensi) kurikulum dayah yang mementingkan pendidikan agama dengan kurikulum sekolah umum yang hanya mengajarkan
pengetahuan umum. Kurikulum dan silabus madrasah-madrasah yang ada di Aceh waktu itu ternyata tidak memiliki keseragaman.

Hal ini menurut PUSA akan menyulitkan bagi pelajar-pelajar yang ingin pindah dari satu madrasah ke madrasah lainnya. Sementara upaya penyeragaman kurikulum dan silabus madrasah yang ada di Aceh dimaksud terbentur pada tidak adanya tenaga-tenaga guru siap pakai. Maka didirikanlah Normal Islam Institut di Bireuen sebagai sekolah guru yang bertujuan untuk menghasilkan guru-guru yang akan mengajar di berbagai madrasah yang tersebar di seluruh Aceh, singkatnya agar kurikulum madrasah dapat diseragamkan.

Selain itu, PUSA juga yang menggalang kekuatan rakyat untuk menghadang agresi Belanda I dan II, juga ikut mengeksekusi gagasan Soekarno dalam kerja-kerja penghapusan kekuasaan dan budaya feodalisme yang menjadi penopang pendudukan Hindia-Belanda. Istilah saat itu: gayang imprealisme dan gayang feodalisme. Itu adalah semangat zaman kala itu. Di samping itu, penghapusan “dua istilah itu” juga didorong sentimen PUSA-Uleebalang di masa-masa pendudukan Belanda dan Jepang di Aceh.

Hubungan Soekarno dengan Aceh memburuk konon setelah Perdana Menteri Pemerintah Republik Indonesia Ali Sastroamidjojo disebut-sebut mengirimkan dokumen rahasia berupa les hitam yang berisikan rencana pembunuhan 300 tokoh penting Aceh.

“Tapi tak ada yang bisa memastikan keberadaan dokumen itu,” demikian dikutip dari buku Daud Beureueh Pejuang Kemerdekaan yang Berontak (2016).

Kemudian Divisi X TNI di Aceh juga ikut dibubarkan pada 23 Januari 1951. Terakhir, status Provinsi Aceh dicabut. Alasan-alasan itulah yang mendorong Abu Beureueh menggumumkan perang kepada Pemerintahan Soekarno, di bawah bendara DI/TII.

Pak AR (Ketua Muhammadiyah) dan Tgk Daud Beureueh

Kyai Haji Abdul Rozak atau juga dikenal dengan nama A.R. Fachruddin atau Pak A.R. adalah seorang tokoh Islam Indonesia yang pernah menjadi ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah. Dia menjadi pemegang rekor paling lama dalam memimpin Muhammadiyah yaitu selama 22 tahun (1968-1990).

A.R. Fachruddin lahir pada tanggal 14 Februari 1916 di Kulonprogo, Yogyakarta. Ayahnya, K.H. Fachruddin adalah seorang Lurah Naib atau Penghulu di Puro Pakualaman yang diangkat oleh kakek Sri Paduka Paku Alam VIII sementara ibunya bernama Maimunah binti K.H. Idris adalah keturunan Raden Pakualaman.

Saat Pak AR (panggilan akrab AR Fachruddin) berangkat sidang Musywil (Musyawarah Wilayah) Muhammadiyah se-Indonesia di Kutaraja mewakili Buya Sutan Mansur pada tahun 1953, situasi sedang panas. Pecah konflik antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Tengku Muhammad Daud Beureueh yang mengangkat senjata karena merasa tidak puas dengan kebijakan Presiden Soekarno. Meskipun demikian Muhammadiyah di Aceh aman-aman saja, tidak dimusuhi. Sebab yang ditentang oleh Abu Daud adalah pemerintah pusat.

