Unik!Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa

Saat kita mengamati anak-anak kita, tampak bahwa kemampuan mereka variatif dan cara masing-masing dari mereka unik. Banyak di antara kita yang salah dalam menangani kemampuan tersebut dan tidak memperhatikan keunikannya. Lalu kita memperlakukan mereka dengan cara yang sama dan memaksa mereka untuk menjalani semua yang menjadi tradisi di masyarakat.

Hasil dari pendidikan seperti ini adalah generasi peniru” yes man” kehilangan karakter individu karena harus menyarakan dirinya dengan orang lain. Kita para orang tua menanggung dosa karena telah membunuh ruh inisiatif yang mereka miliki, bahkan kita telah merusak rasa kemerdekaan dan kebebasan mereka.

Kapankah kita akan bertaubat dari kesalahan memperlakukan semua anak dengan cara yang sama. Padahal kita tahu bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan dan tingkat kesiapan yang berbeda?

Keunikan Setiap Manusia adalah Sunnatullah

Seorang ibu melaporkan bahwa ia sangat kagum pada salah seorang anaknya yang sangat rajin belajar, bahkan mengungguli seluruh teman sekolahnya. Sementara saudaranya sama sekali tidak peduli dengan pelajaran dan sama sekali tidak berusaha untuk belajar!!

Sebagian ayah ada yang diberi nasehat oleh teman-temannya tentang pendidikan, intinya adalah ia harus meniru cara mereka dalam mendidik anak-anaknya, agar anak-anaknya bisa berprestasi seperti anak-anak mereka! Apakah karakter manusia sama atau setiap orang memiliki karakter sendiri??

Tidak diragukan lagi bahwa kepribadian manusia sangatlah unik, semuanya sama sekali berbeda dalam perbuatan, sifat dan kepribadian. Tidak ada dua orang di dunia ini baik anak-anak atau orang dewasa bahkan antara saudara memiliki kemampuan, mental dan bakat yang sama.

Anak-anak kita bukanlah pengecualian. Karakter mereka berbeda satu sama lain. Apabila kita memahami hakikat ini maka janganlah kita berusaha menyamakan mereka dalam pelajaran dan pekerjaan.

Sungguh merupakan sunnatullah, manusia diciptakan berbeda dan bukan fotokopian dari orang lain. Ia menciptakan manusia berbeda dalam semua hal. Maka tidak ada dua orang yang sama dalam segala hal, meskipun mereka anak kembar.

Itulah perbedaan. Setiap dua orang pasti berbeda dengan orang lain secara fisik dan karakter, bahkan meskipun terjadi persamaan dalam bentuk fisik, maka jiwa dan karakter mereka tidak mungkin sama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dengan karakter yang berbeda karena ada hikmahnya, yaitu agar kehidupan lebih berwarna dan tidak monoton. Kehidupan manusia memiliki banyak sisi dan ruang yang luas, yang membutuhkan berbagai macam karakter, agar manusia mampu menjalankan perannya sebagai khalifah pada setiap tempat dan sisi.

Keunikan ini telah ditegaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu alai wasallm ,

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الأَرْضِ ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الأَرْضِ : جَاءَ مِنْهُمُ الأَحْمَرُ ، وَالأَبْيَضُ ، وَالأَسْوَدُ ، وَبَيْنَ ذَلِكَ ، وَالسَّهْلُ ، وَالْحَزْنُ ، وَالْخَبِيثُ ، وَالطَّيِّبُ

“Sesungguhnya Allah menciptakan nabi Adam dari segenggam tanah dari seluruh bagian bumi. Kemudian anak keturunan Nabi Adam datang dari bagian-bagian bumi tersebut, di antara mereka ada yang berwarna merah, hitam dan diantara mereka juga ada yang lapang, sedih, kurang baik dan baik.” (Abu Daud Sulaiman as-Sijistani, Sunan Abi Daud, jus 4 hal 222).

Dari hadits di atas jelaslah perbedaan-perbedaan tabiat antar individu. tergantung komposisi tanah darimana ia diciptakan.

Perlu ditegaskan di sini konsep islam tentang diri manusia, konsep yang tidak ada kaitannya dengan doktrin, teori atau istilah-istilah kemanusiaan. Konsep yang tiada duanya, karena konsep ini berdiri di atas manhaj Islam, yaitu satu-satunya konsep Allah yang mengetahui jiwa perbuatan manusia,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk: 14)

Maka dari itu seorang pendidik yang cerdas harus memperhatikan perbedaan-perbedaan individu antara anak-anaknya. Sebagaimana diwasiatkan Ibnu Maskawaihi, “Hendaknya engkau memperhatikan perilaku anak-anak dan kesiapan mereka untuk menerima atau meninggalkan sebuah adab, sebagian mereka ada yang kurang rasa malu, ada juga yang sangat pemalu, ada yang dermawan, pelit, pengasih, kasar, iri, dan berbagai tingkatan sifat. Mereka berbeda dalam menerima nilai-nilai yang mulia. Anda sebagai pendidik harus memahami bahwa mereka tidak sama. Ada yang mudah menerima, ada yang sulit, pertengahan dan berbagai tingkatan yang tidak terhitung jumlahnya.”

Inilah konsep dalam memahami keunikan manusia. Karena itu keunikan anak-anak kita adalah cara terbaik untuk melahirkan individu yang mandiri dan merdeka yang memiliki inisiatif sendiri dalam berpendapat dan bekerja, bkan karena terpaksa atau ikut-ikutan. Adalah suatu kesalahan berusaha membentuk diri mereka seperti diri kita.

Kita harus ingat bahwa keharmonisan hanya akan terjadi antara kita dan anak-anak kita jika kita memperlakukan mereka sebagai individu yang merdeka yang memiliki kepribadian. Sebagian dari kita boleh jadi pernah berbuat salah karena telah berusaha membuat anaknya menjadi duplikat dirinya, tetapi tidak ada yang ia dapatkan dari mereka selain pembangkangan dan penolakan. Penolakan terjadi karena apa yang diinginkan anak yang sedang puber yaitu kebebasan dan menunjukkan jati dirinya berbeda dengan kemauan keluarganya yang tidak suka hal itu. Dalam pepatah disebutkan, “hak-hak yang dilupakan menimbulkan pembangkangan.”

Wa Allahu A’lam Bisshawab

REFERENSI:
Sentuhan jiwa untuk anak kita, Dr. Muhammad Muhammad Badri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.