Sejarah Kerajaan Perlak

Aceh – Bratainews | Perlak, di Aceh Timur disebut sebagai kerajaan Islam pertama (tertua) di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Kesimpulan dari Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Ateh dan Nusantara tahun 1980, di Rantau Kuala Simpang itu didasarkan pada satu dokumen tertua bernama kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, karangan Abu Ishak Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy.

Itu yang menyisahkan pertanyaan bagi sebagian sejarawan mengenai kebenaran sejarah itu. Kitab Idharul Haq yang dijadikan sumber satu-satunya. Sebagian sejarawan meragukannya keabsahan dari kitab tersebut. Apalagi kitab Idharul Haq yang diperlihatkan dalam seminar itu katanya bukan dalam bentuk asli, tidak utuh lagi melainkan hanya lembaran lepas.

Kitab itu sendiri masih misteri, karena sampai sekarang belum ditemukan dalam bentuk aslinya. Sehingga ada yang mengatakan kitab Idharul Haq ini hanya satu rekayasa sejarah untuk menguatkan pendapat bahwa berdasarkan kitab itu, adalah benar kerajaan Islam pertama di Atjeh dan Nusantara adalah kerajaan Islam Perlak. Banyak peneliti sejarah yang secara kritis, meragukan Perlak sebagai tempat pertama berdirinya kerajaan Islam besar di Atjeh.

Diperkuat dengan belum adanya ditemukan artevak-artevak atau situs-situs tertua peninggalan sejarah. Sehingga para peneliti lebih cenderung menyimpulkan kerajaan Islam pertama di Ajeh dan Nusantara adalah kerajaan Islam Samudra Pasee yang terdapat di Atjeh Utara. Banyak bukti yang meyakinkan, baik dalam bentuk teks maupun benda-benda arkeologis lainnya.

Seperti mata uang dirham pasai dan batu-batu nisan yang bertuliskan tahun wafatnya para Sultan kerajaan Islam Samudra Pasee. Keraguan para sejarawan tentang kerajaan Perlak sebagai bekas kerajaan Islam pertama yang hanya mengambil dari sumber kita Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak, perlu ditelaah lebih jauh.

Mengesampingkan perdebatan tentang kerajaan Perlak menurut para ahli, sejarah tentang perkembangan kerajaan Perlak berdiri sendiri dengan sumber-sumber yang dikumpulkan dikaji menyatakan bahwa kerajaan Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara Yaitu Atjeh Mensantrai. Kerajaan Perlak merupakan kerajaan yang terkenal sebagai penghasil kayu Perlak, kayu Perlak adalah kayu yang berkualitas bagus untuk bahan baku pembuatan kapal.

Tak heran jika para pedagang dari Gujarat, Arab dan India tertarik untuk datang ke sini. Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Hal ini tidak terlepas dari letak yang strategis pula di ujung utara pulau Sumatra atau berada dibibir masuk selat Malaka. Kondisi ini membuat maraknya perkawinan campuran antara para saudagar muslim dengan penduduk setempat. Efeknya adalah perkembangan Islam yang pesat dan pada akhirnya memunculkan Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai.

Sejarah kerajaan Perlak tidak terlepas dari kisah seorang Sayid Maulana Ali Al-Muktabar yang datang ke Perlak, selain Sayid Maulana Ali Al-Muktabar terdapat juga orang Arab dan Bani Hasyim dan keturunan Rasulullah lainnya yang datang ke Atjeh dan wilayah nusantara lainnya dalam rangka melakukan perdagangan sekaligus menyiarkan agama Islam dan mereka kemudian berbaur dan menikah dengan penduduk setempat terutama dengan keluarga Meurah seperti Syarifah Azizah yang menikah dengan Sultan Perlak ke-115.

