CELAH SETAN Dalam Menggoda Manusia

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa setan selalu berusaha menyesatkan kita. Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah: 168-169)

Dalam menggoda manusia, setan memiliki empat pintu utama, dari pintu ini akan terbuka pintu kemaksiatan lainnya.

Dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (12:816), ImamIbnul Qayyim rahimallah berkata :

“Hendaknya menahan diri dari (1) pandangan yang tak bisa terjaga, (2) banyak bicara, (3) banyak makan, (4) dan banyak bergaul. Hal-hal ini merupakan empat pintu setan dalam menguasai manusia dan jalan setan mencapai tujuannya. Enggan menundukkan pandangan akan mengantarkan pada menganggap baik (istihsan), yang dilihat akan menancap dalam hati, pikiran pun akan sibuk membayangkannya, hingga berpikiran agar tercapai tujuan.”

Pembahasan ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim ketika mengkaji kaidah-kaidah bermanfaat dalam melindungi hamba dari tipu daya setan dan dari gangguannya.”

PERTAMA: BANYAK MEMANDANG

Dalam surah an-Nuur kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluan nya” (QS. an-Nuur: 30)

Wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan nya, dan kemaluannya.” (QS. an-Nuur: 31) Dalam hadits disebutkan, :

“Zina kedua mata adalah dengan melihat.”

(HR. Muslim, no. 6925)

Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata :
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)

KEDUA: BANYAK BICARA

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, : “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, berkatalah yang baik, ataukah diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47)

Dari Mu’adz bin Jabal ia berkata bahwa Nabi bersabda, :
“Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka me lainkan dengan sebab lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan)

Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada dua, yaitu berbicara bathil, dan diam dari al-haq yang wajib diucapkan.

Abu ‘Ali ad-Daqqaq (wafat 412 H) berkata:
“Orang yang berbicara dengan kebathilan adalah setan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.”

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya ada seseorang yang berbi cara dengan satu kalimat yang dia sepele kan namun dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka?

KETIGA: BANYAK MAKAN

Dari al-Miqdam bin Ma’dikaribis ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda,:

“Tidak ada tempat yang lebih jelek dari pada memenuhi perut manusia. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang da pat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk diisi, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.”

Ibnu Rajab mengatakan, “Membatasi makanan bermanfaat bagi hati, hati semakin lembut, pemahaman semakin mantap, jiwa semakin tenang, hawa nafsu jelek tertahan, dan marah semakin terkendali. Hal ini berbeda dengan kondisi seseorang yang banyak makan.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:469)

KEEMPAT: BANYAK BERGAUL

Dari Abu Hurairah Nabi bersabda,

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perha tikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.”

Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim dalam Badaai’ Al Fawaid:

1. Bergaul seperti keadaan orang yang membutuhkan makanan. Terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya ada lah bergaul dengan para ulama.

2. Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat. Dicari ketika dibutuhkan saja, contohnya adalah usaha/bekerja, berdiskusi, atau berobat saat saat sakit.

3. Bergaul yang malah mendapatkan keburukan.

4. Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah, yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya.

Kalau kita mau merinci, memang benar-benar nyata apa yang dinyatakan oleh Ibnul Qayyim, dosa-dosa berasal dari empat pintu setan:

1. Pandangan yang tidak dijaga akan mengantarkan pada perbuatan zina dan perselingkuhan.

2. Banyak bicara (tidak menjaga lisan) akan mengantarkan pada suka memfitnah dan ghibah.

3. Banyak makan bisa mengantarkan orang pada perbuatan memakan harta haram, yang penting harta dapat diperoleh dengan cara apa pun walaupun dengan cara menzalimi oran lain, melakukan gharar (pengelabuan), atau memakan riba.

4. Salah bergaul berakibat mendapatkan lingkungan yang jelek, akhirnya menjadi perokok, pecandu narkoba, minum minuman keras dll.

Dalam sebuah hadits Rasululah menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau yang artinya:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR.Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan: “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”(Fathul Bari 4/324)

Para ulama pun memiliki nasihat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin ‘lyadh berkata,
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.”

Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang orang shalih lainnya.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari tipu daya setan. Hanya kepadaNya kita bertawakkal.


Oleh Ustadz Rifaq LC.

Leave a Reply

Your email address will not be published.