Kisah Nama Rumah Sakit Umum Daerah Bireuen : dr. Fauziah

Dokter Fauziah, nama itu kini telah ditabalkan sebagai nama rumah sakit umum milik pemerintah di Kabupaten Bireuen. Dedikasi dokter ini luar biasa, sampai nyawanyapun terenggut akibat konflik Aceh.

Kisah perjuangan dr Fauziah sang dokter perempuan dari Kemukiman Bugak Kecamatan Jangka, dalam menyelamatkan nyawa orang lain, sampai membuat nyawa sendiri melayang dengan peluru tajam, patut diberi apresiasi dan dikenang. Sebagai sebuah dedikasi yang totalitas.

Sang dokter yang merupakan perempuan asli kelahiran Bugak Krueng Mate, 24 Juli 1967. Anak dari pasangan H.M.Daud Ismail dan Nuraini. Menyelesaikn pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan tahun 1996. Ia meninggal dunia dalam peristiwa kontak senjata antara GAM dan PPRM di Gampong Cot Kruet perbatasan Alue Gandai pada tanggal 25 Mei 1999 silam. Jenazah dr.Fauziah di kebumikan di Gampong Bugak Krueng Mate di komplek perkuburan keluarga. Saat tertembak dr. Fauziah sedang hamil muda, itu kehamilan pertamanya setelah ia menikah dengan Drs. Yahya Yusuf pada 6 Februari 1999.

Kisah berikut ditulis berdasarkan penuturan salah seorang saksi mata di Gampong Cot Kruet, Alue Handai, Peudada, Tgk Abdullah A. Jalil.

Pada malam itu Senin, 24 Mei 1999 Pukul 02.00 Malam. Jul yang merupakan Intel TNI dari Aceh Utara ditembak orang tak di kenal. Pak Jul begitu pria itu kerap disapa, tinggal di kawasan transmigrasi Gampong Alue Kuta, Kecamatan Peudada, Kabupaten Aceh Utara (sekarang Kabupaten Bireuen). Ia saat itu ditugaskan untuk memata-matai kegiatan GAM di kawasan Transmigrasi Gampong Alue Kuta.

Padahal sebelumnya, pada tahun 1990 pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) beberapa warga sudah sering melihat Pak Jul tinggal di Pos TNI Gampong Dayah Mon Ara, Kemukiman Pintoe Batee, Kecamatan Peudada.

“Ketika tahun 1999 ia diterima warga untuk tinggal di kawasan Transmigrasi Gampong Alue Kuta. Pak Jul bilang sama warga bahwa ia sudah dipecat dari TNI, makanya warga mengizinkan Pak Jul untuk tinggal di kawasan transmigrasi saat itu,” ujar Abdullah A.Jalil.

Abdullah melanjutkan kisahnya, pada tahun 1999, Pak Jul masih aktif sebagai TNI, ia saat itu ditugaskan untuk memantau kegiatan GAM di kawasan Trasmigrasi Gampong Alue Kuta Kecamatan Peudada.

Setelah beberapa bulan tinggal di kawasan trasmigrasi, Pak Jul pada Senin, 24 Mei 1999 sekira pukul 02.00 wib dini hari, ditembak oleh orang tak dikenal di tempat tinggalnya di kawasan trasmigrasi itu.

Kata Abdullah, malam itu setelah mendengar suara letusan senjata api, warga tidak berani keluar rumah. Pada Selasa paginya, 25 Mei 1999 masyarakat transmigrasi baru menjenguk ke rumah yang ditempati Pak Jul.

“Ternyata Pak Jul dan seorang pemuda yang menemaninya sudah tidak bernyawa lagi. Setelah melihat jenazah Pak Jul, kepala desa memberitahukan informasi itu pos Koramil Peudada. Geuchik Transmigrasi dan sekretarisnya berangkat ke kantor Polsek/Koramil Peudada untuk melaporkan kejadian tersebut pada Komandan Koramil Pak Ngadimin,” kisah Abdullah A.Jalil

Atas laporan tersebut, Koramil Peudada meminta bantuan Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM) (Pasukan di bawah TNI) di Bireuen, untuk menjembut jenazah di Alue Kuta. Namun, pada saat sebelum berangkat menuju lokasi, pasukan PPRM mengajak dokter Fauziah Cs untuk ikut bersama rombongan PPRM dengan menumpang truk reo yang mereka tumpangi.

dr. Fauziah pada saat itu, menjabat sebagai Kepala Pukesmas Peudada. Saat itu dr. Fauziah tidak pergi sendiri, ia ditemani Mustafa dan beberapa perawat di Puskesmas Peudada.