Seperti diketahui dalam sejarah Islam, setelah masa Khalifaturrasyidin berakhir yang diperintah berturut—turut oleh sahabat Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, secara politik muncullah dua dinasti besar yakni Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Berangkat dan perbedan politik ini, pada waktu yang sama, muncul pula banyak aliran pemahaman dan pengamalan Islam seperti aliran Sunni, Syi’ah dan Khawarij dan lain sebagainnya. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah sangat menentang aliran Syi’ah yang dipimpin oleh keturunan Ali bin Abu Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, tidak mengherankan aliran Syi’ah pada era dua dinasti ini tidak mendapatkan tempat yang aman. Karena jumlahnya minoritas, banyak penganut Syi’ah terpaksa harus menyingkir dan wilayah yang dikuasai oleh dua dinasti tersebut. Pada masa Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167-219 H / 813-833M), salah satu keturunan Ali bin Abi Thalib di Mekkah yang bernama Muhammad bin Jakfar al-Shadiq menentang pemerintahan yang dikuasai oleh Khalifah Makmun yang berpusat di Baghdad. Muhamad bin Jakfar al-Shadiq adalah Imam Syi’ah ke-6 yang juga masih keturunan Rasulullah SAW.

Adapun silsilahnya sampai ke Rasulullah SAW adalah sebagai berikut: ‘Muhammad bin Jakfar al-Shadiq bin Muhammad al Baqir- bin Ali Muhammad Zain al-Abidin bin Sayidina Husain al-Syahid bin Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW”.

Khalifah Makmun akhirnya mengirim pasukan ke Mekkah untuk meredakan pemberontakan kaum Syi’ah. Kaum pemberontak dapat ditumpas namun Muhamad bin Jakfar al-Shadiq dan para penganutnya tidak dibunuh sebaliknya disarankan oleh Khalifah Makmun untuk berhijrah dan menyebarkan Islam ke Hindi, Asia Tenggara dan daerah sekitarnya. Sebagai tindak lanjut, maka berangkatlah satu kapal yang memuat rombongan angkatan dakwah yang di kemudian hari dikenal di Atjeh dengan Nahkoda Khalifah dengan misi menyebarkan Islam.

Salah satu anggota dan Nahkoda Khalifah itu adalah Sayid Ali al- Muktabar bin Muhammad Dibai bin Imam Jakfar al-Shadiq. Menurut kitab Idharul Haq Fi Mamlakat al-Perlak yang ditulis oleh Syekh Ishak Makarani al-Pasi, pada tahun 173 H (800 M) Bandar Perlak disinggahi oleh satu kapal yang membawa kurang lebih 100 orang da’i yang terdiri dan orang-orang Arab dan suku Quraish.

Palestina, Persia, dan India di bawah pimpinan Nahkoda Khalifah sambil berdagang sekaligus berdakwah. Setiap orang mempunyai keterampilan khusus terutama di bidang pertanian, kesehatan. pemerintahan, strategi, dan taktik perang serta keahlian-keahlian lainnya.

Ketika sampai di Perlak, rombongan Nahkoda Khalifah disambut dengan damai oleh penduduk dan penguasa Perlak yang berkuasa saat itu yakni Meurah Syahir Nuwi. Dengan cara dakwah yang sangat menarik, akhirnya Meurah Syahir Nuwi memeluk agama Islam sehingga menjadi raja pertama yang menganut Islam di Perlak. Disisi lain, sambil berdakwah mereka menularkan keahlian itu kepada penduduk lokal secara perlahan-lahan untuk diterapkan dalam kehidupan mereka.

Kegiatan-kegiatan ini rupanya menarik penduduk lokal sehingga dalam waktu yang relatif singkat mereka tertarik masuk Islam dengan suka rela. Sebagian dan anggota rombongan itu menikah dengan penduduk lokal termasuk Sayid Ali al-Muktabar kemudian menikah dengan adik Syahir Nuwi yang bernama Puteri Tansyir Dewi. Pernikahan Sayid Ali Al-Muktabar ini dianugerahi seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Sayid Maulana Abdul Aziz Syah ini setelah dewasa dinobatkan menjadi Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak bertepatan pada tanggal 1 Muharram 225 H.

