7 Kekeliruan Ketika Takbiran

๐Ÿ‘‚Saya coba mengamati lafadz-lafadz takbir yang dikumandangkan oleh para jama’ah, baik di masjid, di mushalla dan tempat lainnya.

โœ‹โœŒ๏ธSetidaknya ada tujuh kekeliruan yang terdengar dan harusnya menjadi perhatian, yaitu :

1โƒฃLafadz “Allah” pada takbir :
(ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู)
di panjangkan alifnya, sehingga bacaannya seperti “AAllah/
ุขู„ู„ู‡ู”.
lafadz seperti ini sudah merubah makna dari seharusnya pernyataan bahwa “Allah itu adalah Mahabesar” menjadi pertanyaan “Apakah Allah itu Mahabesar”?


2โƒฃLafadz takbir :
(ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู)
berhenti pada lafadz “Akbar” pertama namun tidak mengambil nafas, sehingga seakan-akan disitu ada hukum _saktah_, padahal tidak ada hukum _saktah_nya. Semestinya kalau dimatikan pada lafadz “Akbar” pertama maka diputuskan nafas secara sempurna baru kemudian dilanjutkan dengan lafadz takbir kedua. Namun jika dilanjutkan tanpa berhenti maka huruf “ุฑ” nya harus diberikan baris “ุฑู”, sehingga bacaannya bersambung dengan lafadz “Allah”, kemudian dibaca dengan “Allahu Akbarullahu Akbar”.

3โƒฃLafadz takbir :
(ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู)
dijadikan _qalqalah_ (memantul) ketika mematikan huruf “ูƒ” pada lafadz “ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู”, sehingga bacaannya menjadi “Akebar”. Padahal huruf “ูƒ” sifatnya bukan termasuk _qalqalah_ (memantul) melainkan sifatnya hams (mengalirnya nafas)

4โƒฃLafadz takbir :
(ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู)
dibaca “aek” Ketika mematikan huruf “ูƒ” pada lafadz “ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู”, sehingga bacaannya menjadi “Aekbar”.

5โƒฃLafadz takbir :
(ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู)
dibaca panjang huruf “ุจ” pada lafadz “ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู”, sehingga bacaannya menjadi “Akbaar/
ุฃูŽูƒู’ุจูŽุงุฑู”,
padahal tidak ada tambahan “Alif” pada huruf “ุจ”.

6โƒฃLafadz :
( ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู)
berhenti pada lafadz “Akbar” namun tidak mengambil nafas, sehingga seakan-akan ada hukum _saktah_, seperti nomor urut satu, padahal tidak ada hukum _saktah_nya. Semestinya kalau dimatikan pada lafadz “Akbar” maka diputuskan nafas secara sempurna baru kemudian dilanjutkan dengan lafadz “walillahil hamd/
ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู”.
Namun jika dilanjutkan tanpa berhenti mengambil nafas maka huruf “ุฑ” nya harus diberikan baris “ุฑู”, sehingga bacaannya bersambung dengan lafadz “walillahil hamd/
ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู”
menjadi “Allahu Akbaru walillahil hamd/
ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู”.

7โƒฃLafadz :
( ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู)
dibaca dengan “walillah ilhamd/
ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู’ ุฅูู„ุญูŽู…ู’ุฏู”.
Semestinya dibaca dengan “walillahilhamd/
ูˆูŽู„ูู„ู‘ู‡ู ุงู„ุญูŽู…ู’ุฏู”.

๐Ÿ‘ŒDemikianlah beberapa kekeliruan dalam lafadz takbiran yang sempat terdengar, mungkin saja ada penambahan-penambahan, khususnya dari segi _makharijul huruf_, karena untuk menilai _makharijul huruf_ benar atau keliru maka harus melihat mulut orang yang melafadzkannya, tidak cukup sekedar pendengaran saja.

Wallahu ‘alam.

๐ŸคฒSemoga Allah selalu membimbing kita, amin…


โœ BNA, Kamis 12 Dzulhijjah 1442H/22 Juli 2021M
ibnu Selian

http://t.me/hattaselian

Leave a Reply

Your email address will not be published.