Tips Membentuk Generasi Yang Shalih Shalihah

Anak yang shalih shalihah, anak yang menjadi penyejuk hati adalah dambaan semua orang tua yang beriman. Yang demikian itu karena begitu besarnya nikmat memiliki keturunan yang shalih.

Anak yang shalih manfaatnya bisa dirasakan orang tuanya untuk kurun waktu yang sangat panjang, bukan hanya di dunia akan tetapi juga di akhirat.

Berbeda halnya dengan anak berpangkat dan memiliki jabatan tapi tidak shalih. Harta kekayaan dan pangkat jabatannya hanya bisa dirasakan oleh orang tua sepanjang masa hidup orang tua di dunia saja. Ketika orang tua meninggal dunia manfaat anak tidak bisa dirasakan lagi.

Anggaplah anak menjadi sukses ketika orang tua berusia 50 tahun dan orang tua diberi umur panjang sampai 80 tahun, maka dalam kurun waktu 30 tahun orang tua ini akan bisa menikmati hasil kesuksesan anaknya, setelah orang tua meninggal, dia tidak bisa lagi merasakan nikmat kesuksesan anaknya.

Anak shalih masih tetap memberi manfaat ketika orang tuanya meskipun orang tua sudah meninggal dunia, melalui do’a dan amal ibadah anaknya. Anak akan menjadi aset dan investasi yang manfaatnya bisa terus dirasakan walau pun sudah di dalam kubur.

Demikian juga tatkala dia sudah beralih ke alam akhirat, dia akan terus mendapatkan manfaat dari anak shalih yaitu berupa ditinggikannya derajat dikarenakan anak shalihnya rajin beristighfar untuk dirinya. Sebagaimana Hal ini disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam :

“Sesungguhnya seseorang diangkat derajatnya di surga kemudian dia bertanya: dari mana ini semua aku peroleh? maka dikatakan kepadanya: dari istighfar yang dipanjat kan oleh anakmu.” (HR. Ahmad 2/509)

Karena begitu besarnya keutamaan anak shalih maka upaya untuk membentuk generasi yang shalih shalihah adalah upaya yang sangat penting dalam kehidupan berumah tangga.

Berikut ini ini adalah beberapa langkah-langkah yang bisa ditempuh orang tua untuk mewujudkan keturunan yang shalih dan shalihah:

Pertama: Berdo’a kepada Allah

Iya, berdo’a kepada Allah adalah upaya pertama dan utama. Shalih dan tidak shalihnya manusia adalah urusan hidayah, dan hidayah itu adalah wewenang Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.

Semua manusia tidak kuasa untuk memberi hidayah. Bahkan manusia yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassallam tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya, Abu Thalib, Hingga akhirnya Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan musyrik.

Demikian juga Nabi Nuh, beliau tidak kuasa untuk memberikan hidayah kepada putranya, sehingga putranya me ninggal dunia dalam keadaan kafir.

Jika demikian halnya maka berdo’a meminta hidayah untuk keshalihan anak adalah suatu hal yang tidak boleh disepe lekan.

Para Nabi dan Rasul pun memanjatkan do’a meminta keshalihan anak. Sedekat apapun hubungan mereka dengan Allah, tidak menjamin bahwasanya anak mereka pasti shalih shalihah, oleh karenanya mereka senantiasa berdo’a meminta kesalehan anak.

Nabi Ibrahim berdo’a: “Ya Allah jadikanlah aku orang yang senantiasa menegakkan shalat demikian juga anak keturunanku.”

Nabi Zakaria berkata dalam do’a nya: “Ya Allah berikan kepadaku dari sisimu keturunan yang baik.”

Jika mereka orang-orang shalih tidak lupa memanjatkan do’a, meminta ke shalihan anak maka tentunya kita lebih butuh untuk memperbanyak do’a ini.