Berikut Silsilah Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang dikutip dan Silsilah Raja-raja Islam di Aceh dan Hubungannya dengan Raja-raja Islam di Nusantara yang ditulis oleh T. Syahbuddin Razi. “Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Ali Al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba’i bin Imam Ja ‘far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Saiyidina Ali Muhammad Zainal Abidin bin Saidina Hussin Assysyahid bin Saidina Ali bin Abi Thalib. Islam menyebar dengan cepat di kawasan Timur Tengah pada zaman khalifaturasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali) dan pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah Islam (didirikan oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan 661-680 M), Islam mulai disebarkan hingga kawasan Melayu.

Walaupun pada awalnya dimotivasi kegiatan perdagangan terutama lada hitam yang diproduksi oleh kerajaan Melayu jambi, para pedagang Arab berusaha mengajak rakyat dan Raja Lokitawarman yang beragama Budha untuk masuk Islam. Atas inisiatif Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) “dakwah Islam mulai menunjukkan keberhasilannya ketika Raja Lokitawarman diganti Raja Srindrawarman yang kemudian memeluk agama Islam. Sejak peristiwa itu, kawasan Melayu dikenal oleh orang Arab sebagai Sribuza Islam.

Dalam catatan I-Tsing, saat itu Melayu dibawah kekuasaan Sriwijaya yang beribu kota di Palembang (Shi Li Fo Shih) dengan Budha sebagai agama resminya. Kerajaan Islam yang dipimpin Raja Srindrawarman tidak dibiarkan lama berkuasa oleh Sriwijaya. Dengan bantuan Kerajaan Tang (Cina) yang merasa perdagangan lada hitamnya terancam oleh pengislaman Jambi, Sriwijaya menundukan Jambi (± 730 M) setelah menawaskan Indrawarman, raja kedua dan terakhir kerajaan Islam Jambi.

Di masa dinasti Abbasiyah, sekitar awal abad ke-9, Islam mulai tersebar di Perlak (Atjeh) dibawa para ulama Sunny Sedangkn Syi‘ah Kfr yang ingin MeNahkodai Khalifah. Mereka merapat di pelabuhan Perlak, Ateh sekitar tahun 820 M sebagai akibat dan kekalahan golongan Syi’ah oleh dinasti Kafara.

Dinasi Abbasiyah yang pada saat itu dipimpin Khalifah Al-Makmun (813-833) meredam pemberontakan kaum Syi’ah Alawiyah yang dipimpim Muhammad bin Ja’far As-Sadiq di Mekkah. Walaupun menang, Khalifah Al-Makmun melepas dan bahkan menganjurkan mereka untuk berdakwah ke luar kawasan Arab dan satu di antara rombongan kaum Syi’ah itu adalah rombongan Nahkoda Khalifah. Pemerintahan Perlak sendiri pada saat itu masih berupa pelabuhan yang dikelilingi pemukiman dan dibawah kontrol penguasa Syahr Nuwi keturunan Persia dan Cina.

Salah seorang di antara anggota Nahkoda Khalifah adalah Ali bin Muhammad bin Ja’far As-Sadiq yang menikah dengan adik/ anak Meurah Syahr Nuwi yang bernama Puteri Makhdum Tansyuri (Tansyir Dewi).

Dari darah Puteri Makhdum Tansyuri (Tansyir Dewi) inilah lahir anak cucu yang dikemudian hari menjadi pejuang dan penyebar Islam ke berbagai wilayah di nusantara. Perkawinan Puteri Makhdum Tansyuri dan keturunan Rasulullah SAW, Ali bin Muhammad bin Ja’far As-Sadiq dikarunia seorang putera yang diberi nama Sayid Abdul Aziz, yang setelah dewasa diangkat menjadi Sultan Perlak Pertama pada tahun 840 M dengan gelar Sultan Sayid Maulana Abdul Aziz Syah sekaligus sebagai momen berdirinya kerjaaan Islam pertama di nusantara.

