Karya-Karya Syeikh Nuruddin Ar-Raniri (Bagian 8)

Dalam buku karya Ahmad Daudy disebutkan tentang karya-karya Syeikh Nuruddin Ar-Raniri sebagai berikut:

1. Sirathal Mustaqim (jalan yang benar). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu yang membahas tentang ibadah, shalat, puasa, zakat, haji dan juga membahas tentang hukum kurban, berbu ru, hukum halal dan haram dalam hal makanan. Kitab ini ditulis sebelum Nuruddin bermukim di Aceh, yaitu pada tahun 1044 H./1634 dan selesai pada tahun 1054 H./1644. Sekarang kitab ini dicetak pada pinggir kitab, Sabilul Muhtadin karangan Mu hammad Arsyad Al-Banjari (Tujumah (ed.), Asrarul Insan). Nas kah lain menurut keterangan Daudy tersimpan pada Museum Banda Aceh dan Pustaka Tanoh Abee, Aceh Besar.

2. Durratul Faraid bi Syarhil ‘Aqaid (permata beharga ten tang uraian akidah). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu. Dan, kitab ini menurut keterangan merupakan saduran dari kitab, Syarhul ‘Aqaid an-Nasafiyyah karangan Imam Sa’duddin al-Taftazani terhadap Mukhtashar ‘Aqa’id dari Imam Najmud din ‘Umar an-Nasafi. Menurut Ahmad Daudy, Syeikh Nuruddin tidak hanya sekedar menyadurkan akan tetapi juga banyak hal-hal lain yang berhubungan dengan akidah dimasukkan ke dalamnya. Diperkirakan kitab ini ditulis sebelum tahun 1045 H./1635, sampai sekarang kitab ini tulis Tujimah juga terdapat naskah lain pada Pustaka tanoh Abee, Syeikh Nuruddin menye but kitab ini dalam Tibyan.

3. Hidayatul Habib fil Targhib wal Tarhib (petunjuk kekasih dalam hal yang mengembirakan dan menakutkan). Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu pada tahun 1045 H./1635 dan berisikan 831 hadits. Menurut keterangan yang tersebut dalam buku karya Ahmad Daudy, kitab ini sekarang dicetak den gan kepala, “al-Fawa’idul Bahiyah fil Ahadits an-Nabawiyyah” dalam kitab, Hasyiyatu Jam’il Fawa’id, karangan Daud Ibnu ‘Ab- dillah al-Fatani (Mekkah, 1311 H. dan Singapura). Menurut Dr. T. Iskandar dalam kutipan Ahmad Daudy menyebutkan, kedua kitab ini ditulis di semenanjung Tanah Melayu dan dibawa ke Aceh pada zaman Sulthan Iskandar Tsani (T. Iskandar (ed.) Bustan dalam Ahmad Daudy, 1983: 49).

4. Bustanul Salathin fi Dzikri’il Awwalin wal Akhirin (taman para sulthan tentang riwayat orang-orang dahulu dan kemudi an). Kitab ini merupakan kitab sejarah yang terbesar yang ditu lis oleh Nuruddin Ar-Raniri. Menurut riwayat kitab ini ditulis oleh penulis setelah tujuh bulan ia berada di Aceh yaitu pada tanggal 17 Syawwal 1047 H./1637 atas permintaan Sulthan Is kandar Tsani. Kandungan kitab terdiri dari tujuh bab dan tiap tiap bab terdiri dari berbagai pasal.