Allah telah mengajarkan kepada kita agar memanjatkan do’a:

“Ya Allah ilhamkanlah kepadaku agar bisa mensyukuri nikmat nikmat Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan juga kepada kedua orang tuaku dan supaya aku bisa beramal shalih yang Engkau ridhoi dan perbaikanlah keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu dan sesungguh nya aku adalah orang yang berpasrah diri kepadaMu (QS: al-Ahqaf: 15)

Dari Malik bin Migwal ia berkata “Abu Mi’syar mengeluhkan kondisi anaknya kepada Thalhah bin Musharrif, maka Thalhah berkata: “Minta tolonglah dengan ayat ini dalam menghadapi masalah anakmu (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam ad-Dur al-Mantsur).

Kedua: Orang tua berusaha menjadi orang tua yang shalih

Allah berfirman dalam kisah Nabi Musa bersama Khidir yang arti nya:

“(Khidir mengatakan): Adapun tembok yang hampir roboh itu, sesungguhnya itu adalah milik dua anak yatim di kota tersebut, dan di bawah tembok tersebut ada harta simpanannya, dan bahwasanya ayah kedua anak yatim itu semasa hidupnya adalah orang yang shalih, maka Robb mu berkehendak supaya kedua anak yatim ini tumbuh dewasa, kemudian kelak akan mengeluarkan harta simpanan itu, sebagai bentuk Rahmat dari Rabbmu. (QS: al-Kahfi: 82)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: “Dua anak yatim ini dijaga berkat keshalihan bapaknya.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam al ‘lyal)

Ketiga: Memilih calon istri yang shalihah

Iya, seorang pria yang mendambakan anak yang shalih dan shalihah hendaknya dia berusaha terlebih dahulu mencari Ibu bagi anak-anak nya dari kalangan wanita yang shalihah, demikian juga wanita shalihah yang menginginkan anak yang shalih shalihah hendaknya dia berusaha untuk mencari bapak bagi anak-anaknya dari kalangan laki-laki yang shalih juga.

Rasulullah bersabda: “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, status sosialnya, kecantikannya dan agamanya. Utamakanlah yang memiliki kebaikan agama, kalau tidak, engkau akan merugi. (HR Bukhari: 5090)

Abul Aswad berkata kepada anaknya: “Wahai anak-anakku, aku sungguh telah berbuat baik kepada kalian di saat kalian dewasa, di saat kalian masih kanak-kanak bahkan di saat kalian belum dilahirkan.” Para anak berkata: “Bagaimana engkau berbuat baik kepada kami sebelum kami dilahirkan wahai bapak?” Abul As wad menjawab: “Aku memilihkan untuk kalian ibu yang baik yang dengannya kalian tidak terhinakan.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir)

Keempat: Memberikan suri teladan yang baik kepada anak

Keteladanan adalah salah satu metode yang sangat ampuh dan memberi pengaruh kuat kepada perilaku anak.

Allah menggambarkan bagaimana kaum terdahulu berada di atas kesesatan dikarenakan pengaruh tradisi orang tua mereka.

Kaum musyrikin menentang para Nabi dan Rasul seraya berargumen:

“Kami menjumpai bapak-bapak kami di atas sebuah ajaran agama dan kami akan senantiasa mengikuti jejak-jejak mereka. (QS: az Zukhruf: 23)

Maka inilah pentingnya orang tua selalu memberikan suri teladan yang baik kepada putra-putri mereka agar anak meniru keshalihan orang tua.