Para penguasa yang beraliran Syi’ah mulai dan sultan pertama sampai sultan kelima (terakhir) kemudian dikenal sebagai Dinasti Aziziyah dan berakhir setelah diganti oleh para sultan dan Dinasti Makhdum yang beraliran Ahlu Sunnah Waljamaah. Dalam usaha regenerasi syiar Islam, Dinasti Aziziyah mendirikan beberapa zawiyah atau dayah (sekolah dan pondok pesantren) sebagai pusat pengajaran dan pendalaman Islam.

Sebagai contoh, Sultan Sayid Maulana Abdul Rahim Syah mendirikan Dayah Bukit Tjek Brek dan Sultan Sayid Maulana Abbas Syah mendirikan Dayah Cot Kala. Dari lembaga-lembaga pendidikan ini, Islam Syi’ah berkembang di Perlak dan daerah sekitarnya.

Dengan berdirinya kerajaan Islam Perlak, semakin banyak orang Arab yang datang untuk berdagang baik dan kalangan Syi’ah maupun Sunni. Mereka tidak hanya berdagang tetapi juga menyebarkan aliran Islam yang mereka yakini. Kalangan Sunni mempengaruhi elite lokal yang juga masih kerabat istana Perlak.

Kedua aliran ini terus menyebarkan pengaruhnya hingga sampai pada perebutan kekuasaan dan perlawanan terbuka terjadi pada masa sultan Perlak keempat yakni, Sultan Sayid Maulana Ali Mughayat Syah (915-918 M). Perebutan kekuasaan akhirnya dimenangkan pihak Sunni sekaligus menandai keruntuhan Dinasti Sayid atau Aziziyah dan lahirnya Dinasti Makhdum. Sultan kelima Perlak sekaligus sultan pertama dan kalangan Sunni adalah Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat (918-922 M).

Untuk menstabilkan Perlak, golongan Syi’ah diangkat menjadi Perdana Menteri. Wakil Syi’ah Maulana Abdullah diangkat menjadi Perdana Menteri oleh sultan Perlak keenam, yakni Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (922-946 M). Sultan Muhammad Amin Syah sendiri adalah seorang ulama besar sekaligus pengasuh pondok pesantren Cot Kala. Pengangkatan Maulana Abdullah sebagai perdana menteri belum mampu meredam perlawanan kaum Syi’ah sampai akhirnya terjadi perang saudara pada masa sultan ketujuh. yakni Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Syah Johan Berdaulat (946-973 M).

Perang ini berlangsung sampai empat tahun dan baru berakhir setelah dibuat perjanjian damai yang dikenal dengan Perjanjian Alue Meuh pada tanggal 10 Muharram 353 H. Perjanjian tersebut mengatur pembagian Perlak menjadi dua: Perlak Baroh (berpusat di Bandar Khalifah) dengan wilayah di pesisir pantai diserahkan kepada Dinasti Aziziyah dan Perlak Tunong dengan wilayah di pedalaman diserahkan kepada Dinasti Makhdum. Sejak itu tercapailah perdamaian antara kedua aliran tersebut dan Islam semakin menyebar di Sumatera bagian utara.

Namun Islam Syi’ah tidak berkembang karena Perlak Baroh dihancurkan Sriwijaya dalam suatu serangan tahun 986. Pada saat itu Perlak Baroh dipimpin Sultan Sayid Maulana Mahmud Syah (976-988). Sultan Sayid Maulana Mahmud Syah juga mangkat dalam usaha mempertahankan kerajaannya. Kerajaan Perlak Tunong yang dikuasai kaum Sunni selamat karena Sriwijaya terpaksa harus menarik mundur pasukkannya dari Perlak sebab mendapat ancaman dari Dharma Bangsa dan Jawa.

