Syeikh Nuruddin Ar-Raniri : Sanggahan Terhadap Paham Wujudiah (Bagian 3)

Syamsuddin As-Sumatrani berpandangan, “Allah itu ruh dan wujud. Dan, wujud kita ini adalah ruh dan wujud Tuhan”. Sementara Hamzah Fansuri berpendapat, “asal ruh itu kadim yakni ruh Muhammad Saw. karena ia dijadikan Allah Ta’ala daripada nur zat-Nya yang kadim dan lain sebagainya.” Man ‘arafi nafsahu, faqad arafa Rabbahu (Hadits). Artinya. Barang siapa yang mengenal dirin ya berarti mengenal Tuhannya. Hamzah Fansuri memberi tafsiran bahwa antara manusia bersatu dengan Tuhan.

Tentu, paham semisal di atas berbeda dengan Nuruddin. Nuruddin lebih melihat ruh itu bukan bersifat kadim (kekal) akan tetapi baharu (berubah-rubah) sebagai makhluk yang diciptakan. Makanya, dia menolak adanya persamaan sifat-sifat manusia dan alam dengan sifat-sifat Tuhan. Dia membandingkan antara pantheisme Hamzah Fansuri dengan teori Vedanta dan teori Buddha Mahayana di Tibet. Nuruddin telah mempelajari tasawuf Al-Ghazali, Fakhruddin, Syihabuddin al-Suhrawardi, Abu Thalib al Makki, Abdul Kasim, Al-Kusyairi, Ibnu Arabi dan Abdul Karim al Jailani (Zakaria Ahmad, 1972: 119).

Pemikiran itu kiranya telah mendapat tanggapan serius dari Nuruddin Ar-Raniri. Pada tahun 1642 ia menulis suatu uraian tentang paham sufi yang diberi judul, Jawahirul Ulum fi Kasyfil Maklum (pokok-pokok pengetahuan untuk membukakan yang maklum). Kitab lain yang dikarangnya, Fathhul Mubin ‘ala al Mulhidin (keterangan yang nyata bagi orang-orang yang kafir). Kemudian ia juga menulis, Hujjatussiddiq li Daf’il Zindiq (dalil yang benar untuk menolak keterangan orang yang tiada bertuhan). Kemudian ia menulis, Lathiful Asrar (kehalusan yang tersembunyi atau rahasia-rahasia yang halus). Dalam kitabnya, Al Tabyanu fi Ma’rifatil Adyan (kejahatan untuk mengenal agama). Ditulis dalam tahun 1664 M.. Kitab ini menguraikan tentang ajaran suluk Syamsuddin As-Sumatrani yang dipandang oleh Nuruddin sebagai ajaran sesat. Ia menuangkan tulisan yang lebih berani lagi dari sebelumnya dalam, Hilluzil yaitu sari dari sebuah karyanya yang lebih luas dengan judul, An-Nabdhatu fi dakwatizilli ma’a shabihi. Artinya. Penolakan atas seruan orang-orang yang sesat dan kawan-kawannya (Zakaria Ahmad, 1972: 121).

Sementara kitab-kitab yang terkait dengan masyarakat Nuruddin menulis dalam karya, Asrarul Insan (rahasia manusia). Al-Bustan (taman). Dari kitab-kitab Nuruddin terakhir ini memperlihatkan bahwa ia sosok ilmuan yang tangguh dalam membela kepentingan masyarakat. Winstedt berkata, Nuruddin Ar-Raniri adalah seorang terpelajar yang dalam dan luas pengetahuannya, bahkan lebih dari itu ia adalah seorang ahli pikir pada zaman itu (Winstedt dalam Zakaria Ahmad, 1972: 121).

Dalam karya Edwar Djamaris dan Saksono Prijanto menyebutkan. pendirian penganut wujudiah Hamzah Fansuri yang menyatakan keesaan wujud Tuhan dengan wujud alam dan manusia (masalah pertama), ditentangnya dengan alasan berikut :
a. Jika benar Tuhan dan makhluk itu hakikatnya satu, maka semua hayawanat, nabatat, dan najasat sekaliannya itu Allah. Hal ini dapat dipahami bahwa apa yang dimakan, di minum, dan dibakar itu adalah Allah. Jadi, semua perbuatan manusia, seperti membunuh dan mencuri merupakan per buatan Allah Swt..

b. Jika benar Tuhan dan makhluk itu hakikatnya satu, maka manusia memiliki sifat-sifat Allah Swt.. Jadi, manusia akan mengetahui dan dapat berbuat segala apa yang ada di langit dan di bumi.