Karena dalam kondisi hamil muda, pada awalnya dr. Fauziah keberatan untuk pergi bersama PPRM. dr. Fauziah meminta pergi menggunakan mobil dinasnya, tetapi pihak PPRM di Bireuen tidak memberikan izin.

“Pada saat itu dr Fauziah tidak diizinkan untuk pergi dengan menggunakan mobil dinasnya, mereka beralasan nanti jika dihadang di jalan tidak ada yang bertanggung jawab,” jelas Abdullah.

Abdullah menceritakan lagi, sebelum berangkat dr.Fauziah sempat tetap bersikukuh ingin membawa mobil dinasnya, karena kurang enak badan karena sedang hamil, tetapi pihak RPPM tetap tidak memberikan izin.

“Setelah itu dr. Fauziah beranjak naik ke truk PPRM dan disuruh duduk di depan, sebelah kiri sopir diapit pegawainya Teuku Mustafa di sebelahnya, sementara di luar pintu kiri berdiri salah satu anggota Polsek Peudada bergantung pada gagang spion karena tidak muat di dalam terpaksa bergantung di depan sebelah kiri,” cerita pria akrab di sapa Abu Nek Peudada.

Abdullah melanjutkan kisahnya, ketika sampai perbatasan antara Gampong Cot Kruet-Alue Gandai, Kemukiman Pintoe Batee, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, tepatnya pukul 10.15 pagi. Pada Selasa, 25 Mei 1999, truk PPRM dihadang oleh beberapa Personil anggota GAM Sagoe Tgk di Lancok.

Dalam peristiwa penghadangan tersebut, terjadilah kontak senjata lebih kurang empat jam. Tembakan peluru dari arah bukit semak belukar yang berjarak sekitar lima meter lebih membuat pasukan PPRM tak bisa mengelak. Letusan peluru dalam kontak tembak tersebut membuat dr. Fauziah dan Mustafa meninggal dalam kontak senjata tersebut, sedangkan sejumlah aparat keamanan menderita luka tembak.

“Pada waktu itu sepertinya dr. Fauziah tertembak di bagian dadanya dan perutnya yang sedang hamil, sehingga menghembuskan nafas terakhir,” cerita Abdullah di dampingi beberapa warga lainnya.

Kini nama dr. Fauziah sudah dinobatkan untuk nama Rumah Sakit Umum Daerah Bireuen. Pengukuhan nama dr. Fauziah ini, tertuang melalui Surat Keputusan Bupati Bireuen Nomor 017 Tahun 2001, tanggal, 27 Januari 2001.

Dalam catatan konflik Aceh khususnya medio 1998-1999, dr. Fauziah dan Mustafa adalah paramedis pertama yang meninggal dalam melaksanakan tugas kemanusiaan. Insiden ini dikenal dengan Tragedi Peudada. Dunia kesehatan berkabung. Banyak pihak berduka, khususnya Korp Kedokteran dan Keperawatan Provinsi Aceh.

40 unit Ambulans berpalang biru dari berbagai Puskesmas di Aceh mengiringi kepergian Fauziah dan Mustafa.

Almarhumah dr. Fauziah dan jabang bayinya dimakamkan disamping pusara orangtuanya (HM. Daud Ismail) di Desa Bugak.

Sedangkan Mustafa disemayamkan di Desa Pulo, Kecamatan Peudada, Bireuen.

Sudah selayaknya, Pemerintah Aceh menjadikan 25 Mei sebagai Hari Kesehatan Daerah Provinsi Aceh.

Dan, sepatutnya Korp Kedokteran- Kesehatan-Keperawatan Aceh serta Pemerintah Bireuen setiap tanggal 25 Mei mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati sebuah nama penuh jejak bertapak yang menjadi simbol manusia untuk kemanusiaan.

Sumber :

https://aceh.tribunnews.com/2019/05/25/hari-ini-20-tahun-lalu-tragedi-peudada-merenggut-nyawa-paramedis-dari-sini-rs-dr-fauziah-bermula

https://amp.kompas.com/regional/read/2013/11/21/0651180/Nama.RSUD.Bireun.Jejak.Tak.Terungkap.Konflik.Senjata.di.Aceh

https://kabarbireuen.com/mengenang-20-tahun-gugurnya-dr-fauziah-tertembak-dalam-konflik-bersenjata-aceh/

https://ingataceh.wordpress.com/2015/10/06/kisah-fauziah-dokter-cantik-yang-tewas-dalam-baku-tembak-saat-tengah-hamil/

Leave a Reply

Your email address will not be published.