Bab pertama. Terdiri dari 10 pasal, menerangkan kejadian tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Bab ini, menurut Ah mad Daudy, telah dicetak pada tahun 1311 H. di Mekkah pada tepi kitab, Tajul Muluk karangan Haji Ismail Aceh dengan judul,Badu khalqis Samawati wal Ardh; juga telah diedit oleh R.J. Wilkinson di Singapura pada tahun 1899 M.. Bab kedua. Terdiri dari 13 pasal yang menerangkan sejarah para nabi dan raja. Yang terpenting dalam bab ini, tulis Ahmad daudy, adalah pasal 12 dan pasal 13. Dalam dua pasal ini Nu ruddin menerangkan sejarah Negara-negara Melayu, terutama sejarah Malaka dan Pahang serta sejara Kerajaan Aceh. Pasal 2 dan 10 serta permulaan pasal 13 telah dicetak di Singapura pada tahun 1900 M.. Menurut keterangan Ahmad Daudy bahwa T. Iskandar telah membuat transliterasi pasal 13 ini ke dalam haruf Latin dan diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur tahun 1966 M.. Bab ketiga. Terdiri dari 6 pasal yang menerangkan tentang raja-raja yang adil dan menteri-menteri yang berakal lagi bijak sana. Naskah bab ini tersimpan pada Malay Studies Departe ment di Kuala Lumpur (P. Voorhoeve dalam Ahmad Daudy 1983: 50). Bab keempat. Menerangkan raja-raja yang bertapa dan para aulia yang saleh. Bab ini terdiri dua pasal. Pasal pertama telah ditransliterasi ke dalam huruf Latin dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris oleh Dr. Russell Jones, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, tahun 1974.

Bab kelima. Terdiri dari dua pasal yang menerangkan raja raja dan menteri-menteri yang zalim. Menurut Ahmad Daudy, bab ini masih dalam bentuk naskah.

Bab keenam. Terdiri dari dua pasal yang menerangkan orang-orang pemurah lagi mulia dan orang-orang yang berani. Menurut Ahmad Daudy, waktu ia menulis buku Allah dan ma nusia sekitar tahun 1978 bab ini juga belum diterbitkan.

Bab ketujuh. Bagian akhir kitab yang menerangkan tentang akal, ilmu firasat, ilmu ketabiban, sifat-sifat perempuan serta hikayat-hikayat ajaib yang jarang terjadi. Menurut Tujimah seperti terdapat dalam keterangan Ahmad Daudy bahwa bab ini saat Ahmad mengarang buku Allah dan Manusia belum 5. Nubdzah fi Da’wa al-Zhill ma’a Shahibihi (uraian singkat diterbitkan tentang dakwaan bayang-bayang dengan kawannya). Kitab ini ditulis oleh si pengarang dalam bahasa Arb tetapi tidak menye butkan tahun penulisannya. Sipengarang menyebut kitab ini dalam Tibyan. Kandungannya berbicara tentang kesesatan aja ran wujudiah yang diterangkan melalui pola tanya jawab.

6. Latha’iful Asrar (kehalusan rahasia). Kitab ini menguraikan tentang tasawuf. Si pengarang menyebutnya dalam Tibyan dan Jawahir

7. Asrarul Insan fi Ma’rifatil Ruh wal Rahman (rahasia manusia dalam mengetahui Ruh dan Tuhan). Kitab ini merupak an terjemahan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu yang dikerjakan oleh Nuruddin atas permintaan Iskandar Tsani dan diselesaikan pada zaman Sulthanan Safiyatuddin Syah. Nurud din menyebut kitab ini dalam Jawahir. Di dalamnya berbicara tentang manusia terutama tentang hal ikhwal ruh, sifat dan hakikatnya serta hubungan manusia dengan Tuhan. Menurut riwayat Naskah kitab ditulis oleh si penulis sewaktu terjadi per tentangan di antara para ulama mengenai keadaan ruh dan se lesai ditulis seperti telah disebutkan. Sumber penulisan kitab ini ayat-ayat Qur’an, hadits, dan beberapa buku karangan ahli falsafah ternama seperti Ibn Arabi, Imam Ghazali, al-Hallaj, dan Abdurrazzak al-Kashani. Menurut keterangan dari Mohammad Said, Nuruddin kembali ke kampung halamannya, Ranir, pada tahun ketiga Nur ‘Alam menjadi sulthanah yaitu tahun 1054 H./1644 (Mohammad Said, 2007: 320).

