Teori Adaptasi Sister Callista Roy (Roy’s Adaption Model) dalam Keperawatan

ADAPTASI adalah bagaimana organisme dalam hal ini manusia untuk mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya agar dapat bertahan hidup. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia selalu dihadapkan berbagai persoalan yang kompleks, sehingga dituntut untuk melakukan adaptasi.

Dalam menghadapi masalah kesehatan yang terjadi pada pasien, perawat dituntut untuk mampu memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Salah satu model pelayanan keperawatan yang dapat digunakan adalah Model Adaptasi Calista Roy, dimana Roy memandang setiap manusia pasti mempunyai potensi untuk dapat beradaptasi terhadap stimulus, baik stimulus internal maupun eksternal dan kemampuan adaptasi ini dapat dilihat dari berbagai tingkatan usia.

Teori adaptasi Roy merupakan teori model keperawatan yang menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku adaptif serta mampu merubah perilaku yang inadaptif. Roy menyatakan jika manusia merupakan system yang adaptif.

Model Adaptasi dari Roy ini dipublikasikan pertama pada tahun 1970 dengan beberapa asumsi dasar.

Sister Callista Roy lahir pada tanggal 14 Oktober 1939 di Los Angeles, California. Roy menyelesaikan pendidikan Diploma Keperawatan pada tahun 1963 di Mount Saint Mary’s College, Los Angeles dan menyelesaikan Master Keperawatan di California University pada tahun 1966.

Roy menyelesaikan PhD Sosiologi pada tahun 1977 di Universitas yang sama. Roy bersama Dorothy E. Johnson mengembangkan teori model konseptual keperawatan. Ketika bekerja sebagai perawat anak, Roy melihat suatu perubahan besar pada anak dan mereka berkemampuan untuk beradaptasi dalam respon yang lebih besar terhadap perubahan fisik dan psikologis.

Roy mengembangkan dasar konsep keperawatannya pada tahun 1964- 1966 dan baru dioperasionalkan pada tahun 1968. Pada saat itu Mount Saint Mary’s College mengadopsi teori adaptasi sebagai dasar filosofi kurukulum keperawatannya. Roy menjabat sebagai asisten Professor pada Departemen Nursing di Mount Saint Mary’s College pada tahun 1982.

Roy dengan fokus adaptasinya pada manusia terdapat empat elemen esensial yaitu pada aspek :

  1. Keperawatan
  2. Manusia
  3. Kesehatan
  4. Lingkungan

KEPERAWATAN

Menurut Roy keperawatan di definisikan sebagai disiplin ilmu dan praktek.

Keperawatan sebagai disiplin ilmu mengobservasi, mengklasifikasikan, dan menghubungkan proses yang berpengaruh terhadap kesehatan.

Keperawatan menggunakan pendekatan pengetahuan untuk menyediakan pelayanan bagi orang-orang.

Keperawatan meningkatkan adaptasi individu untuk meningkatkan kesehatan, jadi model adaptasi keperawatan menggambarkan lebih khusus perkembangan ilmu keperawatan dan praktek keperawatan. Dalam model tersebut keperawatan terdiri dari tujuan perawat dan aktifitas perawat.

MANUSIA

Roy menyatakan bahwa penerima jasa asuhan keperawatan adalah individu, keluarga, kelompok, komunitas atau sosial. Masing-masing dilakukan oleh perawat sebagai system adaptasi yang holistic dan terbuka.

Interaksi yang konstan antara individu dan lingkungan dicirikan oleh perubahan internal dan eksternal. Dengan perubahan tersebut individu harus mempertahankan intergritas dirinya, dimana setiap individu secara kontinyu beradaptasi.

Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistik sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, kontrol, out put dan proses umpan balik.

KESEHATAN

Roy mendefinisikan sehat sebagai suatu continuum dari meninggal sampai tingkatan tertinggi sehat. Dia menekankan bahwa sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya dan menjadikan dirinya secara terintegrasi secara keseluruhan, fisik, mental dan social. Integritas adaptasi individu dimanifestasikan oleh kemampuan individu untuk memenuhi tujuan mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi.

