Mukhlis Takabeya : Diantara Pilihan

Melamar Gadis Idaman

Sadriah telah siap untuk dipinang. Cinta keduanya kian lengket seperti Romeo dan Juliete, laksana Laila dan Majnun. Dalam tiap detak jantung keduanya hanya nama sang tercinta yang disebut. Dalam tiap lantunan doa, keduanya saling meminta kepada Ilahi agar segera disatukan dalam mahligai rumah tangga.

Ternyata ujian belumlah usai. Mukhlis yang mulai bersinar di lapangan, ternyata masih dianggap belum sepadan untuk meminang Sadriah yang berasal dari keluarga berada. Untuk memutus mata rantai cinta keduanya, beberapa kali Sadriah dijodohkan dengan orang lain. Semuanya ditolak oleh perempuan muda itu. Ia tidak ingin berumah tangga dengan lelaki yang tidak dicintainya. Ia tak butuh lelaki mapan, apalagi bila kekayaan itu warisan dari orangtuanya.

Sadriah benar-benar hanya ingin dipinang oleh Mukhlis saja, pemuda kampung, yatim sejak kecil, miskin, tapi memiliki tekad untuk berjuang mengubah peruntungan. Di mata Sadriah, Mukhlis telah memenuhi syarat untuk menjadi pendampingnya.

Orangtua Sadriah dibuat tak berkutik. Mereka tidak mampu lagi melawan keinginan sang putri. Akhirnya mereka ditunangkan setelah Rabiah dan Asma datang melamar. Dengan segenap rasa kecewa, ayah dan ibunya harus menerima pilihan sang buah hati.

Setahun bertunangan, akhirnya mereka menikah. Keduanya mengikat janji suci di depan penghulu pada 9 September 1997 Masehi, bertepatan dengan 7 Jumadil Ula 1418 Hijriah, di Kantor Urusan Agama. Usia mereka sebaya, Sadriah lahir 26 Mei 1972, sedangkan Mukhlis lahir pada 15 Januari 1972.

Cinta dan kasih sayang di antara keduanya telah menyirnakan semua perbedaan-perbedaan kecil.

Sadriah ingat, saat pesta pernikahan mereka sang ayah hanya menyediakan seekor lembu untuk disembelih. Sedangkan biaya lainnya harus ia tanggung sendiri, juga dibantu oleh kakak-kakaknya. Perlengkapan pelaminan dan baju pengantin disediakan gratis oleh kakaknya.

Usai pesta pernikahan, Mukhlis mulai pulang ke rumah. Sang mertua tidak ada yang berkalam dengannya. Mukhlis dan Sadriah hanya tersenyum. Mereka harus bisa melampaui ujian tersebut. Keduanya harus mampu merebut dan meluluhkan hati mereka.

Walau berstatus pengantin baru, tidak serta-merta mereka menghabiskan waktu bersama di rumah. Atau jalan-jalan lazimnya pasangan bulan madu yang sedang berbahagia. Setelah menikah, Sadriah kerap ditinggal sendiri. Kalaupun sesekali ia pulang ke rumah, pada pukul tujuh pagi Mukhlis sudah harus kembali ke lokasi proyek yang ia kawal. Kemudian tak pulang lagi berhari-hari kemudian.

Walau sudah menjabat sebagai General Manager (GM) di PT MAL, pemasukan Mukhlis belum bisa dikatakan mapan. Gajinya masih pas-pasan sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum secara sederhana.

Di tengah kekurangan itu, Mukhlis dan Sadriah terus membangun jalinan cinta mereka. Sadriah memahami kondisi suaminya yang sedang merintis karier. Pemahaman itu membuatnya tidak banyak menuntut. Apa yang kurang tidak pernah disampaikan kepada Mukhlis.

Melihat keharmonisan Mukhlis dan Sadriah, hati Ibrahim ben Cut luluh. Ia tidak menyangka, bila lelaki asal Alue Krueb itu bisa menjadi suami yang mampu menjadikan Sadriah sangat sabar. Ia kagum pada ketulusan cinta keduanya.