Fudhail bin lyyadh berkata: “Suatu ketika Malik bin Dinar melihat seseorang yang buruk shalatnya, kemudian beliau berkata: “Aku kasihan kepada keluarga nya” Ditanyakan kepada beliau: “Wahai Abu Yahya (Malik bin Dinar) orang ini buruk salatnya kemudian engkau kasihan kepada keluarganya Apa hubungannya?” Beliau menjawab: “Orang ini adalah panutan dalam keluarganya, mereka belajar dari dirinya.” (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah)

Muqatil bin Bunan berkata: “Saya pernah datang bersama bapak dan saudaraku kepada Abu Ishaq yaitu Ibrahim al-Harbi, maka beliau berkata kepada bapakku: “Apakah ini semua anak-anak mu?” Beliau menjawab: “Iya.” Ibrahim berkata: “Waspadalah. Jangan sampai anak-anakmu melihat dirimu melanggar larangan-larangan Allah, engkau akan bisa jatuh dari pandangan mereka.” (Dikeluar kan oleh al-Khatib dalam Tarikh al-Bagdad)

Kelima: Berdo’a ketika berhubungan suami istri

Dari Ibnu Abbas berkata bahwa sanya Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian ketika menda tangi istrinya mengucap

الله اللهم جنبنا الشيطان بشم وجنب الشيطان ما رزقتنا

Bismillah. Ya Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rezekikan kepada kami. Maka jika seandainya ditakdirkan lahir seorang anak dengan hubungan itu maka setan tidak akan memudharat kannya selamanya. (HR.Bukhari: 6388)

Hasan al-Bashri berkata: “Apabila seorang laki-laki hendak mendatangi istrinya hendaknya dia mengucapkan: ‘Bismillah, Ya Allah berkahilah kami pada apa yang akan Engkau berikan kepada kami, Dan jangan jadikan kesempatan bagi setan terhadap apa yang kau beri kan kepada kami.’ Jika seandainya ditakdirkan dengan hubungan ini sang istri hamil maka sangat diharapkan insya Allah anaknya menjadi anak yang shalih.” (Dikeluarkan oleh Abdurrazaq ;10467 dalam kitab Mushanaf nya)

Keenam: Menamai anak dengan nama yang baik

Dari Sa’id Bin Musayyib dari bapaknya (Musayyib) bahwasanya ia berkata: “Bahwa bapaknya pernah datang kepada Nabi dan Nabi bertanya: “Siapa namamu?” la menjawab: “Hazn (kesedihan) Maka Rasulullah bersabda: “Namamu sekarang Sahl (kemudahan)” Dia menjawab: “Aku tidak akan merubah suatu nama pemberian kedua orang tuaku. berkata Said bin musayyib: senantiasa duka dan musibah menimpa keluarga kami. (HR. Bukhari: 6191) A

Ketujuh: Membekali anak mila) dengan ilmu agama yang cukup

Sesungguhnya anak keturunan kita jika diberikan umur panjang niscaya mereka akan menghadapi zaman yang lebih berat ujiannya daripada ujian di zaman kita. Mereka sangat butuh bekal untuk menghadapi zaman yang lebih dahsyat fitnahnya itu, dan ilmu agama adalah bekal yang sangat baik untuk mereka.

PENUTUP

Inilah usaha-usaha yang syar’i untuk mewujudkan generasi yang shalih. Setelah kita menempuh upaya-upaya ini maka hanya ada dua kemungkinan: per tama berhasil mewujudkan anak yang shalih. atau gagal.

Seandainya kita berhasil maka kita mendapatkan dua kebaikan; kebaikan berupa anak shalih dan kebaikan berupa pahala jerih payahnya menempuh upaya. Jika ternyata kita gagal maka kita pun mendapatkan dua kebaikan juga. Kebaikan pahala dari usaha mendidik dan mengupayakan keshalihan anak, dan kebaikan pahala bersabar karena mendapatkan ujian berupa anak yang tidak shalih.

Keshalihan anak adalah murni karunia Allah. Jika seseorang telah menempuh upaya-upaya ini maka dia tidaklah tercela jika anaknya tidak shalih karena keshalihan anak di luar kemampuan dia. Nabi Nuh telah berusaha mendidik putranya, akan teta pi putranya meninggal dalam keadaan kafir. Hal ini sama sekali tidak menurunkan derajat beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul Ulul Azmi.


Oleh Ustadz Hafid al-Mustofa, Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published.