Ketegangan bersenjata terus terjadi. Tapi Pak AR nekad hendak bertemu Daud Beureureh yang sangat terkenal di Kutaraja. Pak AR meminta tokoh-tokoh Muhammadiyah Kutaraja agar membantunya bertemu dengan Daud Beureueh. Keinginan beliau membuat mereka kaget. Mereka menyarankan agar Pak AR membatalkan niatnya. Permintaan beliau dinilai dapat membahayakan di beliau dan mengundang kecurigaan pemerintah pada Muhammadiyah.

Kendati keinginannya berulang kali ditolak, Pak AR tidak patah arang. Beliau bersikukuh keras agar tokoh-tokoh Muhammadiyah di Kutaraja mau membukakan jalan bagi beliau untuk bertemu Daud Beureureh. Pak AR ingin tahu secara langsung mengapa Tgk Daud Beureureh mengambil pendekatan bersenjata. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Pak AR berhasil meluluhkan hati para tokoh-tokoh Muhammadiyah di Kutaraja.

Tgk Daud Beureureh malah senang bertemu dengan Pak AR. Bahkan, Daud memerintahkan utusannya menjemput Pak AR dengan sebuah mobil Jeep berwarna putih. Pak AR dibawa masuk ke dalam hutan yang menjadi persembunyian Tgk Daud dan pasukannya.

Menurut Syukrianto, Daud Beureureh kecepada perlakuan tidak adil Pemerintah Indonesia terhadap rakyat Kutaraja, yang selama perang kemerdekaan berjuang mati-matian membela bangsa Indonesia, tetapi justru malah diabaikan setelah Indonesia merdeka.

Pertemuan rahasia antara Pak AR dan Daud Beureueh itu berlangsung kurang lebih satu jam. Meski keduanya memiliki pendapat yang berbeda. Tetapi, keduanya bisa saling memahami. Daud tetap pada pendirian dan keputusannya, tetapi menghormati pilihan damai Pak AR dan Muhammadiyah. Pak AR juga paham dengan situasi dan kondisi mengapa Sang Tengku mengangkat senjata melawan Pemerintah Indonesia.

Semula Pimpinan Muhammadiyah Aceh agak keberatan, karena khawatir dicurigai oleh tentara (pemerintah). Tetapi akhirnya dengan sangat hati-hati menyetujui permintaan Pak AR dan mengusahakannya. Rupanya Abu Daud tidak keberatan bahkan beliau mengirim utusan dan sebuah jeep putih untuk menjemput Pak AR. Tentu saja di sebuah tempat yang dirahasiakan.

Dengan jeep itu Pak AR dibawa ke pedalaman untuk bersilaturrahmi dengan Abu Daud. Setelah lebih kurang bertemu satu jam bersilaturahmi dengan Abu Daud, Pak AR diantar kembali ke Kutaraja. Kesimpulan pembicaraan dalam silaturahmi itu Pak AR bisa memahami argumen Abu Daud mengapa melakukan perlawanan terhadap pemerintah RI, dan Abu Daud bisa memahami perjuangan Muhammadiyah.

Percakapan Soekarno dengan Teungku Daud Beureueh

Jauh sebelum NKRI berdiri, Aceh Darussalam telah berdaulat sebagai sebuah kerajaan merdeka dan bahkan menjadi bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah. Hal ini sungguh-sungguh disadari Soekarno sehingga dia mengajak dan membujuk Muslim Aceh untuk mau bergabung dengan rakyat Indonesia guna melawan penjajah Belanda.

Saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, yaitu Daud Beureueh. Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan “Kakanda (kakak)” dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah :

Presiden Soekarno : “Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telahkita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus1945.”

Daud Beureueh : “Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asalsaja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”

Presiden Soekarno : “Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yangseperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”

Daud Beureueh : “Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.”

Presiden Soekarno : “Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.”

Daud Beureueh : “Maafkan saya Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden.”

Presiden Soekarno : “Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.”

Daud Beureueh : “Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden) sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.”

Daud Beureu’eh Mendengar ucapan Daud Beureueh itu Bung Karno langsung menangis terisak-isak. Airmata yang mengalir telah membasahi bajunya. Dalam keadaan sesenggukan,

Soekarno berkata, : “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden. Apa gunanya menjadi presiden kalau tidak dipercaya.”

