Filosofi Manajemen Ureung Aceh

Kita sering mendengar kata “manajemen” dan “manager”, apalagi bagi kita yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta. Saat kita kuliah pun kita sering mendengar bahkan mempelajari tentang manajemen.

Manajemen adalah bagian penting dalam kehidupan baik kehidupan kita sehari-hari ataupun kehidupan kita bekerja di kantor. Melansir dari https://tirto.id, bahwa Mirrian Sjofyan Arif dalam Hubungan Antara Administrasi, Organisasi, dan Manajemen menjelaskan bahwa manajemen adalah inti dari administrasi. Alasannya manajemen merupakan alat pelaksana administrasi dan memiliki peran atau kemampuan sebagai alat untuk mencapai hasil melalui aktivitas orang lain.

Masih dalam https://tirto.id, Henry Fayol dalam bukunya General Industrial Management (2013) mendefinisikan manajemen adalah proses tertentu yang terdiri atas kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengendalian dalam rangka mencapai tujuan.

Selanjutnya unsur manajemen ada 6 , atau sering disebut dengan “The Six M” atau 6M, yaitu: Man (manusia), Money (uang), Materials (bahan), Machine (mesin), Method (metode/tehnik) dan Market (pasar).

Selain unsur, ada juga fungsi manajemen, yang sering disingkat dengan POAC, yaitu Planning (Perencanaan), Orga izing (Pengorganisasian), Actuating (Penggerakan) dan Controlling (Pengawasan).

Demikian lah beberapa hal dipaparkan diatas yang terkait manajemen modern.

Sesungguhnya kita dalam kehidupan sehari-hari telah dan kadang selalu menerapkan proses manajemen, cuma kita tidak paham dan sadar bahwa yang kita lakukan adalah sesuatu yang disebut manajemen. Kita ambil contoh sederhana misalnya seorang petani. Seorang petani hendak ke sawah menggarap sawahnya. Tentunya didalam pikiran petani tersebut sudah terpikirkan bahwa sebelum dia menggarap sawahnya dia rencanakan dulu atau siapkan dulu kebutuhan seperti : cangkul, dan perlengkapan kerja lainnya. Dia harus rencana bibitnya, mungkin juga tenaga tambahan apakah anggota keluarganya ataupun minta bantuan orang lain dengan membayar upahnya. Kalau perlengkapan belum ada , dia harus rencana sumber uang untuk membelinya. Lalu, dia kumpulkan semua perlengkapan kerja dibawa ke sawah, dia kerahkan semua anggota keluarga atau orang upahannya untuk mengerjakan sawahnya, dia juga mengawasinya, memantau prosesnya sejak dari pembibitan, pengolahan tanah, penanaman dan sampai panen. Intinya proses panjang yang dilalui petani tersebut sebenarnya adalah sebuah proses manajemen.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh, sering kita mendengar orang-orang tua atau tokoh masyarakat menyebutkan beberapa tipe manajemen yang ditamsilkan dengan perumpamaan.

Penulis merekam ada 3 tipe manajemen yang sudah menjadi filosofi local wisdom masyarakat Aceh yang sering diucapkan saat berbicara tentang etos kerja yaitu :

1. Manajemen Koh Oek (tukang pangkas rambut).

Saya teringat Bang Amad, tukang pangkas langganan saya di Raja Pangkas Barber Shop, dengan profesinya pangkas rambut yg sudah digelutinya bertahun tahun..

Saya perhatikan bagaimana seorang Bang Amad dalam bekerja.

Tukang “koh oek” bekerja dari proses penerimaan pelanggan sampai finishing dia tangani sendiri.

Tukang pangkas sendiri yang menyapa langsung pelanggannya, meminta kita untuk menunggu jika ada beberapa pelanggan yang sudah duluan datang atau ada pelanggan yang sedang ditangani.

Tukang pangkas mengerjakan tugasnya sendiri memangkas rambut pelanggannya, mencukur kumis dan jenggot serta memijit-mijit kepala atau leher pelanggan.

Setelah selesai memangkas rambut, dll, selanjutnya adalah kita membayar jasanya kan. Coba ingat-ingat siapa yang menerima uang? Yang ngasih kembalian kalau uang kita lebih? Dia juga kan. Wah, fungsi kasir pun juga dilakukan oleh sendiri.

