Kisah PT Takabeya Perkasa Group

Tahun 2004, CV Takabeya semakin gemilang di dunia kontraktor. Mukhlis pun kemudian mendirikan PT Takabeya Perkasa Group dengan berbagai perusahaan komanditer atau Commanditaire vennootschap (CV) di bawah bendera Takabeya seperti CV Gelsi Mulya dan CV BOS TP. Di deretan perseroan terbatas dia menambah kehadiran PT Bayu Perkasa, PT Wahyu Sentosa, PT Kota Metro Dolar, PT Putra Perkasa Aceh, dan beberapa lainnya.

Sebagai grup perusahaan yang bergerak pada dunia konstruksi, PT Takabeya Perkasa Group telah mempekerjakan ratusan tenaga kerja di berbagai bidang keahlian. Mukhlis juga mengkader beberapa keluarganya di level pimpinan perusahaan seperti Ilham Akbar, yang ia percaya sebagai direktur salah satu unit usahanya. Pada Pemilu Legislatif 2019, Ilham Akbar lolos ke parlemen Aceh sebagai wakil rakyat dari Partai Golkar. Terpilihnya Ilham sebagai wakil rakyat juga berkat kerja keras seluruh tim Takabeya yang dipimpin oleh Mukhlis.

Saat ini PT Takabeya Perkasa Group telah memiliki pabrik terpadu di kawasan Gampong Keude Tambu, Simpang Mamplam, Bireuen. Di pabrik yang berdiri di atas lahan seluas enam hektare tersebut, dibangun tiga pabrik, masing-masing pabrik stone crusher (pemecah batu) dengan kapasitas produksi 100 ton/ jam. Pabrik tersebut dibangun tahun 2007. Lalu pabrik asphalt mixing plant (AMP) atau unit produksi campuran beraspal yang berkapasitas 1.000 kg/het.

Terakhir pabrik batching plant atau pengolahan beton dengan kapasitas produksi 60 ton/jam. Kawasan pabrik terpadu tersebut diresmikan pada Minggu, 22 September 2019. Dipeusijuek (tepung tawar) oleh ulama Aceh Teungku H. Muhammad Amin (Tu Min) Blangblahdeh. Peresmian pabrik tersebut dihadiri oleh seribuan tamu undangan, anak yatim, dan insan pers.

Selain itu, PT Takabeya Perkasa Group juga telah memiliki 80 unit alat berat berupa ekskavator, buldoser, grider, compector, tandem rider, serta ragam peralatan kerja lainnya. Di kompleks pabrik terpadu itu Takabeya juga memiliki unit laboratorium.

Di kantor induk Takabeya Perkasa Group di kawasan Meunasah Blang, Kecamatan Kota Juang, Bireuen, Mukhlis juga membangun bengkel dan pergudangan.

Awal Mula Takabeya

Mukhlis dan Sadriah merupakan pasangan serasi. Mereka memiliki semangat yang sama dalam mengejar impian. Dalam banyak hal mereka selalu segendang dan sepenarian. Sejak menikah dengan Sadriah, Mukhlis sudah mulai bercita-cita membangun perusahaan konstruksi milik sendiri. la memiliki kemampuan teknik dan manajerial.

Pada tahun 2000, Mukhlis memutuskan membangun CV Takabeya. Nama tersebut terilham dari salah satu metode analisis struktur yang ada dalam ilmu arsitektur. Mukhlis sangat menyukai analisis struktur model “Takabeya”. Nama ini diambil dari nama penemunya, seorang ahli dari Jepang, Takabeya.

Di awal mendirikan CV Takabeya, Mukhlis bersama istrinya bekerja siang dan malam. Mereka mengikuti tender dari Dinas Kesehatan Aceh Utara, Dinas Kesehatan Lhokseumawe, juga paket-paket penunjukan langsung. Awalnya bukan di bidang konstruksi, tapi pemasok alat-alat kebutuhan rumah sakit seperti alat kesehatan, kasur, selimut, sprai, dan sebagainya.

Saat mendirikan Takabeya, Mukhlis masih bekerja pada Saifannur. Di paruh waktu dia juga meminta bantuan agar diberikan proyek dari pemerintah. Pimpro Kimpraswil Aceh Utara Razuardi Ibrahim orang pertama yang memberikan paket-paket kecil kepada Mukhlis. Berkat ketekunannya, Mukhlis selalu berhasil mengerjakan proyek yang didapatnya sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu.