Diam-diam Ibrahim mempelajari kebiasaan menantunya saat pulang ke rumah. Ia tahu salah satu kegemaran Mukhlis adalah menyantap kepiting. Setelah itu, setiap kali Mukhlis pulang, tanpa memberi tahu siapa pun Ibrahim akan ke pasar untuk membeli kepiting atau mendapatkan langsung dari penangkap kepiting. Lalu dibawanya pulang dan ditaruh di dapur dengan harapan akan diolah oleh anaknya.

Menyadari itu awalnya Sadriah kaget, tapi ia segera memahami bila hati sang ayah melunak dan mulai menerima kehadiran Mukhlis di rumahnya. Ia tahu, selain Mukhlis, tidak seorang pun di rumah itu yang suka makan kepiting. Sadriah pun tidak mau menanyakan asal-muasal kepiting itu. Ia membiarkan rekonsiliasi itu berjalan alamiah. Ia memahami ayahnya yang sangat menjaga harkat dan martabatnya.

Tiap kali Sadriah menemukan tumpukan kepiting di dapur, dia segera menyiangi dan memasaknya untuk Mukhlis. Sang GM, dengan lahap menyantap olahan kepiting yang dibeli oleh mertuanya.

Meski demikian, Ibrahim masih belum mau berpapasan langsung dengan menantunya itu. Bila Mukhlis pulang, ia segera beranjak mencari kesibukan lain.

“Lewat kepiting, ayah membangun upaya rekonsiliasi dengan Bang Mukhlis,” kenang Sadriah sembari tertawa renyah, mengenang masa silam penuh 36 kenangan.

Tidak lama setelah menikah, Sadriah mengandung anak pertama. Dia segera memberitahu Mukhlis. Lelaki itu senang bukan kepalang. Namun, ia segera berterus terang kepada istrinya karena tidak bisa mendampinginya sepanjang waktu. Banyak pekerjaan di lapangan yang harus ia kerjakan. Sadriah paham pada kesibukan sang suami.

Sadriah adalah calon ibu muda yang mandiri. la tidak pernah mengajak suaminya tiap kali kontrol ke dokter kandungan, tapi selalu memberitahukan perkembangan janin dan kondisi kesehatannya saat suaminya pulang, Sadriah juga jarang meminta uang belanja. Ia memiliki gaji sendiri dan punya penghasilan tambahan dari mengangsurkan pakaian, tas, dan sepatu secara kecil-kecilan. Dengan uang yang ia usahakan sendiri, sudah lebih dari cukup untuk membiayai segala keperluannya sehari-hari.

Bayu Lahir ke Dunia

Tahun 1997, Menjelang selesainya pembangunan jembatan Teupin Gapeuh, H. Saifannur memerintahkan Mukhlis untuk membangun proyek jembatan rangka baja di Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Sebagai GM, Mukhlis tidak bisa menampik, walau dia sedang sangat menikmati pekerjaannya di Teupin Gapeuh. Dia sigap menerima perintah tersebut.

Mukhlis segera mengepak barang. Dia berpesan kepada Sadriah agar menjaga kesehatan dan terus memantau kondisi kandungannya yang kian menua. Dia pamit kepada mertuanya. Hubungan dengan mertuanya masih agak kaku.

Ada rasa berat untuk berjauhan dengan Sadriah, apalagi dia sangat ingin melihat kelahiran sang buah hati. Tapi pekerjaan tidak bisa ditinggalkan. Ini proyek kedua yang dipercayakan oleh H. Saifannur kepada dirinya. Ia pun berangkat ke lokasi proyek tersebut.

Pante Lhong bukan daerah yang asing bagi Mukhlis. Di sana terdapat sebuah jembatan gantung dan harus segera dirobohkan karena akan dibangun jembatan permanen. Jembatan gantung itulah dulunya sering ia lalui untuk pulang dan pergi dari Alue Krueb. Saat SMP hingga kuliah, jembatan itu pula yang telah “membawanya” pulang agar dapat meluahkan rasa rindu kepada ibu dan kampung halaman. yang

Saat tiba di tepi Krueng Peusangan yang berair jernih, Mukhlis seperti melihat kembali dirinya sewaktu kecil, mengenakan seragam sekolah yang lusuh dan berbau keringat, melintasi jembatan dengan napas yang tidak teratur.