Sakit adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk beradapatasi terhadap rangsangan yang berasal dari dalam dan luar individu.

Kondisi sehat dan sakit sangat individual dipersepsikan oleh individu. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi (koping) tergantung dari latar belakang individu tersebut dalam mengartikan dan mempersepsikan sehat-sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, budaya dan lain-lain.

LINGKUNGAN

Roy mendefinisikan lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal dari internal dan eksternal, yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dari perilaku seseorang dan kelompok.

Lingkunan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman.

Sedangkan lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa pengalaman, kemampuan emosioanal, kepribadian) dan proses stressor biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu.manifestasi yang tampak akan tercermin dari perilaku individu sebagai suatu respons.

Asumsi Dasar Teori Adaptasi Roy

1. Setiap orang selalu menggunakan koping yang bersifat positif maupun negatif. Kemampuan beradaptasi seseorang dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu ; penyebab utama terjadinya perubahan, terjadinya perubahan dan pengalaman beradaptasi.

2. Individu selalu berada dalam rentang sehat – sakit, yang berhubungan erat dengan keefektifan koping yang dilakukan untuk memelihara kemampuan adaptasi.

INPUT

Input sebagai stimulus, merupakan kesatuan informasi, bahan-bahan atau energi dari lingkungan yang dapat menimbulkan respons, dimana dibagi dalam tiga tingkatan yaitu: stimulasi fokal, stimulus kontekstual dan residual.

Stimulus fokal merupakan stimulasi yang langsung berhadapan dengan seseorang dan menimbulkan efek segera, stimulasi kontekstual yaitu semua stimulasi lain yang dialami seseorang baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat diobservasi, diukur, secara subjektif dilaporkan. Rangsangan ini muncul secara bersamaan dimana dapat menimbulkan respon negatif pada stimulasi fokal. Stimulasi residual merupakan ciri-ciri tambahan yang ada dan relevan dengan situasi yang ada tetapi sukar untuk diobservasi meliputi : sikap, kepercayaan dan lain-lain.

KONTROL

Proses kontrol seseorang menurut Roy adalah bentuk mekanisme koping yang digunakan.

Mekanisme kontrol ini dibagi atas regulator dan kognator. Subsistem regulator mempunyai komponen-komponen: input-proses dan output. Input stimulasi berupa internal atau ekstenal. Transmiter regulator system adalah kimia, nueral atau endokrin.

Refleks otonom adalah respon neural dan brain, spinal cord yang diteruskan sebagai prilaku output dari regulator sistem, banyak proses fisiologi yang dapat dinilai sebagai prilaku regulator subsisytem.Subsystem kognator dapat internal maupun eksternal, prilaku output dari regulator subsytem dapat menjadi stimulasi umpan balik untuk kognator subsystem.

 Kognator kontrol proses berhubungan dengan fungsi otak dalam memproses informasi, penilaian dan emosi. Persepsi atau proses informasi berhubungan dengan proses internal dalam memilih atensi, mencatat dan mengingat (Roy & Andrew, 1999 ; Tomey & Alligood, 2006).

OUTPUT

Output dari suatu system menurut Roy & Andrew (1999) adalah prilaku yang dapat diamati, diukur atau secara subjektif dapat dilaporkan baik dari dalam maupun dari luar.

Prilaku ini merupakan umpan balik untuk system.

Roy mengkategorikan output system sebagai respons yang adaptif atau respon yang tidak mal adaptif. Respon yang adaptif dapat meningkatkan integritas seseorang yang secara keseluruhan dapat terlihat bila seseorang tersebut mampu melaksanakan tujuan yang berkenaan dengan kelangsungan hidup, perkembangan, reproduksi dan keunggulan. Sedangkan respons mal adaptif yang tidak mendukung tujuan ini.

Prilaku yang dihasilkan dari mekanisme regulator dan kognator diobservasi dalam 4 kategori atau model adaptif. Model itu digunakan sebagai kerangka kerja pengkajian (Roy & Andrews 1999). Yang terdiri dari mode fisiologis, mode konsep diri (self-concept), mode fungsi peran (role function), dan mode interdependensi (interdependence).