Tempat cukur tentunya menjadi tempat yang cukup kotor karena rambut berserakan dimana-mana. Lagi-lagi di sini dia membersihkan ruangan kerjanya sendiri. Menyapu rambut hasil pangkasan untuk dibuang.

Dari empat hal tadi kita bisa menarik kesimpulan bahwa seorang tukang “koh oek” benar-benar bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak terbayang di era modern seperti sekarang ini masih ada hal-hal yang bisa dilakukan sendiri.

“Bang Amad, tukang pangkas langganan saya”

Kita bisa saja mencontoh kegigihannya dalam bekerja namun dalam pekerjaannya tidak ada unsur organisasi yang memungkinkan orang lain untuk membantunya. Jika organisasi didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang mempunyai visi sama dan bekerja bersama-sama. Maka saat berorganisasi atau menjadi bagian dari sebuah organisasi, janganlah bekerja sendiri. Kemampuan team work akan lebih efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah-masalah .

Dari proses penerimaan pelanggan sampai finishing dia tangani sendiri. Dia tidak pernah mengenal mendistribusikan kepemimpinan kepada yang lain. Ia tetap memusatkan diri pada kekuatan sendiri. Ia tidak membutuhkan staf ahlinya, tidak perlu perencanaan yang ribet, tidak perlu merealisasikan visi dan misi, tidak ada unsur dan proses manajemen modern sama sekali….yah…seperti itulah manajemen Koh Oek…

2. Manajemen Seumanoe Guda ( Memandikan Kuda)

Manajemen dengan filosofi “Seumanoe Guda” ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin ibarat orang yang memandikan kudanya di sungai.

Kuda tidak akan turun sendiri ke dalam sungai kalau empunya tidak lebih dulu masuk ke dalam sungai. Artinya, seorang pemimpin di samping harus tahu, mesti mau berbuat, berani mengambil keputusan, dan memberi keteladanan.

Seorang pemimpin harus berorientasi pada solusi meski kadang pahit dan tak populis. Pemimpin juga harus berani menanggung risiko meski tetap harus memitigasi risiko untuk mereduksi potensi kejadian negatif.

“Memimpin itu harus memberi leading by example (keteladanan).”

Perlu memberikan contoh dan teladan sebelum melakukan anjuran atau suruhan, tidak cukup hanya dilakukan dengan metode doktrin dan pemaksaan.

Begitu juga dalam hal manajemen mendidik Anak. Anak akan mematuhi dan mentaati orang-orang dewasa yang mampu memberikan contoh dan teladan. Seorang adik akan menurut perintah kakaknya untuk shalat dan berdoa jika sang adik memang sering melihat kakaknya melakukan itu.

Siswa akan meniru pola hidup sederhana yang diajarkan gurunya bila memang sang guru selalu berpenampilan sederhana. Di rumah tangga, seorang anak akan rela dan ikhlas melaksanakan disiplin rumah tangga jika memang kedua orang tuanya selalu disiplin dan konsekuen menjalankan peraturan rumah tangga.

Metode keteladanan dalam mendidik jauh lebih ampuh daripada metode doktrin dan pemaksaan.


3. Manajemen Seumanoe Keubeu (Memandikan Kerbau)

Manajemen dengan filosofi “Seumanoe Keubeu” adalah kebalikan dari manajemen “Seumanoe Guda”.

Pemiliknya tidak perlu harus turun duluan ke sungai, cukup dilepas dan dihalau ke sungai, kerbau mandi sendiri.

Seorang pemimpin tipe ini biasanya bersifat otoriter. Dia hanya memerintahkan anak buahnya dibelakang meja dan kursi kebesarannya.

Pemimpin dengan gaya “Seumanoe Keubeu” tidak mau tahu dengan alasan anak buahnya, yang penting semua instruksi dan tujuannya harus tercapai, terserah anak buahnya berimprovisasi dan berinisiatif sendiri.

Tidak ada keteladanan, yang ada hanya doktrin dan pemaksaan kehendak. Apabila staf atau bawahan atau anak buahnya tidak becus dan tidak bekerja sesuai kehendaknya, tidak segan-segan diambil tindakan tegas, tanpa ada kompromi.

Itulah 3 (tiga) tipe manajemen yang sering menjadi bahan pembicaraan dan perumpamaan di dalam masyarakat Aceh. Sekiranya menurut anda ada lagi filosofi manajemen lainnya silakan tuliskan di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.