Syeikh Nuruddin Ar-Raniri : Jalan Tarekat Ar-Raniri (Bagian 4)

Kegigihan Nuruddin dalam memberantas paham wujudiah adalah konsekuensi logis dari penalarannya dalam bidang teologi. la terkenal seorang ortodoks dan memiliki semangat tinggi dalam menjaga kemurnian akidah. Dalam karyanya, Siratal Mustaqim, seakan Nuruddin berkomentar dengan nada sinis tentang hikayat Indrapatra. Menurutnya, seperti juga hikayat Serirama, hikayat ini dapat dipakai hanya sebagai jamban, oleh karena di dalamnya nama Allah tidak disebut-sebut (Braginsky, 1998: 293).

Syeikh Nuruddin adalah ulama fiqih dalam mazhab Asy-Syafi’i. Sedang dalam bidang tarekat ia dikenal sebagai pengikut paham rifa’iah. Tarekat ini merupakan salah satu tarekat masyhur di antara tarekat-tarekat yang telah dimuktbarkan di dunia sufi. Di antara tarekat-tarekat tersebut adalah tarekat rifa’iyah, qadiriyah, naqsyabandiyah, qadiriyah wa naqsyabandiyah, syadziliyah, sammaniyah, tijaniyah, khalwatiyah, syattariyah, khalidiyah, dan mufarridiyah

Melihat sejarah, tarekat rifa’iyah untuk pertama sekali lahir dan berkembang di Irak Selatan. Tercatat sebagai pendiri pertama adalah Syaikh Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifa’i. Dia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah, Irak Selatan tahun 500 H./1106. Versi lain mengatakan bahwa syeikh ini menyebutkan lahir tahun 512 H./ 1118. Menurut Ahmad Daudy, Syeikh Ahmad ini meninggal dunia pada tahun 578 H./1182. Kemudian Nuruddin diterima dalam tarekat ini melalui seorang guru tarekat, keturunan Hadhramaut kelahiran India yaitu Syeikh Said Abu Hafs Umar bin Abdullah Ba Syaiban dari Tarim (Ahmad Daudy, 1983: 39). Sebelum itu, Syeikh Ba Syaiban ini telah pergi ke negeri Arab untuk belajar ilmu agama. Kemudian setelah itu ia pulang ke India untuk menjadi guru agama di India. Melalui Syeikh Muhammad al-Aidarus ini, Ba Syaiban diterima dalam tarekat rifa’iyah.

P. Voorhoeve mengungkapkan bahwa Syeikh Muhahammad Al Aidarus adalah kakek ruhani daripada Nuruddin, lahir di Tahrim tahun 1561 M. dan, dalam usia masih muda (19 tahun) ia merantau ke Gujarat dan kemudian ia menggantikan kakeknya sebagai guru agama dan syeikh tarekat rifa’iah di daerah itu (P. Voorhoeve, Twee Malesche Geschriften dalam Ahmad Daudy, 1983: 37).

Abu Bakar Aceh dalam buku, Pengantar Ilmu Tarekat: Kajian Historis tentang Mistik menuturkan, Ar-Rifa’i menghabiskan hampir seluruh hidupnya di wilayah Irak Selatan. Sewaktu berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Lalu ia mendapat asuhan dari pamannya, Mansur Al-Batha’ihi, seorang syeikh tarekat. Selain menuntut ilmu pada pamannya itu, ia juga berguru pada pamannya yang lain, Abu Al-Fadl Ali Al-Wasiti, terutama tentang mazhab fiqih Imam Asy-Syafi’i. Pada usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan “khirqah Sembilan” (istilah sufi, ijazah) sebagai pertanda berarti ia sudah mendapat ijazah boleh mengajar.

John L. Esposito dalam Ensiklopedia Oxford: Dunia Islam Modern menyebutkan, garis keturunan sufi Ar-Rifa’i sampai kepada Syeikh Junaid Al-Baghdadi (w. 910 M.) dan Sahl At-Tustari (w. 896 M). Pada 1145 Ar-Rifa’i menjadi syeikh tarekat ini ketika pamannya (yang juga merupakan syeikhnya) menunjuknya sebagai pengganti. Setelah itu, ia mendirikan pusat tarekat sendiri di Umm Abidah, sebuah desa di Distrik Wasit. Di tempat inilah nantinya menurut keterangan ia dimakamkan.

Dalam pandangan Nuruddin, Tuhan itu Khalik dan alam semesta beserta isinya adalah makhluk. Hubungan antara keduanya merupakan hubungan sebab akibat. Artinya. Adanya alam semesta beserta isinya menunjukkan adanya Allah karena alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan-Nya. Apabila seorang hamba Allah melakukan hubungan dengan-Nya dan dia dapat merasa bersatu dengan-Nya, maka persatuannya tetap ada jarak antara keduanya atau dikenal dengan istilah, wahdatusysyuhud. Nuruddin juga berkata, alam semesta dan seluruh isinya adalah baru karena diciptakan Allah secara langsung dari yang tidak ada. Penciptaan alam dan seisinya dari yang tidak ada, tidak akan menimbulkan akibat perubahan zat Allah karena iradah Allah yang kadim memang menghendaki penciptaan seperti itu (Sangidu, 2003: 33-34).

Bagian besar karangan Nuruddin diperuntukkan dalam upaya mendobrak paham wujudiah Syeikh Hamzah Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Wujud Allah dan makhluk itu tidaklah sama, kata Nuruddin. Alasannya. Karena keberadaan wujud Allah itu di luar jangkauan manusia (transenden). Sebaliknya. Nuruddin berkata, syari’at dan hakikat pada hakikatnya sama karena itu umat Islam diajak untuk mempelajari syariat sesuai dengan akidah islamiah. Jadi. Aliran sufi yang diperkenalkan oleh Syeikh Nuruddin ini adalah aliran sufi-sunni yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, hidup zuhud dalam upaya memformat jati diri.

Sumber :
Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Ulama Aceh Penyanggah Paham Wujudiah, penulis : Muliadi Kurdi, Penerbit : Naskah Aceh Tahun 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published.