Masya Allah Laa Quwwata Illa Billah

Firman Allah dalam surah al-Kahfi:

وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا ٣٩

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS Al-Kahfi: 39)

Ayat di atas memberikan gambaran bahwa ketika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan seperti kebun yang indah, maka ungkapan yang tepat adalah Masya Allah dengan “ma” untuk arti ta’ajjub, atau jika disederhanakan alangkah indahnya kehendak Allah.

Imam al-Suyuthi, dalam al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur juga merangkum beberapa penafsiran ulama mengenai firman Allah dalam surah al-Kahfi ayat 39 di atas. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa “masyaallah” sangat manjur digunakan ketika seseorang memiliki hajat.

Suatu ketika Nabi Musa AS, berdoa kepada Allah SWT. Doa tersebut tidak kunjung dikabulkan oleh Allah sejak lama, dan ketika Musa berdoa dengan menyebut “Masya Allah”, dan tiba-tiba doanya dikabulkan.

Lalu Musa bertanya: “Ya Rabb ana athlub hajati mundzu kadza wa kadza, wa a’thaitaniha al-aan? (wahai Tuhanku, aku meminta dikabulkan hajatku sejak saat itu dan Engkau mengabulkannya sekarang?)” kemudian Allah menjawab: “Tidakkah engkau ingat apa yang engkau katakan (yakni Masya Allah), kalimat itulah yang paling mempercepat dikabulkannya sebuah hajat.”

Disebutkan pula bahwa ketika imam Malik memasuki rumah, beliau mengucapkan Masya Allah, ketika ditanya beliau mengatakan bahwa yang dilakukannya sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Kahfi ayat 39.

Wahab bin Munabbih juga melakukan hal yang sama setelah mengetahui firman Allah tersebut beliau bahkan menuliskan di atas pintu rumahnya kalimat Masya Allah. Keterangan ini disampaikan oleh Ibn Abi Hatim.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan, berupa istri, harta atau anak kemudian mengucapkan: masya allah la quwwata illa billah kecuali dia akan terjaga dari segala gangguan sampai keinginannya dia meninggal. Kemudian Rasulullah membaca surah al-Kahfi ayat 39.” (HR. Abu Ya’la)

Al Imam Ibnu Baz berkata :

“Merupakan Sunnah apabila engkau mendapati sesuatu yang menyenangkan pada keluarga, harta, atau anak.

Katakan Masya Allah laa quwwata illa billah : Semua kehendak Allah tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.

[At Ta’liq Ala Al Wabil Ash Shoyyib hal.16]

Saat memuji, jangan lupa mengucapkan ‘Masya Allah’ (atas kehendak Allah) sebagai bentuk kekaguman kita dan pengagungan kepada Allah untuk menghindari dampak buruk yang mungkin menimpa orang yang dipuji akibat munculnya penyakit hati berupa hasad, misalnya. Masya Allah diucapkan ketika kita melihat suatu hal yang baik atau indah.

Apabila ada orang yang mengucapkan “Masya Allah” kepada kita, maka menjawab masya allah dengan “Masya Allah tabarakallah”. Dengan mengucapkan dua lafad tersebut. Maka kita akan teringat, bahwa sesuatu yang terjadi itu datang dari Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.