MUSA…Antara MUhammadiyah dan SAlafi

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi keagamaan kemasyarakatan terbesar di Indonesia, yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Kampung Kauman Yogyakarta, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Beberapa tahun akhir-akhir ini di Indonesia juga berkembang sebuah gerakan yang dikenal dengan Salafi, walaupun sering mereka tidak mau dan membantah bahwa mereka identik sebagai sebuah gerakan atau organisasi tertentu.Tahukah Anda saat ini juga ada istilah MUSA, Muhammadiyah Rasa Salafi?

Persinggungan ideologis keagamaan tidak bisa dibendung mengingat saat ini kita berada pada era arus informasi yang sangat cepat bergulir, yang menjadi faktor penting bagaimana singgungan-singgungan ideologi keagamaan bisa terjadi. Kemajuan teknologi informasi memudahkan paham-paham ideologi tersebut tersampaikan, dan kemudian bersinggungan dengan idelogi keagaaman jamaah ormas-ormas islam yang ada di Indonesia.

Muhammadiyah Rasa Salafi lahir dari Idelogi Salafi yang masuk secara masif melalu filterasi yang pelan namun intens, arus informasi yang deras memuluskan jalan untuk itu, meminjam istilah Edward Said dalam karya ontologinya The World, The Text, and The Critic (1984), “Traveling Idelogi” Salafi masuk dan bersinguungan kepada warga Muhammadiyah. Ideologi baru, menurut Edward Said akan menemui tembok “Ideologi Sebelumnya” sebagai filter, namun jika lemah, maka ideologi baru akan bertransformasi dan mengubah sikap keagamaan warga Muhammadiyah.

Keberadaan Musa menjadi masalah bagi organisasi, menurut Prof Syafiq A. Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Musa menjadi benalu di tubuh Muhammadiyah, Musa mulai menjadi persoalan ketika sudah menyentuh sendi-sendi organisasi. Sebagian dari mereka bekerja di amal usaha Muhammadiyah, tapi tidak berupaya membesarkan Muhammadiyah. Bahkan mengajak teman-temannya untuk tidak loyal kepada keputusan organisasi.Ada juga yang lebih serius.

Mereka mendiskreditkan Muhammadiyah sebagai penganut bid’ah, karena pada masa Nabi, kata mereka, tidak ada organisasi. Mereka mencoba menguasai masjid, mushala, lembaga pendidikan, dan forum pengajian. Mereka tidak memajukan Muhammadiyah tapi membuatnya tidak berdaya. Muhammadiyah dibiarkan jadi tinggal kulit, sedangkan isinya sudah jadi salafi. Yang menarik, mereka masih tetap mengaku, dan bekerja di amal usaha, Muhammadiyah.

Muhammadiyah adalah organisasi besar dengan karakter moderasi Islam, yakni terbuka, toleran, namun tegas. Paham yang memadukan dan menyeimbangkan antara iman, ibadah, akhkak, dan amal, menjadi berbahaya kemudian jika transformasi ideologi Salafi masuk kepada warga muhammdiyah, lalu menggeser karakter Ke-Muhammadiyah-an yang menjadi salah satu pilah kuat Islam Indonesia yang aman, damai dalam ragam perbedaan. Sudah saatnya Muhammadiyah memperhatikan betul Musa (Muhammadiyah Rasa Salafi)

Di masyarakat awam Muhammadiyah memang sering diasosiasikan sebagai bagian dari gerakan Salafi. Gerakan yang secara genealogi pemikiran merujuk pada Ahmad Ibn Hanbal (780-855 M), Ibn Taimiyah (1268-1328 M), dan Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792 M) ini memang memiliki kemiripan dengan Muhammadiyah. Namun, Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto membeberkan perbedaan Muhammadiyah dengan Salafi, apa saja?

Pertama, Meski Muhammadiyah dan Salafi sama-sama memiliki slogan kembali pada Al-Quran dan Al Sunah, namun metode pembacaannya berbeda. Menurut Agung, Muhammadiyah memahami dengan menggunakan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam. Salafi memahaminya secara literal. Pemahaman literal inilah yang membawa mereka pada pendapat tersulit dengan dalih kehati-hatian.

Kedua, dalam wacana komoderenan, kata Agung, Muhammadiyah menerima kemodernan dan melakukan modernisasi. Salafi menolak modernisasi, tapi menerima produk teknologi. “Muhammadiyah menerima budaya barat yang sesuai dengan ajaran Islam dan menolak yang tidak sesuai. Salafi menolak budaya Barat,” tuturnya dalam acara Pengajian Ramadan 1444 H pada Sabtu (25/03).

