Kekuatan Pikiran Adalah Kunci

Jika ingin mengubah buahnya, maka ubahlah akarnya terlebih dahulu

SYafii EFENDI

“Jika ingin mengubah buahnya, maka ubahlah akarnya terlebih dahulu.” Kalimat ini apabila diresapi secara mendalam dapat dimaknai bahwa apapun pangkal muasalnya bersumber dari “yang mendasar” yang menentukan hasil dari sebuah proses tertentu, yaitu pikiran.

Artinya, untuk bisa menjalani kehidupan secara benar, sebagai manusia harus berawal dari bagaimana membenahi mindset atau bahasa sederhananya bisa diterjemahkan sebagai “pola pikir” Begitu juga dalam mencetak perubahan besar, termasuk dalam mengatasi problematika kehidupan, di mana pola pikir sangat berpengaruh terhadap pencapaian yang diperoleh. Melakukan hal benar hanya mungkin terjadi ketika pola pikir yang yang digunakan sebagai perkakasnya juga berada pada jalur yang benar. Singkat cerita pola pikir adalah penentu segala urusan dalam kehidupan ini.

Karena untuk mengubah sebuah nasib, kita tentu harus mengubah tindakan. Dan untuk mengubah tindakan berarti kita harus mengubah apa isi pikiran kita. Maka jangan berharap melakukan hal yang sama untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Dalam hal ini mindset sangat penting sebab merupakan akar dari berbagai persoalan hidup kita, mulai dari kebahagiaan, kesedihan, menang ataupun kalah. Banyak hal tidak lagi ada artinya saat kita belum memaknai apa yang tertanam dalam pikiran.

Untuk soal ini, saya pribadi sejak lama mempelajari dan meneliti tentang mindset, setidaknya selama lima tahun terakhir dengan merujuk pada para pemimpin besar di dunia. Saya mencermati kebiasan keseharian mereka, karakter bahkan sifat mereka. Hasilnya, saya menemukan banyak di antara mereka yang memiliki pola pikir agak unik, berbeda bahkan berada di atas rata-rata orang kebanyakan.

Itu sebabnya saya berkeyakinan, kekuatan pikiran sangat berpengaruh atas apapun yang kita ambil, termasuk dalam mengambil keputusan-keputusan penting. Teman-teman pasti ingat, bahwa tiap pencapaian besar dari banyak tokoh tentu diikuti keputusan-keputusan besar yang berani bahkan penuh dengan risiko.

Keberanian mengambil keputusan ini biasanya dipengaruhi dua hal, yaitu: pertama, mindset personal kita. Dan kedua, lingkungan terdekat atau pendukung kita yang tentunya mewarnai mindset kita. Dalam hal ini, sebagai kaum muda yang memahami kondisi demikian, tugas kita cukup menata pikiran agar menempa dan mengarahkan mindset agar menjadi kelas pemenang. Sebab mindset petarung pada akhirnya cepat atau lambat akan memimpin Indonesia menjadi jauh lebih tinggi dan menjadi lebih baik lagi.

Mindset yang baik bukan hanya berguna pada kehidupan keseharian, melainkan juga penting untuk level bagaimana mengelola negara. Kita tentu ingat Presiden Jokowi, di awal periode pertamanya, selalu menggencarkan kampanye Revolusi Mental. Kesadaran ini sesungguhnya satu tarikan dengan apa yang saya sampaikan mengenai pentingnya mindset. Tapi sayangnya, Revolusi Mental mungkin belum sepenuhnya terjadi ada dalam tindak-tanduk kita dalam berbangsa dan bernegara. Untuk itu, dalam kesempatan ini mudah-mudahan bisa memicu tiap kita untuk menempa, memperbaruhi dan meningkatkan mental-mental baru yang unggul, mulai dari yang terkecil, dari diri sendiri, lingkungan keluarga, organisasi hingga di level bermasyarakat.

Tengok saja, negara seperti Singapura, Jepang ataupun Eropa barangkali jauh lebih maju untuk urusan mental. Di negara negara tersebut, bisa dicermati dari hal yang paling kecil, yaitu adanya budaya antre yang barangkali kurang kita temukan di Tanah Air. Bahkan orang Indonesia yang melancong ke negara tersebut mendadak ikut tertib. Di sinilah saya percaya bahwa ternyata kebaikan itu menular. Tapi lucunya saat mereka kembali ke Indonesia, karakter budaya antre yang mereka terapkan di negara tetangga, begitu menjalani keseharian di sini ternyata tiba-tiba pudar.

Inilah contoh sederhana dari begitu dahsyatnya dampak mindset. Seandainya mindset positif tumbuh berkembang menjadi semacam “budaya” yang melekat dalam keseharian kita tentu kehidupan akan jauh lebih baik.