Dengan tetap tenang, Daud Beureueh menjawab, “Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi sekadar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang.”

Sambil menyeka airmatanya, Bung Karno mengucap janji dan bersumpah, Bung Karno bersumpah : “Waallah Billah (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan Waallah, saya akan pergunakanpengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam didalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?

”Daud Beureueh menjawab, : “Saya tidak ragu Saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.”

Dalam suatu wawancara yang dilakukan M. Nur El Ibrahimy dengan Daud Beureueh, Daud Beureueh menyatakan bahwa melihat Bung Karno menangis terisak-isak, dirinya tidak sampai hati lagi untuk bersikeras meminta jaminan hitam diatas putih atas janji-janji presiden itu.

Tgk Daud Beureueh dan Soekarno shalat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Soekarno mengucapkan janji tersebut pada tahun 1948. Setahun kemudian Aceh bersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI. Namun pada tahun 1951, belum kering bibir mengucap, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara.Jelas, ini menimbulkan sakit hati rakyat Aceh. Aceh yang porak-poranda setelah berperang cukup lama melawan Belanda dan kemudian Jepang, lalu menguras dan menghibahkan seluruh kekayaannya demi mempertahankan keberadaan Republik Indonesia tanpa pamrih, oleh pemerintah pusat bukannya dibangun dan ditata kembali malah dibiarkan terbengkalai.

Bukan itu saja, hak untuk mengurus diri sendiri pun akhirnya dicabut. Rumah-rumah rakyat, dayah-dayah, meunasah-meunasah, dan sebagainya yang hancur karena peperangan melawan penjajah dibiarkan porak-poranda. Bung Karno telah menjilat ludahnya sendiri dan mengkhianati janji yang telah diucapkannyaatas nama Allah. Kenyataan ini oleh rakyat Aceh dianggap sebagai kesalahan yang tidak pernah termaafkan.Mohammad Said, Pengarang Buku “Aceh Sepanjang Abad Jilid Ke Dua”

Video singkat Masjid Baitul A’la Lilmujahidin :

Referensi :

https://sinarpidie.co/news/melihat-aceh-dari-kubah-masjid-baitul-a-la-lilmujahidin-melihat-aceh-dengan-peta-dunia/index.html

https://sinarpidie.co/news/penggalan-khutbah-teungku-daud-beureueh-di-masjid-baitul-a-la-lilmujahidin-beureunuen/index.html

https://steemit.com/architecturalphotography/@oskarpotret/baitul-a-ala-mosque-lil-mujahedeen-mesjid-abu-daud-beureueh

https://news.detik.com/berita/d-2948165/kisah-segenggam-beras-dan-telur-dalam-pembangunan-masjid-abu-beureueh

https://majalah.tempo.co/read/nasional/29545/abu-daud-di-tengah-kontroversi

https://baranom.wordpress.com/2014/10/30/abu-daud-beureueh-sang-pelopor-egaliterianisme-di-aceh/

https://tuloblang.blogspot.com/2014/05/masjid-abu-daud-beureueh.html?m=1

https://www.ejurnalunsam.id/index.php/jsnbl/article/download/557/411

https://soeharto.co/jenazah-daud-beureueh-di-makamkan-di-tempat-kelahirannya-beureun-sigli/

https://www.suaramuhammadiyah.id/2016/07/19/pak-ar-daud-beureuh-dan-kahar-muzakar/

https://achehmedia.wordpress.com/2015/04/28/kisah-tgk-daud-beureueh-yang-dikhianati/

http://www.umm.ac.id/id/muhammadiyah/19605.html

https://www.portal-islam.id/2018/03/jas-merah-percakapan-presiden-soekarno.html?m=1

1 thought on “Masjid Baitul ‘Ala Lil Mujahidin dan Teungku Daud Beureueh

Leave a Reply

Your email address will not be published.