8. Tibyan fi Ma’rifatil Adyan (penjelasan dalam mengetahui agama-agama). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu untuk memenuhi permintaan Sulthanah Safiyatuddin. Pada pengan tarnya, tulis Ahmad Daudy, Nuruddin menerangkan perde batan yang terjadi dengan kaum wujudiah di hadapan sulthan Iskandar Tsani dimana ia telah menunjukkan kesesatan ajaran tersebut sehingga para ulama telah mengeluarkan fatwa bahwa mereka adalah orang-orang kafir yang halal dibunuh. Kitab ini terdiri dari dua bab. Bab pertama membicarakan tentang aga ma lahir di dunia sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Isa. Bab kedua menerangkan tentang timbulnya mazhab-mazhab atau aliran-aliran teologi dalam kalangan umat Muhammad (Ahmad Daudi, 1983: 52).

9. Akhbar al-akhirat fi ahwal al-Qiyamah (berita tentang akhirat dan hal-ikhwal kiamat).
Kitab ini ditulis atas permintaan Sulthanah Safiyatuddin. Kitab ini terdiri dari tujuh bab yang menerangkan tentang Nur Muhammad, kejadian Nabi Adam, peristiwa kiamat, syurga, neraka dan lain-lain.

10. Hill al-Zhil. Si pengarang menerjemahkan dengan menguraikan perkataan Zhill, yakni uraian lanjutan tentang apa yang disebut dalam kitab Zhil. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu atas permintaan sahabatnya, sedang tahun penulisan tidak dise butkan. Nuruddin menyebut kitab ini dalam Tibyan dan dalam Jawahir dan juga dalam ma’ul Hayah (Ahmad Daudy, 1983: 52).

11. Ma’ul Hayah li Ahlil Mamat (air kehidupan bagi orang-orang mati). Kitab ini ditulis untuk memahami permintaan Sulthanah Safiyatuddin Syah. Ditulis dalam bahasa Melayu pada tahun yang tidak disebutkan. Isi kitab menyanggah paham wujudiah tentang kesatuan alam dan manusia dengan Tuhan, kekadiman jiwa manusia dan perbedaan syariat dengan hakikat.

12. Jawahirul “Ulum fi Ksyfil Ma’lum (permata ilmu dalam menyingkap sasarannya). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu yang mulai ditulis tahun 1052 H./1642. Menurut ketarangan dari Ahmad Daudy bahwa kitab ini merupakan kitab terakhir yang ditulis oleh Nuruddin sebelum ia kembali ke India. Kitab ini membicarakan tentang filsafat terdiri dari pengantar, lima bab dan penutup. Pada bagian pengantar menerangkan tentang kemuliaan ilmu hakikat. Bab pertama tentang wujud, bab kedua tentang sifat Allah, bab ketiga tentang asma Allah, bab keempat tentang a’yan tsabitan, dan bab kelima tentang a’yan khariji yyah. Pada bagian akhir kitab ini disebut bahwa kitab ini selesai disalin pada hari Senin, 28 Zulhijjah 1076 H..

13. Ainal ‘Alam Qabl ‘an Yukhlaq. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu. Di sini Nuruddin hanya menyebutkan namanya sebagai pengarang kitab dan ia pun tidak memberi judul dari kitab ini, begitu juga tahun penulisannya.

14. Syifaul Qulub (obat hati). Kitab ini ditulis dalam bahasa Mela yu, tahun penulisan tidak tercantum. Kandungan kitab tentang pengetahuan kalimah syahadah dan cara-cara berzikir kepada Allah Swt..

15. Hujjatul Shiddiq li Daf’il Zindiq (dalil orang benar untuk menolak itikad orang zinddiq). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu dan ditulis atas permintaan sahabatnya tanpa menye but tahun penulisannya. Kandungan kitab meliputi akidah dan mazhab-mazhab mutakallimin, ahli sufi, ahli filsafat, dan kaum wujudiah.