Kedua poin di atas menjadi argumen penting bagi Nuruddin untuk menggugurkan ajaran wujudiah (Edwar Djamaris dan Saksono Prijanto, 1995/1996: 26).

Dalam kaitan dengan pernyataan ajaran wujudiah, tulis Edwar Djamaris dan Saksono Prijanto, yang menganggap syariat berbeda dengan hakikat (masalah kedua) sehingga perbedaan Tuhan dengan makhluk hanya dari segi syariat bukan dari segi hakikat juga ditolak oleh Nuruddin Ar-Raniri. Ia mengemukakan pendapatnya dengan menyitir ucapan Syeikh Abu Hafs Syhruardy, Syeikh Abul Husain an-Nuri, dan Imam Abu Al-Qasim al-Qusyairi.

(1) Syeikh Abu Hafs Suhruardy, dalam kitab, ‘Awarif al-Ma’arif, berkata, “Setiap hakikat yang disanggah oleh syari’at, maka ia zindik.”

(2) Syeikh Abu al-Husain al-Nuri berkata, “Barangsiapa yang mendakwa beserta Allah suatu hal yang mengeluarkannya dari ketentuan (batas) ilmu syari’at, maka janganlah sekali kali anda mendekatinya.”

(3) Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi berkata, “Tiap-tiap hakikat yang tidak berkaitan dengan syari’at, maka ia tiada berhasil.”

Ketiga pernyataan di atas, disitir oleh Nuruddin Ar-Raniri untuk menggugurkan ajaran wujudiah. Dalam kaitan dengan, ucapan beberapa penganut ajaran wujudiah, seperti Abu Mansur al-Hallaj. yang menyatakan, “Aku adalah Tuhan” ditolak dengan keras oleh Nuruddin Ar-Raniri. Ia menganggap, pernyataan itu diucapkan dalam keadaan tidak sadarkan diri dan itu tidak menunjukkan kepada wahdatulwujud tetapi wahdatusysyuhuud.

Terlihat sedikit banyaknya kritikan-kritikan pedas yang dilemparkan kepada kaum wujudiyah oleh Nuruddin Ar-Raniri. Ini dapat dilihat dari berbagai keterangan yang disampaikan oleh para penulis termasuk keterangan yang pernah disebutkan sebelumnya. Selain kritikan dan perdebatan, dapat juga dilihat sisi lain dari Nuruddin ketika melihat paham wujudiyah. Nuruddin kadang tidak semuanya menghukum kafir terhadap paham itu setelah ia melakukan penafsiran ulang dan mempertemukan antara konsep sufi dan kalam.

Ahmad Daudy dalam karyanya berkata, tampaknya Syeikh Nuruddin berpendapat, pada hakikatnya tidak ada perbedaan pendapat antara Mutakallimin dengan para sufi tentang wujud Allah. Dan, apa yang diajarkan oleh Mutakallimin tentang dualism dalam wujud hanya ditujukan untuk konsumsi orang awam, sedang untuk orang khusus yang di dalamnya juga termasuk para Mutakallimin dan para sufi, maka akidah monism atau paham keesaan wujud. Untuk orang awam, paham ini yang benar adalah tidak dibenarkan, malah dikafirkan. Hal ini menunjukkan bahwa kendatipun Nuruddin seorang sufi, ia tidak dapat membebaskan diri dari pengaruh ajaran mutakallimin, dan malah ia berusaha memperlihatkan dirinya sebagai wakil dari dua golongan tersebut dengan menghilangkan atau memperkecil perbedaan-perbedaan yang terdapat di kalangan mereka. Demikianlah, tulis Daudy, pandangan Nuruddin tentang wujud Allah; ia tidak mengemukakan sesuatu hujjah atau dalil rasional tentang kebenaran pendiriannya itu selain menunjukkan kepada kasyf dari sementara para sufi (Ahmad Daudy, 1983: 89).