Islam Sunni terus berkembang bahkan pada zaman Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (1012-1059 M) menyatukan kedua wilayah Perlak tersebut dalam satu bendera Perlak dan bahkan mengislamkan Raja Lingga, Adi Genali melalui utusannya yang bernama Syekh Sirajuddin.

Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan kerajaan Samudrar Pasee, terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225–249 H / 840–964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak.

Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah. Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/ 1225-1263 M). Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah.

Sultan mengawinkan dua putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura sekarang). Perkawinan ini dengan Parameswara Iskandar Syah yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Syah. Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M). Inilah sultan terakhir Perlak. Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh dengan Putri Ganggang Sari.

Para Sultan Perlak dapat dikelompokkan menjadi dua dinasti, yaitu Dinasti Sayid Maulana Abdul Azis Syah dan Dinasti Johan Berdaulat. Di bawah ini merupakan nama-nama sultan yang memerintah kerajaan perlak, Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah (840 – 864, Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah (864 – 888), Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah (888 – 913), Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughat Syah (915 – 918), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir (928 – 932), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin (932 – 956), Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik (956 – 983), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim (986 – 1023), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud (1023 – 1059), Sultan Makhdum Alaiddin Malik mansur (1059 – 1078), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah (1078 – 1109), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad (1109 – 1135), Sultan Makhdum Alaiddin Malik mahmud (1135 – 1160), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad (1173 – 1200), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Jalil (1200 – 1230), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin (1230 – 1267), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz (1267 – 1292).

Pergolakan pada kerajaan perlak lebih dipengaruhi oleh adanya perbedaan Aliran Islam antara Sunni dengan Syiah, perbedaan ini telah berlangsung lama tak kala masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah sangat menentang aliran Syi’ah yang dipimpin oleh keturunan Ali bin Abu Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW.

Sejarah keislaman di Kesultanan Perlak tidak luput dari persaingan antara kelompok Sunni dan Syiah. Perebutan kekuasaan antara dua kelompok Muslim ini menyebabkan terjadinya perang saudara dan pertumpahan darah. Silih berganti kelompok yang menang mengambil alih kekuasaan dari tangan pesaingnya.

Aliran Syi‘ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak dengan dukungan penuh dari dinasti Fatimiah di Mesir. Ketika dinasti ini runtuh pada tahun 1268, hubungan antara kelompok Syi‘ah di pantai Sumatera dengan kelompok Syi‘ah di Mesir mulai terputus. Kondisi ini menyebabkan konstelasi politik Mesir berubah haluan. Selanjutnya Dinasti Mamaluk memerintahkan pasukan yang dipimpin oleh Syaikh Ismail untuk pergi ke pantai timur Sumatra dengan tujuan utamanya adalah melenyapkan pengikut Syi‘ah di Kesultanan Perlak dan Kerajaan SamuderaPasai.

Sebagai informasi tambahan bahwa raja pertama Kerajaan Samudera Pasai, Marah Silu dengan gelar Malikul Saleh berpindah agama, yang awalnya beragama Hindu kemudian memeluk Islam aliran Syiah. Oleh karena dapat dibujuk oleh Syaikh Ismail, Marah Silu kemudian menganut paham Syafii. Dua pengikut Marah Silu, Seri Kaya dan Bawa Kaya juga menganut paham Syafii, sehingga nama mereka berubah menjadi Sidi Ali Chiatuddin dan Sidi Ali Hasanuddin. Ketika berkuasa Marah Silu dikenal sebagai raja yang sangat anti terhadap pemikiran dan pengikut Syi‘ah.

Aliran Sunni mulai masuk ke Kesultanan Perlak, yaitu pada masa pemerintahan sultan ke-3, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah. Setelah ia meninggal pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni, yang menyebabkan kesultanan dalam kondisi tanpa pemimpin. Pada tahun 302 H (915 M), kelompok Syiah memenangkan perang. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah kemudian memegang kekuasaan kesultanan sebagai sultan ke-4 (915-918). Ketika pemerintahannya berakhir, terjadi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni, hanya saja untuk kali ini justru dimenangkan oleh kelompok Sunni.