Bayang-bayang masa lalu itu masih jelas terekam. Seperti cermin yang memantulkan kembali setiap inci kenangannya. Saat ia terengah-engah berusaha mengejar teman-temannya sambil berlari dengan kaki beralaskan sepatu murah. Sementara temannya yang mengayuh sepeda semakin menjauh dari pandangannya. Dirinya yang begitu takut akan kemalaman di jalan, semakin mempercepat langkah agar bisa mendahului matahari sore yang terus tergelincir ke ufuk barat. Sang surya seakan akan mengajaknya maraton sepanjang laluan jalan berbatu dan berlumpur.

Setiap pergi dan pulang sekolah, Mukhlis selalu memandang ke sungai di bawah sana. Sesekali ia tersenyum, kadang kala bermuram durja. Rindu kepada ayahnya hanya bisa ia utarakan pada gemericik air. Saat itu, sebagai kanak-kanak ia belum bisa membayangkan akan seperti apa masa depannya.

Andaikan ayah masih ada, kiranya segenap derita tak perlu ia tanggung. Bila saja Cut Hasan masih diberi umur panjang, mungkin ia akan dibelikan sepeda. Tuhan begitu cepat memisahkan dirinya dengan sang pahlawan. Lelaki yang kisah hidupnya hanya dia dengar dari cerita-cerita warga yang disampaikan berupa penggalan-penggalan saja.

Bila mengenang semua itu, tak jarang matanya menganak sungai. Jiwanya meronta, nafasnya memburu. Di dalam dadanya kerap meletup kesedihan yang tidak tahu harus ia ceritakan kepada siapa.

la begitu lama menghirup udara segar di tepian sungai yang mengalirkan air sepanjang tahun. Sungai yang telah menautkan antara Aceh pesisir dan tanah Gayo. Sungai yang membelah belantara dan kota-kota kecil di sepanjang laluannya. Sungai yang melegenda oleh hikayat Malem Diwa dan Putroe Bungsu.

Kini, setelah belasan tahun berlalu, Mukhlis berdiri di sana sebagai seorang lelaki dewasa. Perlahan lahan, bayangan masa lalunya sebagai pria kecil yang selalu terburu-buru mengabur. Pria kecil yang kerap menahan haus dan lapar karena tidak dibekali uang saku akibat keterbatasan finansial ibunya. Remaja tanggung yang kerap gelisah dan percaya, bahwa alam adalah tempatnya meleburkan segala kegundahan yang menggumpal di hatinya.

Menjadi GM bukanlah pekerjaan mudah. Itulah mengapa Mukhlis sangat berterima kasih kepada Saifannur. Modalnya kala itu hanya gelar Ahli Madya Teknik. Sementara pengalaman yang ditempanya selama kuliah justru di bidang bisnis nonkonstruksi. Mukhlis pun memadukan dua kemampuan itu untuk mendukung posisinya sebagai GM.

Memulai sebuah pekerjaan dari nol merupakan tantangan besar. Beruntungnya Mukhlis bisa banyak berdiskusi dengan Razuardi, Pimpro Kimpraswil Aceh Utara yang secara diam-diam dia jadikan sebagai guru lapangan. Apalagi hubungan antara Razuardi dengan Saifannur sangat bagus. Banyak hal yang dilakukan oleh Razuardi untuk membantu Saifannur. Termasuk membuat proposal pembangunan aspal mixing plant (AMP) pertama di Bireuen atas nama PT MAL. Kala itu Saifannur tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar tenaga profesional swasta. Razuardi bersedia membantu tanpa bayaran demi terwujudnya AMP di Bireuen, tanah kelahirannya.