MODEL ADAPTIF

Model fisiologi menurut Roy & Andrews (1999) berhubungan dengan struktur tubuh dan fungsinya. Berkaitan dengan cara seseorang berespons secara fisik terhadap stimulasi yang berasal dari lingkungan. Roy mengidentifikasi 9 kebutuhan dasar fisiologis yang harus dipenuhi untuk mempertahankan integritasnya, yaitu oksigenisasi dan ventilasi, cairan dan elektrolit, eliminasi, nutrisi, aktifitas dan istirahat, fungsi system endokrin, perlindungan kulit, sensori dan fungsi saraf.

Model konsep diri (Self Concept) ditekankan pada persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan. Konsep diri sulit dijelaskan karena berkaitan dengan perasaan dan keyakinan yang menjelaskan bahwa individu mengetahui siapa dirinya dan perasaan dirinya yang adekuat dalam memenuhi keinginannya.

Model konsep diri menurut Roy & Andrew (1999) memiliki 2 komponen yaitu physical self dan personal self. Physical self meliputi bagaimana seseorang merasakan dirinya terkait dengan perasaan, sensasi, penampilan dan pandangan diri. Pada area ini dapat terlihat pada saat merasa kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau hilangnya kemampuan seksual. Sedangkan personal selfberkaitan dengan konsistensi diri, idial diri dan moral etis spiritual diri. Pada area ini yang berat adalah terlihat pada perasaan cemas atau takut serta hilangnya kekuatan.

Model fungsi peran (role function) menekankan pada psikososial dalam menjalankan peran individual dan peran sosial. Roy& Andrews (1999) menggambarkan kebutuhan pokok yang mendasari mode ini diidentifikasikan sebagai integritas sosial yaitu kebutuhan untuk mengenal seseorang dalam berhubungan dengan orang lain secara positif. Prilaku yang ditampilkan pada mode ini adalah prilaku instrumental atau ekspresif. Ketidakmampuan menguasai peran mengakibatkan konflik antara dua peran atau banyaknya peran akan menimbulan konflik.

Mode Interdependensi merupakan mode yang berfokus pada interaksi yang berkaitan terhadap kebutuhan memberi dan menerima cinta, perhatian dan nilai. Ada dua hubungan yang spesifik sebagai fokus mode interdependensi yaitu orang lain yang berarti dan sistem pendukung. Interdependensi dapat dilihat dari keseimbangan antara dua nilai ekstrim, memberi dan menerima (Roy & Andrews, 1999).

PENGKAJIAN PERILAKU

Pengkajian prilaku (behavior) merupakan langkah pertama proses keperawatan menurut Model Adaptasi Roy. Perilaku itu dapat diamati, diukur, dan dilaporkan secara subjektif oleh seseorang, sehingga prilaku terdiri dari 2 hal yaitu prilaku yang dapat diobservasi dan prilaku yang tidak dapat diobservasi.

Perawat bisa mengetahui yang sedang terjadi dengan mengetahui tingkah laku yang ditampilkan. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan cara penilaian, pengukuran dan interview. Oleh karena itu, perawat memerlukan keahlian observasi, pengukuran, dan wawancara (Roy & Andrews, 1999 dalam Tomey & Alligood, 2006).

PENGKAJIAN STIMULUS

Stimulus merupakan sesuatu yang menimbulkan respon. Pengkajian stimulus diarahkan pada stimulus fokal yang merupakan perubahan prilaku yang dapat diobservasi. Stimulus kontekstual berkontribusi terhadap penyebab terjadinya prilaku atau presipitasi oleh stimulus fokal. Sedangkan stimulus residual yang mempengaruhi adalah pengalaman masa lalu.

