Kenapa Mama Nggak Menghafal Al-Qur’an?

Seorang gadis bertanya pada ibunya, ketika ibunya sedang memotivasinya untuk menghafal Qur’an.

“Kenapa Mama nggak ikut menghafal Qur’an juga?”

Ibunya terdiam. Mencoba mengelola hati, melihat dan menilai diri.

Pertanyaan yang menohok yang susah untuk dijawab. Karena memang pada dasarnya, semua orang tua ingin mendorong anaknya untuk menjadi lebih baik dari dirinya. Saking seringnya, orang tua berhasil jadi “pendorong” ulung, dan lupa bahwa mereka juga sebetulnya harus belajar untuk mendorong diri sendiri dulu, sebelum jadi pakar dan pemotivator anak. Terutama dalam hal ini.

Sembari menjelajahi isi hati, si ibu mencoba mencari jawaban yang lebih tepat untuk didengar telinganya sendiri daripada jawaban terhadap pertanyaan putrinya.

Tidakkah ia juga ingin menghadiahi orang tuanya mahkota juga?

Tidakkah ia juga ingin menghadapnya sebagai penghafal kitabNYA?

Yang kelak akan meringankan hisabnya?

Yang kelak akan menaikkan tingkatan syurganya?

Yang kelak akan mengumpulkannya dengan orang-orang sholih?

Yang kelak akan mampu dengan izin tuhannya, mengajak saudara-saudaranya masuk syurga bersamanya?

Apakah ia tidak menginginkan semua itu?

Apakah ia cukup ‘berpangku tangan’ saja pada anak-anak yang ia besarkan?

Apakah ia cukup “selfish” meminta hal tersebut pada ananda, tapi tidak mau bersusah payah menghadiahkannya pada sepasang hamba Allah yang telah melahirkan dan membesarkannya?

Iya, ya. Kenapa?

Mungkin ada Sebagian orang tua yang juga sudah sadar akan hal ini dan mulai menghafal sedikit-demi-sedikit. Tapi tetap kalah jauh dan banyak dari anaknya. Maklumlah, kita bersembunyi dibalik alasan factor U dan kesibukan harian.

Bukankah 24 jam kita sama?

Bukankah urusan seharian yang seabrek-abrek itu tetap bisa diatur jika ada keinginan untuk melakukannya?

Lalu, apa alasannya?

Ibu itu mencoba membetulkan posisi duduknya sambil menghembuskan nafas yang panjang.

Berharap jawaban yang akan keluar dari mulutnya cukup bisa memuaskan kaingin tahuan anandanya.
“Jadi begini kak, waktu kamu kecil.. kan mama yang ajarkan kamu untuk bisa membaca Al-Quran, (selalu ajari sendiri anak anda membaca Al-Quran, kecuali jika anda ingin pahalanya mengalir ke orang lain, setiap kali ia membacanya) sampai kamu bisa dengan lancar membacanya. Semoga Allah menghitung pahala dari setiap huruf yang kamu baca, juga untuk Mama. Amin.
Sekarang, mama mau sedikit berbagi pahala denganmu. Andai engkau selesaikan 30 juz hafalanmu, mama berjanji Insha Allah, mama akan belajar menghafal darimu! Agar kelak, engkau bisa mengumpulkan juga pahala dari setiap huruf dari yang mama hafalkan, dan engkau nak, mendapat pahala mengajarkan orang tua menghafal Quran!”.

Janji yang sulit tapi HARUS dipenuhi. Apalagi jika Allah mengizinkan dengan memberi rezeki sehat dan umur panjang dalam keberkahan.

Kalau tidak, mau sampai kapan rakaat-rakaat sholat diisi dengan juz 30 & 29 saja?

Kalau tidak dipaksa, apa yang akan dijawab kehadapan Allah kelak ketika menghadapNYA?

“Eh, anu Allah.. saya sibuk sekali dulu di dunia.. kan ada anak dua, uang juga nggak berlebih, urusan kerjaan, ya kerja rumah, ya kerja untuk membantu mencari rezeki demi sesuap nasi, urusan hidup apalagi ketika ada pandemi..tidak henti-henti. Agak susah untuk mencari waktu untuk bisa menghafal kalamMU”.

Begitu? Really?

Tapi para orang tua punya waktu baca fb bermenit-menit, posting iG sepanjang hari. Ngikutin akun si anu dan si itu dan melihat hal yang lucu-lucu. Atau sekedar melihat resep dan mendengar kajian satu atau dua.

Really?

Sehari se-ayat pun nggak sempet?

Orang tua seharusnya malu pada diri sendiri. Malu pada anak gadis dan bujang yang duduk didepanmu, yang mengharap engkau memberi alasan yang cukup masuk ke nalarnya, kenapa engkau juga tidak menghafal KalamNYA?

Engkau tahu, jawaban yang baru saja engkau berikan padanya, adalah jawaban untuk menenangkan dirimu sendiri bukan untuk menjawab pertanyaan mereka.

Memang yang susah itu tauladan.

Lebih mudah menyuruh daripada melakukan.

Padahal kita tahu bahwa :

(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ)

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. (‘Abasa: 34-36)

wallahu a’lam bis shawab

Wina Risman

#atrulyselfreminder

Leave a Reply

Your email address will not be published.