16. Al-Fathul Mubin ‘alal Mulhidin (kemenangan nyata atas orang-orang Ateis). Kitab ini menurut keterangan ditulis oleh Nuruddin ketika ia telah kembali ke India. Pada halaman tera khir kitab oleh si penulis mencantumkan bahwa kitab selesai di tulis pada taggal 12 Rabi’ul Awwal 1068 H./1657. Pada halaman awal kitab Nuruddin meriwayatkan kembali peristiwa pem bunuhan kaum wujudiah dalam bentuk yang lebih lengkap, dan juga ia tulis peristiwa pembakaran kitab-kitab yang ditulis oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrani di halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Selain itu, penulis juga menerang kan tentang kesesatan ajaran kaum itu. Pada halaman terakhir kitab Nuruddin menyatakan bahwa kitab ini untuk dikirim ke pada:

“Segala saudaraku yang ada di Pulau Aceh, dan yang di Negeri Kedah, dan yang di Pulau Banten, dan yang Negeri Patani, dan yang di Pulau Makassar, dan yang di Negeri Johor, dan yang di Negeri Pahang, dan yang di Negeri Singgora dan se gala negeri yang di bawah angin” (Ahmad Daudy, 1983: 55).

17. Al-Lama’an fi takfir man qala bi khalqil Qur’an (cahaya terang pada mengkafirkan orang yang berkata Qur’an itu makh luk). Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab sebagai suatu risalah jawaban terhadap pertanyaan yang datang dari Sulthan Banten, Abu al-Mafakhir Abdul Kadir al-‘Ali yang meninggal dunia ta hun 1640 M.. Isi kitab mengandung sanggahan terhadap aja ran Hamzah bahwa Al-Qur’an itu makhluk, seperti yang dikutip Syeikh Nuruddin dari kitab Asrarul Arifin, dan Nuruddin me nyebut kitab ini dalam Fathul Mubin.

18. Shawarimul Shiddiq li Qath’il Zinddiq (pedang orang saleh untuk memotong kaum Zindiq). Kitab ini ditulis untuk mem bantah ajaran wujudiah seperti yang dapat dipahami pada wak tu syeikh Nuruddin menyebut kitab ini dalam al-Fathul Mubin.

19. Rahiqul Muhammadiyyah fi Thariqil Shufiyyah (minuman umat Muhammad pada jalan orang-orang sufi). Kitab berbicara tentang tasawwuf akhir yang yang belum selesai dan merupakan kitab ter ditulis oleh Syeikh Nuruddin Ar-Raniri.

20. Bad’u Khalqil Samawat wal Ardh (permulaan penciptaan langit dan bumi). Kitab ini merupakan petikan dari bab perta ma kitab Bustanul Salathin. Si pengarang menulis dengan nama dan pengantar yang tersendiri dan sekarang dicetak pada ping gir kitab, Tajul Muluk.

21. Kaifiyatul Shalat (cara melakukan sembahyang). Kitab ini juga petikan dari kitab, al-Shiratal Mustaqim.

22. Hidayatul Iman bi Fadhlil Mannan (bimbingan iman dengan karunia Tuhan). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu dan tidak disebut tahun penulisannya. Isinya menjelaskan tentang pengertian agama yang terdiri dari iman, Islam, makrifat dan tauhid.

23. Alaqatulllah bil ‘Alam (hubungan Allah dengan alam). Kitab ini adalah terjemahan bahasa Arab dari kitab bahasa Persia yang ditulis oleh Syeikh Muhammad ibnu Fadhillah al-Barhanpuri. Tahun terjemahannya tidak disebut, dan isinya tentang hubun gan Allah dengan alam dalam pandangan ahli sufi.

24. ‘Aqaidul Sufiyyah al-Muwahhidin (akidah ahli sufi yang meng-Esakan Tuhan). Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab, dan syeikh Nuruddin hanya menyebut dirinya sebagai penulis, se dangkan nama kitab dan tahun penulisan tidak disebut. Isi kitab tentang akidah dan pengalaman keruhanian orang-orang sufi dalam berzikir dengan, la ilaha illallah.

Selain dari kitab-kitab tersebut di atas, Syeikh Nuruddin menyebut lima buah kitabnya dalam, Fathul Mubin (Ahmad Daudy, 1983: 57).

25. Al-Fathul wadud fi Bayan Wahdatil Wujud.
26. Awdhahu’il Sabil laisa li Kalamil Mulhidin Ta’wil.
27. Syadzarul Mazid.

Sumber :
Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Ulama Aceh Penyanggah Paham Wujudiah, penulis : Muliadi Kurdi, Penerbit : Naskah Aceh Tahun 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published.