Kurun waktu antara tahun 918 hingga tahun 956 relatif tidak terjadi gejolak yang berarti. Hanya saja, pada tahun 362 H (956 M), setelah sultan ke-7, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal, terjadi lagi pergolakan antara kelompok Syiah dan Sunni selama kurang lebih empat tahun. Bedanya, pergolakan kali ini diakhiri dengan adanya itikad perdamaian dari keduanya. Kesultanan kemudian dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988). Kedua, Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023).

Kedua kepemimpinan tersebut bersatu kembali ketika salah satu dari pemimpin kedua wilayah tersebut, yaitu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal. Ia meninggal ketika Perlak berhasil dikalahkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Kondisi perang inilah yang membangkitkan semangat bersatunya kembali kepemimpinan dalam Kesultanan Perlak. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yang awalnya hanya menguasai Perlak Pedalaman kemudian ditetapkan sebagai Sultan ke-8 pada Kesultanan Perlak. Ia melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006. Sultan ke-8 sebenarnya berpaham aliran Sunni, namun sayangnya belum ditemukan data yang menyebutkan apakah terjadi lagi pergolakan antar kedua aliran tersebut.

Perjanjian tersebut mengatur pembagian Perlak menjadi dua: Perlak Baroh (berpusat di Bandar Khalifah) dengan wilayah di pesisir pantai diserahkan kepada Dinasti Aziziyah dan Perlak Tunong dengan wilayah di pedalaman diserahkan kepada Dinasti Makhdum. Sejak itu tercapailah perdamaian antara kedua aliran tersebut dan Islam semakin menyebar di Sumatera bagian utara. Namun Islam Syi’ah tidak berkembang karena Perlak Baroh dihancurkan Sriwijaya dalam suatu serangan tahun 986.

Penggabungan Dengan Kerajaan Samudera Pasai

Setelah perdamaian antara kaum Sunni dan Syi’ah, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006. kemudian melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga untuk memperkuat kekuatan guna menghadapi serangan balasan dari kerajaan Sriwijaya. Ia menikahkan dua orang puterinya dengan para pemimpin kerajaan tetangga. Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh. Kesultanan Perlak berakhir setelah Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal pada tahun 1292.

Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasee di bawah kekuasaan sultan Samudera Pasee yang memerintah pada saat itu, Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik al-Saleh. Meski telah menjalankan politik damai dengan mengikat persaudaraan, ketegangan politik itu rupanya tetap saja mengancam kedaulatan kesultanan Perlak. Perlak goyah, Sultan makdum Aliddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292) menjadi sultan yang terakhir. Setelah ia meninggal, perlak disatukan dengan kerajaan Samudra Pasee di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, putra Al-Saleh. Dan pada masa inilah merupakan tanda berakhirlah kerajaan Perlak.

Berbagai pendapat tentang kerajaan Islam pertama adalah Perlak atau Samudra Pasee di kesultanan Nanggroe Atjeh Darussalam, dengan berbagai pengkajian ilmiah dan penelitian artevak-artevak yang ditemukan maka sebagian pendapat bahwa Perlak merupakan kerajaan yang pertama berdiri dan mempunyai sejarah gemilang dapat didukung oleh adanya / ditemukannya sumber-sumber dan bukti-bukti sejarah.

Naskah-Naskah Tua Berbahasa Melayu

Naskah-naskah tua yang dijadikan sebagai rujukan mengenai keberadaan Kerajaan Perlak paling tidak ada tiga yakni, Idharatul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi, karangan buku Abu Ishak Makarani Al Fasy, Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sultan As Salathin, karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah As Asyi, Silsilah Raja-raja perlak dan Pasai, catatan Saiyid Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin, Jumu Sultan As Salathin, karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah As Asyi, Silsilah Raja-raja perlak dan Pasee, catatan Saiyid Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin.

