Pengaruh Syeikh Nuruddin Ar-Raniri
(Bagian 7)

Sebelumya telah pernah disebutkan bahwa Nuruddin sosok ulama yang memiliki pengetahuan luas dan banyak keahlian. Di samping ahli fiqih ia juga terkenal kealimannya dalam teolog dan politisi. Dengan kapasitas inteletual yang dimiliki oleh Nuruddin seperti ini telah menimbulkan banyak waham dari masyarakat apalagi ketika memahami corak pikirannya yang berwarna warni Sangat masuk diakal, ketika Nuruddin dinilai sebagai seorang sufi yang sibuk dengan praktik-praktik mistik padahal ia seorang faqih yang memiliki perhatian terhadap praktik-praktik syariat. Oleh karena itu, untuk memahami secara menyuluruh atau secara benar pikiran Nuruddin, haruslah dipahami semua aspek pemikiran, kepribadian dan aktivitasnya (Azyumardi Azra: 1994).

Keragaman keahlian Nuruddin semakin jelas dilihat ketika ia mulia berkiprah sebagai mufti pada kesulthanan Aceh. Meski hanya bermukim dalam beberapa tahun dalam waktu relatif singkat, namun peranannya dalam perkembangan Islam di Aceh tidak dapat dinafikan. Ia memiliki andil besar terhadap perubahan pemikiran Islam Aceh bahkan Nusantara. Kemudian ia tercatat sosok ulama pertama yang telah membedakan penafsiran doktrin dan praktik sufi yang salah dan benar. Fadhlullah Al-Burhanpuri pernah berusaha seperti yang dilakukan Nuruddin, tapi usaha ini dianggap tidak mampu merumuskan dalam penjabaran secara sistematis seperti yang pernah dilakukan oleh Nuruddin. Upaya lebih lanjut tampaknya pernah juga dilakukan oleh Hamzah Fansuri dan Samsuddin As-Sumatrani, tetapi keduanya gagal memperjelas garis perbedaan antara Tuhan dengan alam dan makhluk ciptaannya (Azyumardi Azra: 1994).

Oleh karena itu, dalam pandangan Nuruddin masalah besar yang dihadapi umat Islam, terutama di Nusantara, adalah akidah. Paham immanensi antara Tuhan makhluknya sebagaimana dikembangkan oleh paham wujudiyah merupakan praktek sufi yang berlebihan. Mengutip doktrin Asy’arah, Nuruddin berpandangan bahwa antara Tuhan dan alam raya terdapat perbedaan (mukhakafahu lil hawadits), sementara antara manusia dan Tuhan terdapat hubungan transenden.

Dalam sejarah disebutkan, selain tercatat sebagai penganut tarekat rifa’iah, ia juga memiliki mata rantai dengan tarekat aidarusiah dan qadiriah. Dari tarekat aidarusiah inilah Nuruddin dikenal sebagai ulama yang teguh memegang akar-akar tradisi Arab. Tidak hanya itu, ketegasan Nuruddin dalam menekankan adanya keselarasan antara praktik mistik dan syari’at merupakan bagian dari ajaran tarekat aidarusiah.

Meski Nuruddin berpengaruh besar dalam perkembangan Islam Nusantara, tetapi hingga kini belum ditemukan para muridnya secara langsung. Hanya Syeikh Yusuf al-Maqassari yang banyak tersebut dalam sejarah sebagai seorang muridnya. Al-Maqassari dalam karyanya, Safinat al-Najah, mengaku bahwa dirinya telah belajar kepada Nuruddin Ar-Raniri dan memperoleh silsilah tarekat qadiriah dari sang gurunya itu.

Sumber :
Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Ulama Aceh Penyanggah Paham Wujudiah, penulis : Muliadi Kurdi, Penerbit : Naskah Aceh Tahun 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published.