Minggu tengah malam, 9 Agustus 1998, cuaca sangat tidak bersahabat. Angin kencang dan hujan deras melanda kawasan Pante Lhong. Seluruh pekerjanya berlindung di barak. Mukhlis sendiri sangat tidak tenang malam itu. Tengah malam ia mendapat kabar bila buah hatinya telah lahir ke dunia. Berjenis kelamin laki-laki. Terilhami dari angin kencang dan hujan deras sebelumnya, ia memberi nama putra pertamanya Agusty Bayu Murizky. Bocah itu lahir di Gampong Blang Cut, di rumah nenek dan kakeknya dari pihak ibu.

Sebagai ayah yang masih sangat muda, tentu ia sangat bahagia dengan kabar tersebut. Namun, apa daya, ia belum bisa meninggalkan pekerjaaannya. Hingga dua hari kemudian dia masih belum bisa pulang. Mertuanya mengomel sejadi-jadinya. Mereka heran kepada Mukhlis yang dianggap lebih mementingkan pekerjaan ketimbang istrinya. Setelah hari ketiga, barulah ia bisa pulang ke Lhokseumawe untuk melihat kehadiran putra tercinta. Begitu melihat wajah Bayu, ia gembira luar biasa. Mukhlis tidak bisa berlama-lama di rumah karena tugasnya belum selesai. Untuk mengobati rasa rindu, seminggu sekali ia pulang menjenguk istri dan anaknya.

Rumah Tanpa Pintu

Bayu masih menyusu ketika Sadriah harus kembali melanjutkan sekolah ke tingkat akademi di Banda Aceh. Sadriah pamit pada suaminya yang masih belum selesai bekerja di proyek jembatan Pante Lhong. Sadriah membawa serta seorang perempuan untuk membantunya merawat Bayu. Sepeninggal Sadriah, untuk sementara waktu Mukhlis pulang ke rumah Asma di Bireuen.

Sadriah mengontrak sebuah rumah di Lampuuk, yang Aceh Besar. Terpaut beberapa kilometer dari kampusnya di Akademi Gizi Banda Aceh berada di Kilometer 15 Kecamatan Lhoknga. Tidak jauh dari lokasi PT Solusi Bangun Andalas (saat itu masih bernama Semen Andalas Indonesia). Satu satunya pabrik semen di Aceh yang dibangun pada 11 April 1980. Rumah kontrakan itu sangat sederhana.

Ketika Sadriah menempati rumah itu, daun pintunya belum terpasang sempurna sehingga terpaksa harus diangkat saat membuka atau menutup pintu. Untuk memudahkan pekerjaannya, Sadriah juga membeli sejumlah peralatan rumah tangga seperti blender, kompor, dan lainnya.

Setiap pagi ia pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Walau tidak begitu jauh, tapi bukan berarti jaraknya juga cukup dekat. Siang hari Sadriah pulang untuk menyusui putranya. Sulungnya itu tidak mau minum susu kaleng, hanya mau ASI. Saat itu keluarga kecil ini belum mampu membeli kulkas sehingga Sadriah tidak bisa memeras ASI-nya untuk disimpan. Bayu pun tidak mau mengisap kompeng sehingga agak merepotkan Sadriah. Untuk menyiasati agar Bayu bisa bertahan sampai ia pulang dari kampus, Sadriah membeli biskuit yang kemudian dicelupkan ke dalam susu kaleng. Tidak setiap saat ia mampu membeli biskuit.

Sejak memutuskan melanjutkan kuliah, Sadriah membiayai semuanya secara mandiri. Ia tidak mau merepotkan Mukhlis yang bergaji pas-pasan. Selama di Banda Aceh, dia tetap berjualan sepatu, tas, dan aksesoris wanita yang dijual secara angsuran kepada teman-temannya. Mukhlis yang semakin jauh dengan istrinya, tidak lagi bisa membawa duit ketika pulang. Kini ia harus rutin mengirimkan uang belanja.

Ketika Sadriah mulai memasuki masa PKL, ia akhirnya meminta uang kepada Mukhlis. Inilah kali pertama ia meminta uang kepada sang suami untuk membiayai pendidikannya.

Dikutip dari Buku “Mukhlis Takabeya, Petarung Dari Selatan, ditulis oleh Muhajir Juli

Leave a Reply

Your email address will not be published.