Ketiga naskah tua tersebut mencatat bahwa kerajaan islam pertama Nusantara adalah Kerajaan Islam Perlak. Hanya di sana-sini terdapat perbedaan tahun dan tempat, karena mungkin terjadi karena kekurangan telitian para penyalinnya. Misalnya mengenai tahun berdirinya kerajaan perlak, Kitab Idharul Haq fi Mamlakatil Perlab val fasi menyebut tahun 225 sementara Tazkirah ThabakatSulthan As Salathin menyebut tahun 227.

Secara tegas Kitab Idharul Haq fi Mamlakatil. Ferlah wal Fasi menyebutkan bahwa kerajaan Perlak didirikan pada tanggal 1 Muhharam 225 H (840M) dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah, yang semula bernama Syaid Abdul Aziz.

Bukti-Bukti Peninggalan Sejarah

Bukti-bukti peninggalan sejarah yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendukung dan membukti mengenai keberadaan Kerajaan perlak ada tiga yakni ; mata uang perlak, stempel kerajaan dan makam raja-raja Benoa.

Mata Uang Perlak

Mata uang Perlak ini diyakini merupakan mata uang tertua yang diketemukan di Nusantara. Ada tiga jenis mata uang yang ditemukan, yakni yang pertama terbuat dari emas (dirham) yang kedua dari Perak (kupang) sedang yang ketiga dari tembaga atau kuningan.

Mata Uang Dari Emas (Dirham)

Pada sebuah sisi uang tersebut tertulis ”al A’la” sedang pada sisi yang lain tertulis ”Sulthan”. Dimungkinkan yang dimaksud dalam tulisan dari kedua sisi mata uang itu adalah Putri Nurul A’la yang menjadi Perdana Menteri pada masa Sulthan Makhdum Alaidin Ahmad Syah Jauhan Berdaulat yang memerintah Perlak tahun 501-527 H (1108 – 1134 M).

Mata Uang Perak (Kupang)

Pada satu sisi mata uang Perak ini tertulis ”Dhuribat Mursyidam”, dan pada sisi yang tertuliskan ”Syah Alam Barinsyah”. Kemungkinan yang dimaksud dalam tulisan kedua sisi mata uang itu adalah Puteri Mahkota Sultan Makhdum Alaidin Abdul Jalil Syah Jouhan Berdaulat, yang memerintah tahun 592 – 622 H (199 – 1225 M). Puteri mahkota ini memerintah Perlak karena ayahnya sakit. Ia memerintah dibantu adiknya yang bernama Abdul Aziz Syah.

Mata Uang Tembaga (Kuningan)

Bertuliskan huruf Arab tetapi belum dapat dibaca. Adanya mata uang yang ditemukan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Perlak merupakan sebuah kerajaan yang telah maju.

Stempel Kerajaan

Stempel kerajaan ini bertuliskan huruf Arab, model tulisan tenggelam yang membentuk kalimat ”Al Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Sanah 512”. Kerajaan Negeri Bendahara adalah menjadi bagian dari Kerajaan Perlak.

Makam Raja Benoa

Bukti lain yang memperkuat keberadaan Kerajaan Perlak adalah makam dari salah raja Benoa di tepi Sungai Trenggulon. Batu nisan makan tersebut bertuliskan huruf Arab. Berdasarkan penelitian Dr. Hassan Ambari, nisan makam tersebut dibuat pada sekitar abad ke-4 H atau abad ke-11 M. Berdasarkan catatan Idharul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi, benoa adalah negara bagian dari Kerajaan Perlak.

foto :Benteng kerajaan perlak Aceh timur ( bukti peninggalan Di masa silam )

Dikutip dari Teuku Malikul Mubin

Leave a Reply

Your email address will not be published.