Ketika mendapatkan paket pengadaan seprai rumah sakit dari RS Cut Meutia, Sadriah membantu Mukhlis siang dan malam. Sadriah yang memiliki kemampuan menjahit, mengerjakan sendiri pembuatan seprai itu. Ketika memenangkan pengadaan gorden juga demikian. Sadriah menjahitnya sendiri. Paket paling monumental yang pernah dimenangkan oleh Takabeya kala awal merintis usaha adalah pengadaan kartu rekam medis (kartu riwayat berobat). Mereka mendapatkan banyak untung.

Dari akumulasi keuntungan tersebut, Mukhlis kemudian membeli satu unit truk jungkit atau dump truck besar. Saat ia hendak membeli dump truck, Sadriah sempat merengek agar Mukhlis membelikan minibus, supaya mereka bisa bepergian dengan nyaman. Mukhlis menggeleng. Baginya keuntungan awal harus dimasukkan ke dalam modal dan harus dibelanjakan untuk sesuatu yang produktif dan memiliki hubungan langsung dengan usaha yang ingin dilakukan. Sadriah mengalah, dia sepakat dengan penjelasan Mukhlis.

Menghindari Kredit Bank

Ibarat candu, bagi pelaku dunia usaha, bank adalah “perempuan cantik” yang harus dilirik. Modal yang dimiliki oleh bank, merupakan salah satu sumber pendanaan yang potensial. Walau suku bunga yang dibebankan sangat tinggi, tapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap berhubungan dengan Bank.

Mukhlis memiliki cara pandang berbeda. Dia melihat bank bagian dari masalah dalam membangun usaha Suku bunga yang tidak fair adalah sumber masalah utama, konon lagi ditambah dengan berbagai peraturan yang dibuat bank secara sepihak. Dalam pikiran Mukhlis, jika ia serius ingin menjadikan Takabeya sebagai perusahaan besar, maka salah satu yang harus di-black list dalam daftar sebagai mitra adalah bank.

Ketika berurusan dengan bank untuk urusan permodalan, secara sadar kita telah memasang jebakan di leher. Jebakan itu kemudian akan ditarik perlahan-lahan hingga tanpa menjerat leher sendiri. Demikian Mukhlis mengilustrasikan bahayanya berhubungan dengan bank.

Lalu dari mana Mukhlis mendapatkan modal? Pertama dia menggalang kekuatan internal di dalam keluarga. Pihak pertama yang memberikan utang adalah keluarga istrinya. Mertuanya bukan saja memberikan pinjaman uang, melainkan turut mencarikan utang, dengan jaminan Mukhlis akan membayar tepat waktu.

Mukhlis juga berhemat. Seirit mungkin dia akan menjaga pengeluaran dan mengamankan keuntungan. Setiap keuntungan yang didapat, bukan untuk dinikmati, tapi akan diakumulasikan sebagai modal baru. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Dari puluhan juta, menjadi ratusan, hingga asetnya mencapai miliaran.

Semua keuntungan yang didapat akan dijadikan sebagai modal baik berupa uang segar maupun peralatan pendukung pekerjaan Di awal membangun Takabeya, dari beberapa keuntungan dia berhasil membeli dua unit dump truck. Bahkan ketika bepergian untuk urusan pekerjaan, dia sering menumpang truck tersebut.

Hikmah dari upaya keras menghindari kredit bank, kini dirasakan oleh Mukhlis. Dari hanya memiliki 10 karyawan di masa-masa awal merintis usaha, kini Takabeya memiliki 200 karyawan. Dari awalnya bekerja dengan menyewa alat dari perusahaan lain, kini bekerja dengan peralatan sendiri yang sangat lengkap.

Menyewa Rumah Sederhana

Ketika mengawali membangun Takabeya, Mukhlis menyewa sebuah rumah sederhana di depan meunasah Gampong Cot Meurak, Kecamatan Juli, Bireuen. Rumah tersebut tanpa perabotan. Mukhlis mengatakan kepada Sadriah tidak perlu membeli perabotan. Hal yang paling penting untuk dibeli adalah peralatan memasak. Untuk memangkas biaya operasional, para pekerjanya sarapan dan makan malam di rumah Mukhlis. Masak sendiri, walaupun dalam jumlah besar akan lebih murah. Sebagai pengusaha dia harus mempertimbangkan segalanya secara efisien.

Sebagai perempuan, Sadriah tentu tidak maurumahnya kosong melompong tanpa perabotan apa pun. Makanya dia turut membawa tempat tidur, meja Oshin, dan selembar ambal dari Lhokseumawe. Sedangkan untuk alas tidur para karyawan, mereka membeli tikar plastik yang digelar di ruang tengah.

Sumber : Biografi MUKHLIS TAKABEYA, Petarung Dari Selatan, ditulis oleh Muhajir Juli, Penerbit : Kawat Publishing

Leave a Reply

Your email address will not be published.