Beberapa faktor dari pengalaman masa lalu relevan dalam menjelaskan bagaimana keadaan saat ini. Hal umum yang mempengaruhi stimulus antara lain budaya (status sosial ekonomi, etnik, sistem kepercayaan), keluarga (struktur, kerja), tahap perkembangan (usia, kerja, keturunan, dan faktor genetika), mode adaptif integritas (fisiologi dan patologis, konsep diri, fungsi peran, interdependensi), efektifitas kognator (persepsi, pengetahuan, keahlian), dan pertimbangan lingkungan (pengobatan, penggunaan obat tertentu, tembakau, alkohol).

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan menurut teori adaptasi Roy adalah sebagai suatu hasil dari pengambilan keputusan berhubungan dengan kurang mampunya adaptasi.

Diagnosa keperawatan dirumuskan dengan mengobservasi tingkah laku klien terhadap pengaruh lingkungan.Menurut Roy& Andrews (1999); Tomey & Alligood, (2006), ada 3 metode dalam menetapkan diagnosa keperawatan yaitu suatu pernyataan dari prilaku dengan stimulus yang sangat mempengaruhi, suatu ringkasan tentang prilaku dengan stimulus yang relevan, serta penamaan yang meringkaskan pola prilaku ketika lebih dari satu mode kena dampak oleh stimulus yang sama.

PENETAPAN TUJUAN

Tujuan pada intervensi keperawatan adalah untuk mempertahankan dan mempertinggi perilaku adaptif dan mengubah perilaku inefektif menjadi adaptif.

Penetapan tujuan dibagi atas tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka panjang meliputi: hidup, tumbuh, reproduksi dan kekuasaan. Sedangkan tujuan jangka pendek meliputi: tercapainya tingkah laku yang diharapkan setelah dilakukan manipulasi terhadap stimulasi fokal, kontektual dan residual (Roy & Andrews, 1999; Tomey &Allagood,2006)

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI

Intervensi keperawatan memfokuskan pada cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Intervensi keperawatan berisi manajemen terhadap stimulus yang mempengaruhi prilaku dan mengubah atau memanifulasi stimulasi fokal, kontekstual dan residual, juga difokuskan pada koping individu sehingga seluruh stimulasi sesuai dengan kemampuan individu untuk beradaptasi.

Intervensi keperawatan dinilai efektif jika tingkah laku pasien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dengan cara merubah, meningkatkan, menurunkan, menghilangkan, atau memelihara stimulus tersebut. Perubahan stimulus mempertinggi kemampuan mekanisme koping seseorang untuk berespon positif dan menghasilkan prilaku yang adaptif.

Intervensi keperawatan ditetapkan berdasarkan 4 hal yang meliput: apa pendekatan alternatif yang akan dilakukan, apa konsekuensi yang akan terjadi, apakah mungkin tujuan tercapai oleh elternatif tersebut, dan nilai alternatif itu diterima atau tidak. Intervensi keperawatan ini dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain (pasien, keluarga, dan tim kesehatan lain).Roy & Andrews (1999); Alligood & Tomey (2006),

Implementasi menurut Roy & Andrews (1999); Alligood & Tomey (2006), merupakan uraian yang lebih rinci dari intervensi keperawatan yang telah terpilih. Implementasi keperawatan lebih menguraikan bagaimana tujuan keperawatan tercapai dalam memanajemen stimulus yang ada.

EVALUASI

Menurut Roy & Andrews (1999), evaluasi merupakan penilaian efektif terhadap intervensi keperawatan sehubungan dengan tingkah laku pasien. Oleh karena itu, evaluasi tersebut menjadi refleksi dari tujuan keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Perawat harus mengkaji tingkah laku pasien setelah diimplementasi. Intervensi keperawatan dinilai efektif jika tingkah laku pasien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Referensi :

http://rsudpurihusada.inhilkab.go.id/pendekatan-teori-keperawatan-pada-asuhan-keperawatan-model-adaptasi-roy/

https://nurseslabs.com/sister-callista-roys-adaptation-model/

https://mediaperawat.id/teori-keperawatan-sister-calista-roy/

Inihttps://www.koran-metro.com/2020/01/08/penerapan-teori-adaptasi-calista-roy-dalam-pemberian-asuhan-keperawatan/

Leave a Reply

Your email address will not be published.