Ketiga, pada persoalan budaya lokal, Muhammadiyah menerima budaya lokal dan melakukan islamisasi terhadap budaya lokal yang tidak sesuai. Sementara Salafi menolak budaya lokal dan mengacu pada budaya Arab yang tergambar dalam hadist.

Keempat, Muhammadiyah melakukan amar ma’ruf secara individual dan kelembagaan. Secara individual dilakukan melalui pengajian, kultum dan tabligh. Secara kelembagaan dilakukan secara sistematis melalui ama usaha. Nahi Munkar dilakukan secara sistemik. Salafi melakukan dengan tahzir dan hajr al-mubtadi’. Tahzir adalah memperingatkan. hajr al-mubtadi’ adalah mengisolasi / menyingkirkan pelaku bid’ah.

Kelima, Muhammadiyah mendirikan NKRI dan memperjuangkannya agar menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sementara dalam tubuh Salafi terdapat perbedaan pandangan. Salafi Yamani patuh pada pemerintah NKRI tapi pasif. Dakwah mereka terfokus pada pembinaan akidah dan akhlak. Sedangkan Salafi Haraki dan Jihadi ingin mengganti dengan pemerintahan/negara Islam.“Muhammadiyah memandang NKRI sudah cukup, tinggal mengisinya agar sesuai dengan ajaran Islam. Salafi Yamani apolitik, tetapi mengidolakan kehidupan berbangsa seperti zaman Nabi. Salafi Haraki dan Jihadi memperjuangkan terbentuknya negara Islam,” ucap Agung.

Keenam, Muhammadiyah berpandangan bahwa akal adalah perangkat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk bisa survive. Akal berfungsi untuk memahami alam dan teks keagamaan. Teks keagamaan perlu dipahami dengan menggunakan akal karena Islam diturunkan untuk semua umat manusia dengan berbagai latar budaya dan peradaban yang berbeda. Salafi mengabaikan peran akal dalam menafsirkan teks keagamaan. Bagi mereka, kebenaran itu tunggal dan hanya terletak dalam wahyu. Wahyu adalah sumber pertama manusia dan sumber terakhir yang tidak bisa diperselisihkan.Konsekuensinya, Muhammadiyah berpandangan bahwa rasionalitas dan pengembangan ilmu sosial diperlukan untuk memahami teks dan untuk membangun peradaban manusia yang maslahah dan islami. Salafi berpandangan bahwa rasionalitas dan pengembangan ilmu sosial adalah bid’ah. Anti filsafat dan anti tasawuf.

Ketujuh, menurut Muhammadiyah, perempuan memiliki peran domestik dan publik. Perempuan boleh menjadi pejabat publik dan boleh bepergian tanpa mahram bila keadaan aman dan terjaga dari fitnah. Menurut salafi, peran perempuan adalah sektor domestik, sedangkan sektor publik adalah milik laki laki. Perempuan bepergian harus bersama mahram.“Menurut Muhammadiyah, perempuan sebagaima na laki laki harus mendapatkan pendidikan setinggi tingginya di semua bidang ilmu. Menurut Salafi, perempuan perlu mendapatkan pendidikan yang baik terutama keagamaan dan yang menopang peran domestiknya,” ucap Agung.

Kedelapan, bagi Muhammadiyah, pakaian yang penting menutup aurat. Boleh memakai pakaian tradisional, lokal, ataupun Barat. Batik, sarung, peci, jas, celana panjang, kebaya, dan sejenisnya, biasa dipakai di Muhammadiyah. Cara berpakaian salafi membiasakan empat identitas: jalabiya (pakaian panjang), isbal (celana cingkrang), lihya (jenggot), dan niqab (cadar).Kesembilan, bermusik, bernyanyi, main drama, teater menurut Muhammadiyah bisa menjadi media dakwah. Bagi salafi, seni jenis itu adalah bid’ah dan haram. Nonton TV, mendengarkan radio dan hiburan adalah dilarang.

Sumber :

https://muhammadiyah.or.id/apa-saja-titik-perbedaan-muhammadiyah-dan-salafi/

https://islami.co/memotret-corak-keberagamaan-musa-muhammadiyah-rasa-salafi/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *