Alam Kubur Yang Menakutkan

Setiap dari kita yang sekarang ini masih hidup pasti suatu saat akan menjumpai kematian. Keberadaan makam/kuburan dan meninggalnya satu persatu saudara dan tetangga kita ada lah pengingat bahwa sebenarnya kita be rada dalam masa tunggu kematian.

Namun tidak sedikit dari kita yang lalai dengan kematian, lupa dengan siksa dan nikmat alam barzah, sehingga berle ha-leha dan terlalu bersemangat menge jar kenikmatan dunia yang fana ini.

Ada sebuah hadits yang mengisahkan tentang dahsyatnya alam kubur. Hadits ini bersumber dari Hani’, bekas budak Utsman bin Affan. Dia berkata: “Adalah sahabat Utsman jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sam pai membasahi janggutnya. Ketika beliau ditanya, ‘(Wahai Utsman) Ketika disebutkan tentang surga dan neraka, engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah bersabda (yang artinya): ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya. Rasulullah juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah; (dihasankan oleh Syaikh al-Albani.

Di dalam kita mengimani kematian ada beberapa hal point penting yang ha rus kita pahami.

Pertama, Adanya Tiga Pertanyaan di Alam Kubur.

Allah Ta’ala berfirman, :
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahim: 27)

Allah Ta’ala berfirman,
“…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS. al-An’am: 93).’

Dari al-Bara’ bin ‘Azib pula, Nabi menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan:
“Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.”

Kedua, Kubur akan Menjadi Sempit

Setelah mayat diletakkan di dalam kubur, kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit bin Sa’ad bin Mu’adz padahal kematiannya membuat arsy bergetar, pintu pintu langit terbuka serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya Dalam Sunan an-Nasa’i dari Ibnu Umar diriwayatkan Rasulullah bersabda :

“Inilah yang membuat ‘arsy bergetar, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh syaikh al-Albani. Lihat Misykah al-Mash abih 1:49; Silsilah ash-Shahihah, no. 1695)

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan, :
“Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat dari nya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, :
“Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya.

Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil pun tidak selamat dari penyempitan. Dari Anas bin Malik Nabi bersabda, :
“Jikalau seorang bisa selamat dari penyempitan kubur niscaya bayi ini bisa selamat.”

Al-Hakim at-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini karena tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya.”

Ketiga, Gelapnya Alam Kubur

Hal ini ditunjukkan oleh hadits: Dari sahabat Abu Hurairah bahwa se orang wanita hitam-atau seorang pemuda biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasulullah Rasulullah tidak menda patinya sehingga beliau n menanyakannya. Para sahabat menjawab, Dia telah meninggal’. Beliau berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya. Beliau bersabda, Tunjukkan kuburmya kepadaku’: lalu mereka menunjukkanmya, beliau pun kemudian menshalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allah menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” (HR. Bukhari 458/460, Muslim 956, dll)

ADZAB DAN NIKMAT KUBUR

Imam Ibnu Abil Izzi, penulis kitab al-Aqidah ath-Thahawiyah, berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya; Demikian juga pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib mengimani dan meyakini kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.”

Di dalam al-Qur’an terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan ada nya adzab kubur. Antara lain adalah Firman Allah tentang Fir’aun dan kaumnya:
“Fir’aun dan kaumnya dikepung adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. al-Mukmin: 45-46)

Imam Ibnu Katsir berkata ten tang ayat ini, “Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk”, yaitu tenggelam di lautan, kemudian pindah ke neraka Jahim. “Kepada mere ka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, sesungguhnya ruh-ruh mereka dihadapkan ke neraka pada waktu pagi dan petang sampai Hari Kiamat. Jika Hari Kiamat telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di neraka. Oleh karena inilah Allah berfirman: “Dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”, yaitu kepedihannya lebih dahsyat dan siksanya lebih -besar Dan ayat ini merupakan fondasi yang besar dalam pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan barzakh di dalam kubur, yaitu firman -Nya kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang. (Tafsir surat (45-46 :40/al-Mukmin

Imam al-Qurthubi mengatakan, “Mayoritas ulama menyatakan bahwa penampakan nereka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil penetapan adanya siksa kubur”. (Fathul Bari 11/233)

Penulis: Ustadz Rifaq LC.

Leave a Reply

Your email address will not be published.