Dalam hal ini setidaknya ada lima hal yang bisa Anda lakukan agar memiliki mindset pemenang. Pertama, teachable. Maksudnya, kita sebagai pemimpin adalah cukup membuka diri untuk tugas terus selalu mau belajar dan beradaptasi. Kita tidak boleh merasa selalu pintar sendiri dan berhenti belajar apalagi perkembangan zaman berubah dengan sangat cepat. Kita pun harus berani mencoba hal-hal baru yang mungkin tidak terpikirkan orang lain. Sikap ini akan membuat kita sanggup mengikuti gelombang sejarah. Ambil contoh, di era pandemi Covid-19, keadaan menuntut kita untuk beraptasi yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, seperti menggelar zoom meeting atau menggunakan teknologi digital untuk banyak kepentingan. Sikap teachable ini akan membuat kita lebih elastis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Kedua, realistis. Berpikir realistis terkadang membuat kita lebih tenang menjalani kehidupan. Mungkin ini tidak dikehendaki banyak orang apalagi yang gagal move on saat mengalami pukulan masalah. Bahkan kadang untuk menyelesaikan sesuatu kita tanpa disadari mencari-cari alasan atau kalimat yang sekadar menjadi alat pembenaran. Yang intinya ingin menegaskan bahwa kesalahan bukan ada pada diri kita atau kendali bukan ada di tangan diri sendiri. Padahal jika kita mau realistis maka akan membuat lebih objektif dalam menghadapi masalah. Di sisi lain, semua yang terjadi pada diri kita berlaku hukum sebab akibat. Bisa saja akibat perbuatan kita sendiri.

Dengan demikian, menerima secara realistis apapun yang hadir dalam kehidupan kita menjadi sangat penting. Objektiflah memandang sesuatu, terimalah apa adanya. Jangan pernah mencari alasan untuk menutupi objektifitas kita, termasuk untuk merespon segala masalah yang menimpa kita. Sikap realistis ini membawa kita siap menang, juga siap kalah. Dalam bahasa yang agak lain, pendiri Apple Steve Jobs menyebut: “sometimes you win, sometimes you learn.” Kadang Anda menang, kadang Anda belajar.

Ketiga, menyukai tantangan. Para pemimpin di mana pun mereka berada tercatat dalam sejarah selalu punya karakter ini. Mereka sangat suka tantangan, bahkan hasilnya pun awalnya belum diketahui akan diperoleh atau berakhir kandas. Tetapi dengan penuh keyakinan, mereka menjalani tantangan dengan berbekal visi di dalam hatinya. Alhasil, sesuatu yang mustahil itu akhirnya bisa terwujud. Percayalah, tiap persoalan semula yang kita hadapi adalah kesempatan yang membawa kita naik kelas menuju tingkat yang lebih tinggi lagi.

Keempat, mau berkolaborasi. Hal ini tidak bisa diterapkan bagi orang yang memiliki ego tinggi. Apalagi melibatkan orang lain masuk untuk ikut mewarnai keputusan-keputusan penting dalam kehidupan kita. Padahal apabila kita mau sedikit menurunkan ego, akan banyak pilihan alternatif yang bakal membantu kita tumbuh berkembang, termasuk di ranah organisasi atau kelembagaan bisnis.

Kolaborasi adalah keniscayaan jika ingin memenangkan pertarungan di zaman ini. Hampir tidak ada manusia di dunia ini yang sukses sendirian. Apalagi era seperti sekarang, menunjukkan dunia semakin kompleks. Sehingga kita membutuhkan banyak “senjata-senjata baru” untuk menghadapi tantangan zaman yang kian anda cepat berubah.

Kelima, keberlimpahan (abundance). Maksud dari tatanan berpikir ini adalah bagaimana mengikhlaskan apapun yang diberikan kita kepada orang lain tanpa berharap adanya timbal balik dalam bentuk apapun. Pola pikir ini sesungguhnya tentang bagaimana mengeluarkan sebanyak-banyak sambil berharap bahwa Tuhan akan memberikan gantinya yang jauh lebih besar, mulia dan bermakna daripada apa yang diharapkan dari sesama manusia.

Hal demikian mengingatkan saya pada perkataan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW: “Jika anda ingin kecewa maka berharaplah kepada manusia dan jika ingin bahagia maka berharaplah kepada Tuhan yang Maha Esa.

Dengan begitu, berhati-hatilah terhadap pola pikir yang satu ini, karena dapat membuat Anda menjadi pribadi yang sempit apabila Anda tidak memiliki mindset tentang keberlimpahan.

Ditulis oleh Syafi’i Efendi, dalam buku ” INDONESIA RECOVERY MENYAMBUT MUSIM SEMI PASCA PENDEMI, SYAFII EFENDI &PARTNERS

Leave a Reply

Your email address will not be published.