Menurut Nuruddin wujud Allah dan alam esa tidaklah dimaksudkan bahwa alam ini suatu sisi lahiriah dari hakikatnya yang bathin, yakni Allah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Arabi. Yang dimaksud dari pernyataan tersebut bahwa alam ini pada hakikatnya tidak ada; yang ada hanyalah wujud Allah yang esa. Kenyataan bahwa alam ini hanya sebagai sebutan waham saja. Karena pada hakikat ia tidak ada, maka tidak dapat dikatakan ia berbeda atau bersatu dengan Allah. Oleh karena itu, walaupun Nuruddin dan juga Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa alam ini tajalli Allah, namun, tulis Ahmad Daudy, dengan tafsiran tersebut ia terlepas dari jerat Panteisme Ibnu ‘Arabi seperti dijumpai pada mistik Hamzah Fansuri (Ahmad Daudy, 1983: 90).

Kemudian Nuruddin dalam keterangannya yang lain mengemukakan, wujud Allah itu adalah yang mutlak, bukan wujud muqayyad (terbatas, bebas dari segala ikatan sejak azali sampai abadi). Wujud Allah adalah zat-Nya yang berdiri sendiri, yang esa, tidak terdiri dari unsur-unsur, baik dalam kenyataan maupun dalam pikiran. Zat Allah tidak terbilang, tidak terbatas, tidak semua dan tidak sebagian, tidak terhimpun dan bersuku, tidak khas dan ‘am, tidak jauhar (substansi), tidak ‘aradh (accident) dan tidak berjisim. Dia Maha sempurna dan segala kekurangan, tidak berubah, tidak berkurang dan berlebih, baik sebelum alam ini dijadikan maupun sesudahnya. Pemahaman Nuruddin ini didasari atas ucapan sahabat Rasulullah, Abubakar As-Siddiq ra. yang ia cantumkan dalam karyanya, “Jawahir dan Hujjatul Balighah”:
سبحان من لم يجعل لخلقه سبيلا إلى معرفته إلا

بالعجز عن معرفة

“Maha Suci Tuhan yang tiada menjadikan bagi makhluk-Nya jalan kepada ma’rifah zat-Nya melainkan daripada melemahkan diri daripada makrifah akan dia” (Jawahir dalam Ahmad Daudy 1983: 91).

Kemudian dalam kaitan ini Syeikh Nuruddin Ar-Raniri mengutip suatu pernyataan dari seorang sufi terkenal, Syeikh Abubakar Al-Syibli sebagai berikut :

أتدري لم تصح توحيدك؟ فقال: لا. قال: لانك تطلبه بك، فلو تطلبه به لوجدت

“Tahukah engkau karena apa tidak sah tauhidmu? Maka sahut laki-laki itu: “tidak hamba tahu.” Maka kata Syeikh Syibli: “Dari karena bahwasanya engkau menuntut tauhid itu dengan dikau (yakni dengan daya upayamu jua), maka jika kau tuntut tauhid itu dengan anugerah Haqq Ta’ala niscaya kau peroleh akan dia (Hujjah dalam Ahmad Daudy, 1983: 91).

Selain itu, seperti disebutkan dalam karya Ahmad Daudy dari Piah dkk. bahwa Syekh Nuruddin Ar-Raniri memberikan daftar Sifat-sifat Ilahi, yaitu qidam (dahulu), baqa’ (kekal), mukhalafatuhu lil-hawadits (berbeda dengan makhluk), qiyamuhu bi nafsih (berdiri sendiri), dan wahdaniyah (tunggal). Sifat-sifat Ilahi (berdasarkan analogi) ada tujuh, yaitu al-hayat (hidup), al-ilmu (mengetahui), al-qudrah (kuasa), al-iradah (kehendak), al-sama’u (mendengar), al-basaru (melihat), dan al-kalamu (berbicara). Dari sifat-sifat ini muncullah sifat ma’nawiyah, yaitu al hayatu (Yang Maha Hidup), al-‘alimun (Yang maha Mengetahui), al-Qadiru (Yang Maha Kuasa), al-Muridu (Yang Maha Berkehendak), al-Sami’u (Yang Maha Mendengar), al-Basiru (Yang Maha Melihat), al-Mutakallimu (Yang Maha Berfirman). Dari sifat-sifat ma’nawiyah ini lahirlah sifat-sifat fiilyang mempunyai hubungan dengan alam makhluk, antara lain al khaliq (Sang Maha Pencipta), al-raziq (Sang Pemberi Rezeki), al-hadi (Sang Pemberi Petunjuk), al-muhyi (Yang Maha Menghidupkan), al mumit (Yang Maha Mematikan), dan lain-lain (Ahmad Daudy 1983: 94-95).

Sumber :
Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Ulama Aceh Penyanggah Paham Wujudiah, penulis : Muliadi Kurdi, Penerbit : Naskah Aceh Tahun 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published.